Pakar Soroti Pentingnya Kestabilan Nasional Indonesia di Tengah Perang AS-Iran

Di tengah eskalasi perang AS-Iran, seorang pakar hubungan internasional menyoroti urgensi Kestabilan Nasional Indonesia dan peran aktifnya dalam meredakan ketegangan global, seraya menjaga ketahanan domestik.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pakar Soroti Pentingnya Kestabilan Nasional Indonesia di Tengah Perang AS-Iran
Di tengah eskalasi perang AS-Iran, seorang pakar hubungan internasional menyoroti urgensi Kestabilan Nasional Indonesia dan peran aktifnya dalam meredakan ketegangan global, seraya menjaga ketahanan domestik. (AntaraNews)

Pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Chandra Purnama, Ph.D., menekankan pentingnya Indonesia menjaga ketahanan dan kestabilan domestik di tengah ketegangan geopolitik global. Pernyataan ini disampaikan dalam webinar Global Insight Forum (GIF) yang membahas perang antara Amerika Serikat dan Iran pada Sabtu (18/7). Menurut Chandra, Indonesia harus menjadi contoh stabilitas bagi dunia dengan melihat ke dalam dan mempertahankan ketahanan domestik yang kuat.

Salah satu langkah krusial untuk menjaga kondusivitas nasional adalah memastikan stabilitas keamanan pelayaran dan logistik di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Chandra Purnama menegaskan bahwa jalur laut Indonesia tidak boleh menjadi medan pertempuran atau sarana eskalasi ketegangan global. Hal ini penting agar konflik tidak merembet hingga mendekati wilayah tanah air.

Chandra juga menyoroti pentingnya Indonesia untuk tidak mengikuti langkah Iran di Selat Hormuz, seperti wacana pemungutan bea lintas kepada kapal dagang di Selat Malaka yang sempat dilontarkan pejabat nasional. Ia mengamini bahwa tindakan semacam itu harus dihindari. Selain menjaga kestabilan domestik, Indonesia juga diharapkan meningkatkan kontribusinya dalam meredakan konflik global, khususnya perang antara AS dan Iran.

Menjaga Ketahanan Domestik dan Jalur Laut Strategis

Indonesia memiliki kepentingan vital untuk menjaga ketahanan domestik di tengah gejolak global. Pakar hubungan internasional Chandra Purnama menekankan bahwa stabilitas internal adalah fondasi bagi peran Indonesia di kancah internasional. Menguatkan ketahanan domestik berarti memastikan keamanan dan ketertiban di dalam negeri, serta kesiapan menghadapi dampak dari konflik eksternal.

Stabilitas keamanan pelayaran dan logistik di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) menjadi fokus utama dalam menjaga kondusivitas nasional. ALKI merupakan jalur vital bagi perdagangan global, dan setiap gangguan di sana dapat memiliki implikasi luas. Indonesia harus memastikan bahwa jalur lautnya tidak dimanfaatkan sebagai alat eskalasi konflik oleh pihak-pihak yang bertikai.

Chandra Purnama secara tegas menolak gagasan menjadikan jalur laut Indonesia sebagai "senjata ketegangan". Ia merujuk pada respons keras terhadap wacana pemungutan bea lintas di Selat Malaka sebagai contoh tindakan yang harus dihindari. Langkah-langkah seperti ini dapat memperburuk situasi dan menyeret Indonesia ke dalam konflik yang lebih besar.

Peran Aktif Indonesia dalam Meredakan Konflik Global

Selain fokus pada kestabilan domestik, Indonesia juga didorong untuk meningkatkan kontribusinya dalam meredakan konflik global, khususnya perang AS-Iran. Sebagai negara dengan kekuatan menengah (middle power), Indonesia memiliki potensi untuk menginisiasi aliansi yang memperjuangkan kepentingan bersama negara-negara berkembang. Aliansi ini dapat menjadi wadah untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di dunia.

Chandra Purnama mengusulkan agar Indonesia memanfaatkan perannya sebagai salah satu pendiri Gerakan Non-Blok (GNB) untuk menginisiasi sidang darurat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini dapat memberikan platform bagi komunitas internasional untuk mencari solusi diplomatik terhadap konflik AS-Iran. GNB memiliki sejarah panjang dalam mempromosikan perdamaian dan non-intervensi.

Diplomasi pintu belakang juga diidentifikasi sebagai "katup penyelamat" yang efektif dalam meredakan konflik. Melalui dialog non-tradisional, Indonesia dapat memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai untuk mencapai kesepahaman. Pendekatan ini memungkinkan fleksibilitas dan kerahasiaan yang seringkali krusial dalam negosiasi yang sensitif.

Dinamika Konflik AS-Iran dan Dampaknya

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah berlangsung sejak 28 Februari, dengan eskalasi yang terjadi secara berkala. Meskipun sempat ada nota kesepahaman pada 18 Juni untuk mengakhiri permusuhan dan mempersiapkan negosiasi damai, ketegangan kembali memuncak. Serangan balasan antara kedua belah pihak menunjukkan bahwa situasi masih sangat volatil.

Pada 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran, dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim tindakan tersebut sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz. Selat Hormuz adalah jalur pelayaran strategis yang sering menjadi titik panas dalam konflik ini. Insiden ini memperparah ketegangan yang sudah ada.

Sebagai respons, pasukan Iran membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah. Siklus serangan dan balasan ini menciptakan ketidakpastian global dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan keamanan regional. Kondisi ini semakin menggarisbawahi pentingnya peran mediasi dan upaya de-eskalasi dari negara-negara seperti Indonesia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi