Sentilan Warga Bantul Samakan Menu MBG dengan Konsumsi Camilan Rapat Bulanan RT
Zainnudin mengonfirmasi bahwa komposisi menu MBG yang diterima putrinya di sekolah sesuai dengan foto-foto menu MBG yang sedang viral di media sosial.
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan terus menjadi sorotan. Kini srotan datang dari Bantul. Seorang warga bernama Zainnudin bahkan menyamakan menu MBG Ramadan mirip dengan konsumsi camilan rapat bulanan RT (Rukun Tetangga).
Zainnudin mengonfirmasi bahwa komposisi menu MBG yang diterima oleh putrinya di sekolahnya sesuai dengan foto-foto menu MBG yang sedang viral di media sosial.
"Menu MBG jauh dari kata layak, mirip dengan sajian saat rapat bulanan RT. Anak perempuan saya sekolah di SDN di Bangunjiwo yang sejak Senin awal pekan kemarin masuk. Beberapa kali menu yang dibawa pulang hampir sama persis yang ramai di media sosial," ungkap Zainnudin kepada wartawan pada Kamis (27/2).
Selain susu, beberapa menu MBG yang disajikan selama Ramadan terdiri dari pisang, kacang rebus, ubi-ubian, dan roti. Ia menyatakan bahwa menu-menu tersebut sudah disiapkan sejak pagi.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, banyak foto yang diunggah di media sosial mengenai menu kering MBG yang dianggap tidak layak dan bahkan harga per paketnya tidak mencapai Rp10.000.
Kepala BGN DIY Buka Suara
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) DIY, Gagat Widyatmoko, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemantauan dan menerima berbagai laporan dari masyarakat mengenai menu MBG yang berupa menu kering yang diberikan kepada siswa di sejumlah sekolah. Temuan ini menjadi dasar untuk evaluasi dan monitoring dalam layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada Kamis (26/2), Gagat mengawali dengan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat atas perhatian mereka terhadap pelaksanaan program ini.
"Menanggapi tanggapan publik terkait menu kering MBG, kami anggap sebagai perhatian yang sangat wajar dan menjadi bahan evaluasi bagi kami," jelasnya.
Gagat juga menekankan bahwa meskipun disajikan dalam bentuk kering, menu tersebut tetap harus memenuhi standar gizi, aman untuk dikonsumsi, dan tidak boleh disusun secara sembarangan. Ia menjelaskan bahwa skema menu kering diterapkan dalam kondisi tertentu, seperti penyesuaian operasional selama bulan Ramadan atau situasi teknis dalam distribusi.
Dia menekankan bahwa acuan dan prinsip utama yang harus dipegang oleh SPPG dalam penyediaan menu MBG adalah keamanan pangan, kecukupan gizi, dan kelayakan konsumsi. Selain itu, terdapat catatan penting untuk mengoptimalkan serapan dari produk UMKM lokal di sekitar, bukan dari pabrikan atau jenis makanan Ultra-Processed Food (UPF).