Polisi telah menangkap sebanyak 17 orang tersangka atas kasus penculikan dan pembunuhan terhadap Kepala Cabang bank di Jakarta yang berinisial MIP.
Diketahui, korban lebih dulu dilakukan penculikan dan kemudian dibunuh di sebuah pusat perbelanjaan di Ciracas, Jakarta Timur, pada 20 Agustus 2025, sekira pukul 14.00 Wib.
Belasan tersangka yang sudah diamankan itu yakni berinisial C alias K, DH, AAM, JP, E, REH, JRS, AT, EWB, MU, DSD, AW, EWH, RS, AS. Lalu, dua lainnya yakni Kopda FH dan Serka N.
1. Motif Tersangka
Dalam kasus itu, ada sejumlah fakta yang sudah dirangkum merdeka.com. Salah satunya yakni terkait motif para tersangka melakukan aksinya.
"Motif dari para pelaku melakukan perbuatannya, yaitu para pelaku atau tsk berencana untuk melakukan pemindahan uang dari rekening dormant ke rekening yang telah dipersiapkan," kata Direktur Reserse Kriminal Umum (Dir Reskrimum) Polda Metro Jaya, Kombes Wira Satya dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/9).
Advertisement
2. Rencanakan Culik Korban
Dalam kesempatan itu, Wira pun menjelaskan kronologi atas tewasnya IP. Kejadian ini diawali pada Juni 2025, dimana terduga pelaku yakni C alias K bertemu dengan DH. Saat itu, C memiliki data rekening dormant pada beberapa bank.
Kemudian, C pun memiliki rencana untuk memindahkan uang dari rekening dormant tersebut ke rekening penampungan yang memang telah disiapkan. Sehingga dalam rencana itu, C sudah menyiapkan tim IT.
Meski begitu, kegiatan tersebut baru bisa dilaksanakan dengan lebih dulu memerlukan persetujuan atau otoritas kepala bank. Selanjutnya, C pun mengajak DH untuk mencari kepala cabang atau cabang pembantu yang bisa diajak bekerjasama dalam memindahkan uang dari rekening dormant ke rekening yang sudah disiapkan atau rekening penampungan.
Beberapa minggu kemudian, C melakukan pertemuan dengan DH serta AAM. Hal tersebut dikarenakan C memiliki informasi terkait data rekening dorman yang ada di bank plat merah tersebut.
"Kemudian, C alias K menyampaikan, karena upaya-upaya sebelumnya untuk mendekati kepala cabang tidak pernah berhasil, maka pekerjaan pergeseran dana tersebut akan berhasil apabila dilakukan dengan 2 opsi ataupun 2 metode," jelasnya.
"Opsi pertama, melakukan pemaksaan dengan kekerasan dan ancaman kekerasan. Setelah itu, korban akan dilepaskan. Kemudian, opsi yang kedua, melakukan pemaksaan dengan kekerasan dan atau ancaman kekerasan. Dan apabila berhasil, maka korban akan dihilangkan atau dalam arti kata, korban akan dibunuh," sambungnya.
Selanjutnya, pada 31 Juli 2025, C bersama dengan DW dan AAM kembali melakukan pertemuan untuk membahas apakah akan dilaksanakan opsi satu ataupun opsi dua. Kemudian, pada 12 Agustus 2025, C bersama dengan DH berkomunikasi melalui WhatsApp dan di dalam komunikasi tersebut, mereka memutuskan untuk memilih opsi satu.
Opsi satu itu yakni melakukan pemaksaan dengan kekerasan ataupun ancaman kekerasan. Setelah itu, korban pun dilepaskan. Lalu, pada 16 Agustus 2025, DH mengajak JP bertemu di salah satu tempat di sekitar Kota Wisata Cibubur.
Pada saat itu juga menanyakan apakah memiliki kenalan dari kelompok preman atau orang yang bisa membantu mereka dalam melaksanakan pekerjaan pada opsi pertama, boleh dari sipil ataupun dari aparat.
"Selanjutnya, pada tanggal 17 Agustus 2025, sekitar pukul 09.00, pelaku atas nama JP menindaklanjuti permintaan saudara DH untuk mendatangi rumah saudara M. Setelah itu, sekitar pukul 20.00 Wib, di salah satu kafe di daerah Kota Wisata Cibubur, dilakukan pertemuan kembali yang dihadiri oleh saudara DH, saudara JP, saudara AAM, dan saudara M," paparnya.
"Jadi dalam pertemuan tersebut ada empat orang yang hadir, dengan tujuan untuk membahas terkait persiapan untuk dilakukan penculikan terhadap korban," tambahnya.
Selanjutnya, pada 18 Agustus 2025, dilaksanakan pertemuan kembali yang dihadiri oleh DH, AAM, JP, dan N di salah satu kafe di Kota Wisata di daerah Cibubur untuk membahas persiapan penculikan.
Advertisement
3. Korban Acak dari Kartu Nama
Polisi mengungkap, MIP merupakan target acak. Bukan secara pribadi. MIP jadi sasaran secara acak setelah komplotan gagal mencari kepala cabang bank yang bisa diajak bekerja sama.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Wira Satya Triputra, menjelaskan, awalnya tersangka DH mencari ke tersangka lain terkait pejabat bank yang bisa diajak kong-kalikong untuk memindahkan aliran uang dari rekening dormant ke rekening penampung.
"Dan temannya hanya memberikan kartu nama sehingga dari situ dilakukan pembuntutan," kata Wira kepada wartawan, Selasa (17/9).
Sementara itu, Kasubdit Jatanras AKBP Abdul Rahim menambahkan, sebelum aksi penculikan terjadi, otak pelaku berinisial K alias C sempat mengajak DH untuk mencari kepala cabang bank yang mau diajak bekerja sama.
"Namun dalam perjalanannya setelah sekian lama, 1 bulan lebih, mereka tidak berhasil mendapatkan kepala cabang bank yang mau diajak kerja sama," kata dia
Karena hal itu, K lalu mengoper data yang dimilikinya di lapangan, berupa kartu nama milik MIP. Data itulah yang kemudian dikirimkan ke DH dan dipakai untuk menelusuri keberadaan korban.
4. Bentuk Tim Penculikan
Di dalam pertemuan itu, DH dan AAM bertugas untuk menyiapkan tim yang akan mencari alamat korban, serta mengikuti korban, di mana dalam tim tersebut terdiri dari tiga orang. Untuk yang pertama adalah R, E, dan B.
"Kemudian, saudara JP, menyiapkan tim untuk membantu membuntuti korban, yaitu dengan inisial saudara AW, serta menyiapkan tim yang akan melakukan penculikan terhadap korban," ucapnya.
"Setelah itu, saudara N menghubungi saudara FH, yang bertugas ataupun yang disiapkan untuk tim yang akan melakukan penculikan terhadap korban," sambungnya.
Kemudian, pada 19 Agustus 2025, sekitar pukul 10.00 Wib, F menghubungi E, dan mereka sepakat bertemu di seputar daerah di Cijantung, Jakarta Timur. Tidak lama setelah itu, E datang bersama B, R, dan A.
Berikutnya, F menunjukkan foto kepada tim E dan lalu memberitahukan untuk menjemput paksa orang tersebut dan mengantarkannya kepada tim yang disiapkan oleh JP.
Selain itu, tim yang memiliki tugas untuk membuntuti dan tim yang bertugas melakukan penculik terhadap korban yakni D dan AAM. Untuk JP diungkapkannya memiliki safe house yang diharapkan untuk bisa memaksa korban melakukan kegiatan pemindahan dana.
"Selanjutnya pada tanggal 20 Agustus 2025, setelah dilakukan pembuntutan terhadap korban, kemudian sekitar pukul 15.30 WIB di parkiran Lotte Mart Pasar Rebo, Jakarta Timur, korban berhasil diculik oleh tim yang berisi pelaku E, R, B, R, dan A," ungkapnya.
"Di mana dalam penculikan tersebut, kelima orang pelaku menggunakan kendaraan Avanza putih. Ini yang terekam di CCTV. Dan selanjutnya setelah melakukan penculikan dibawa pergi untuk diserahkan kepada tim lain, yaitu pelaku JP, N, U, dan D," tambahnya.
