Sosok Dendi, Korban Meninggal Akibat Tambang Longsor di Gunung Kuda Cirebon di Mata Anak dan Keluarga
Kabar Dendi menjadi korban meninggal diterima keluarga siang hari setelah kejadian.
Fitria Nuraini (15) tak mengira bakal mendapat kabar duka ayahnya Dendi Irmawan (45), menjadi satu dari empat belas korban tewas akibat longsor di tambang Gunung Kuda, Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Jumat (30/5). Siswi kelas 3 SMP itu mengatakan, kabar duka itu pertama kali diterima keluarga oleh kakaknya.
Dia mengatakan kakaknya, Sendi Irawan (24), mengabarkan sekitar pukul 12.00 WIB dan hanya bilang singkat bahwa sang ayah dikabarkan menjadi korban longsoran di tambang Gunung Kuda tempatnya bekerja. Namun saat itu, informasi duka tersebut masih belum dapat dipastikan.
"Keluarga tahu informasi longsor di Cirebon 12 siang. Saya tahu infonya dari kakak, katanya ngasih tahu doain bapak, soalnya belum pasti," kata Fitria saat ditemui di rumah duka di Kampung Sukasari, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (31/5).
Tak lama berselang dari kabar tersebut, Fitria mengaku berita yang tak diharapkan keluarga akhirnya datang. Ayahnya telah dipastikan meninggal dunia.
"Pas dengar itu syok aja, enggak nyangka. Terus kakak saya ke Cirebon sama istrinya,” ujar dia.
Sosok Pekerja Keras
Dalam kenangan Fitria, almarhum Dendi merupakan sosok pekerja keras. Bahkan jika untuk urusan kerja, ayahnya agak sulit diberi tahu. Dia mengatakan ayahnya bekerja di Cirebon sejak tahun 2019 lalu.
"Bapak tuh kalau dikasih tahu susah, jadi enggak bisa diatur. Baik juga orangnya, suka ngaji, bantu orang," kata Fitria.
Selain itu, Fitria juga mengatakan bapaknya telah menikah lagi dengan seorang wanita di Cirebon. Pernikahan itu berlangsung usai almarhum dan ibu kandungnya bercerai. Ibunya pun di Kabupaten Bandung, telah kembali memiliki pasangan.
"Bapak saya di sana sudah nikah lagi dan ibu saya di sini juga sudah nikah lagi. Saya sudah tahu kerjanya di tambang, terus punya warung sama istrinya di sana," kata dia.
Adapun, proses pemakaman Dendi berlangsung pukul 09.00 WIB. Rumah rumah duka pun telah sepi pelayat. Hanya Fitria dengan 2 orang teman sekolahnya masih berbincang.
Fitria melanjutkan bahwa ayahnya dijemput pihak keluarga di rumah sakit pada Sabtu (31/5) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari. Kemudian tiba di kediamannya di Cimenyan pada pukul 03.00 WIB.
Pertemuan Terakhir
Dia mengatakan pertemuan terakhir dengan sang ayah adalah tiga tahun silam. Kendati begitu, almarhum diakui Fitria tetap rutin berkontak dengan dirinya dan mengiriminya biaya, termasuk untuk urusan sekolah.
Fitria bahkan ingat betul, momen terakhir kali ayahnya video call atau menelepon pada bulan lalu. Itu juga untuk mengabari kalau almarhum telah mengirim uang. Sayangnya, saat itu Fitria sedang ujian di sekolah dan ponselnya tak aktif.
"Sering teleponan video call. Aku lagi ujian kemarin sempet nelepon, tapi enggak keangkat. Dia mau ngirim uang, terus suruh telepon balik. Tahunya WhatsApp ke mamah katanya ngirim uang," kata dia.
Sementara itu, sepupu almarhum, Dedi (42) mengatakan bahwa mendiang Dendi Irmawan dikenal sebagai sosok baik dan aktif di masyarakat. Sehingga, kata dia, tak heran banyak orang yang turut takziah saat almarhum dikebumikan.
"Iya tadi juga banyak yang ikut anterin ke sini. Almarhum dikenalnya baik di sini, di Cirebon juga,” ujar Fitria.