Tak Sekadar Menunggu, Tahu Bulat Jadi Pengisi Perut Para Pejuang Kerja
Di tengah keramaian yang penuh harap itu, seorang pria paruh baya tampak sibuk di balik gerobak sederhana.
Suasana di kawasan Diponegoro, Bandung pada Rabu (13/8) siang, tampak berbeda dari biasanya. Di depan sebuah restoran sushi ternama, puluhan pencari kerja terlihat mengantre panjang, membawa map coklat dan harapan besar akan peluang kerja.
Di tengah keramaian yang penuh harap itu, seorang pria paruh baya tampak sibuk di balik gerobak sederhana. Dialah Wahyu (43), penjual tahu bulat yang hari itu memilih mangkal tak jauh dari lokasi wawancara kerja.
"Sejak pagi," kata Wahyu singkat, saat ditanya sejak kapan ia mulai berjualan di situ.
Tangannya cekatan menaburkan bumbu cabai ke atas tahu goreng pesanan pelanggannya. Selain tahu bulat, Wahyu juga menjajakan camilan lain seperti otak-otak dan bakso goreng dari gerobaknya.
Biasanya, ia berkeliling dari kawasan Dago hingga Lapangan Gasibu. Tapi kali ini, kerumunan orang di depan restoran menarik perhatiannya.
"Tapi tadi lihat di sini ramai. Jadi jualan di sini dulu," ujar dia, sambil melayani pembeli.
Wahyu jujur mengakui bahwa keramaian para pelamar kerja memberinya peluang dagangan cepat laku. Meski tak menyebutkan angka pasti, ia tak menampik bahwa hari itu penjualannya jauh lebih baik.
"Alhamdulillah lumayan juga di sini," ucapnya sambil tersenyum.
Sambil menyiapkan tahu, Wahyu pun ikut mengamati antrean yang mengular. Ia menyebut wawancara kerja tersebut akan berlangsung sampai esok hari, dan jumlah pelamar jauh melebihi pewawancaranya.
"Katanya pihak yang wawancara sedikit tapi yang mau diwawancaranya banyak," katanya.
Di seberang gerobak, seorang pemuda tampak duduk sendiri, menunggu gilirannya. Namanya Imron, 20 tahun, datang jauh-jauh dari Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.
Ia mendaftar untuk posisi Senior Kitchen. Meski tak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang kuliner, pengalaman kerjanya di dapur restoran Marugame Udon jadi modal utama.
"Sebelumnya ada pengalaman di bagian kitchen juga, di Marugame Udon. Kalau sekolah dulu jurusan Teknik Mesin," ujarnya.
Kendati tak sepenuhnya yakin akan lolos, Imron tetap datang dengan semangat. Baginya, mencoba lebih baik daripada diam.
"Susah sepertinya, tapi usaha, ‘kan,” tuturnya.