Advertisement
5. Dipindahkan ke Mobil Fortuner Hingga Korban Dibuang di Cikarang
Dalam serah terima tersebut, korban yang tadinya di Avanza warna putih digeser ke mobil Fortuner warna hitam, tepatnya di Kemayoran, Jakarta Pusat sekitar pukul 21.00. Berikutnya, dari pukul 21.00, setelah dipenguasaan JT, N, U, dan D, untuk menunggu tim penjemput yang dipersiapkan oleh C yang rencananya akan dibawa ke safehouse yang telah disiapkan.
Akan tetapi, tim penjemput tidak kunjung datang, sedangkan korban kondisinya sudah agak lemas. Akhirnya, korban pun dibuang di daerah Cikarang dalam keadaan kondisi kaki dan tangan masih terikat dan mulut dalam kondisi terlakban atau dilakban.
6. Peran Pelaku Anggota Kopassus
Lalu, untuk dua anggota TNI Angkatan Darat Kopda FH dan Serka N, yang terlibat pada kasus ini berasal dari satuan Kopassus.
"Mereka berasal dari Detasemen Markas Kopassus," kata Danpomdam Jaya Kolonel CPM Donny Agus.
Donny menjelaskan, keduanya dalam status dicari satuannya karena tidak ada kabar saat pembunuhan terjadi. Saat ini, keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.
"Serka N dan Kopda F dalam status sedang dicari, karena tidak hadir tanpa izin," ujarnya.
Peran Kopda FH
Berikutnya, Donny mengungkapkan peran dari Kopda FH dalam kasus ini. Dia diungkapkannya menerima Rp95 juta untuk operasional penculikan.
Tak hanya itu, Kopda FH juga mencarikan tim untuk menculik MIP. FH disebut memberitahu lima orang penculik tentang keberadaan MIP pada Rabu (20/8).
Setelah korban dibawa masuk ke mobil penculik, FH kemudian menghubungi tersangka lainnya yang merupakan otak penculikan, JP. Mereka kemudian bertemu dan korban diserahkan ke JP.
Peran Serka N
Sedangkan, Serka N diduga menjadi perantara antara tersangka JP, yang menjadi bagian klaster otak penculikan, dengan Kopda FH. Serka N disebut menawarkan 'pekerjaan' kepada Kopda FH dengan imbalan sejumlah uang yang diterimanya Rp95 juta.
Serka N juga disebut berperan memastikan lagi keikutsertaan Kopda FH dalam aksi penculikan MIP. Selain itu, ia juga berperan memegangi korban dan menahannya agar korban tidak berontak setelah diculik.
Serka N juga disebut mengambil alih kemudi mobil Fortuner yang di dalamnya terdapat korban. Mereka bergerak ke area persawahan di Bekasi, Jawa Barat. Di sanalah, N dan tersangka JP membuang korban yang sudah dalam kondisi lemas pada Rabu (20/8).
7. Kopda FH Terima Rp95 Juta untuk Operasional Tim Penculik
Pada Rabu (20/8), Serka N bertemu dengan JP di salah satu bank swasta untuk pemberian uang penculikan. Uang itu kemudian diserahkan ke Kopda F.
"Serka N bertemu JP di salah satu bank swasta di Jaktim untuk penyerahan uang senilai Rp95 juta yang akan digunakan untuk kegiatan tersebut. Setelah diterima oleh Serka N, uang itu dibawa dan diberikan kepada Kopda F di sebuah kafe di wilayah Rawamangun," ucapnya.
Setelah menerima uang, Kopda F menghubungi EW untuk bertemu di sebuah kafe. EW datang bersama 4 orang lain berinisial AT, JR, RA, dan EW dengan menggunakan mobil Avanza putih.
Pukul 13.45 WIB, JP memberi info kepada Kopda F bahwa korban berada di sebuah perbelanjaan di Pasar Rebo, Jaktim. Kopda F bersama EW dan 4 rekannya bergerak ke lokasi korban menggunakan 2 mobil berbeda.
"EW memarkirkan kendaraan di samping kendaraan korban. Sekitar pukul 16.30 WIB, saat korban datang, Saudara EW dan A langsung memasukkan korban ke mobil Avanza putih," katanya.