Viral di Medsos, Menu MBG Ramadan di Sukabumi Cuma Singkong dan Kurma, Pihak SPPG Buru-Buru Beri Penjelasan

SPPG terkait menyampaikan permohonan maaf dan mengakui adanya kekurangan dalam penyajian informasi mengenai MBG.

Fira Syahrin
Oleh Fira Syahrin - Reporter
Viral di Medsos, Menu MBG Ramadan di Sukabumi Cuma Singkong dan Kurma, Pihak SPPG Buru-Buru Beri Penjelasan
Viral Menu MBG Ramadan di Sukabumi Hanya Isi Singkong dan Kurma (Istimewa) (© 2026 Liputan6.com)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi sumber nutrisi bagi siswa sekolah dasar (SD) di Kabupaten Sukabumi ternyata menimbulkan kekecewaan.

Banyak orang tua murid mengeluhkan menu yang disajikan selama Ramadan, yang dianggap tidak memenuhi standar kelayakan.

Salah satu wali murid, Hariyanto, yang berasal dari Kecamatan Sukabumi, menyatakan rasa terkejutnya saat melihat makanan yang dibawa pulang oleh anaknya yang bersekolah di kelas 1 dan kelas 6 SD.

Dia menemukan bahwa kotak makan tersebut hanya berisi tiga iris singkong dan tiga butir kurma.

Rasa kecewa Hariyanto semakin meningkat ketika dia mencoba makanan tersebut. Menurutnya, kualitas singkong yang diberikan sudah menurun dan tidak segar.

"Saya sempat cicipi singkongnya, rasanya sudah agak asam dan teksturnya licin. Menurut saya, menu seperti ini belum bisa disebut bergizi," ungkap Hariyanto pada Rabu (25/2/2026).

Dia juga menyesalkan pemilihan singkong sebagai menu utama, mengingat bahwa singkong adalah bahan pangan yang murah dan melimpah di daerah tersebut.

Menurutnya, ada standar kepantasan yang harus diperhatikan dalam penyediaan makanan untuk anak-anak sekolah.

"Bukannya tidak bersyukur. Cuma yang agak pantas saja. Kalau singkong, di sini juga banyak," tegasnya.

Keluhan ini kemudian menjadi viral di media sosial dan mendapatkan dukungan dari banyak wali murid lainnya yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap pihak pengelola dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Penjelasan Pihak SPPG

Menanggapi tuduhan yang beredar, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Perbawati segera memberikan penjelasan untuk meredakan kekhawatiran masyarakat.

Muhammad Sona, selaku Kepala SPPG Perbawati, mengungkapkan bahwa kesan licin dan tekstur yang tidak biasa pada makanan tersebut bukanlah indikasi bahwa makanan itu sudah basi, melainkan akibat dari pengentalan vla susu.

Sona menjelaskan bahwa menu yang dimaksud adalah Singkong Thailand yang seharusnya disajikan dengan vla dalam keadaan cair.

Namun, karena adanya kendala teknis di dapur, vla tersebut menjadi sangat kental, sehingga menyerupai bubur sumsum dan mengubah persepsi visual serta rasa ketika dicampurkan dengan singkong.

"Karena terlalu kental, orang tua siswa mengira itu bubur sumsum. Padahal sebenarnya itu vla. Makanya kami masukkan ke plastik klip," jelas Sona.

SPPG Minta Maaf

Pihak SPPG mengakui adanya kekurangan dalam penyajian makanan. Selain masalah tekstur vla yang kurang memuaskan, Sona juga menyampaikan bahwa terdapat keterlambatan dalam distribusi telur yang disebabkan oleh masalah dari pihak pemasok.

Setelah keluhan tersebut viral, unsur Muspika yang meliputi kepolisian, puskesmas, dan dinas pendidikan segera melakukan pengecekan.

Hasil dari koordinasi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada masalah pada kandungan gizi makanan, dan masalah yang ada murni disebabkan oleh teknis pengemasan.

"Kami menyadari bahwa pemorsian yang kurang baik itu menjadi evaluasi bagi kami. Kami mohon maaf atas kesalahan yang terjadi di dapur kami. Di masa mendatang, kami akan memperbaiki proses penyajian agar lebih baik," ungkapnya.

Rekomendasi