Sempat Kehilangan Set, Jannik Sinner Sukses Melaju ke Perempat Final China Open
Jannik Sinner menunjukkan ketangguhan mentalnya di China Open, berhasil mengatasi perlawanan sengit Terence Atmane meski sempat kehilangan satu set. Akankah ia terus melaju?
Petenis muda Italia, Jannik Sinner, berhasil menunjukkan ketangguhan mentalnya saat berlaga di babak kedua turnamen China Open yang berlangsung di Beijing. Ia sukses mengatasi perlawanan sengit dari petenis kualifikasi asal Prancis, Terence Atmane, dalam pertandingan yang berlangsung dramatis. Kemenangan ini memastikan Sinner melangkah maju ke babak perempat final, melanjutkan perjalanannya di turnamen ATP 500 ini.
Dalam duel yang memakan waktu dua jam 22 menit tersebut, Sinner akhirnya mematahkan perlawanan Atmane dengan skor akhir 6-4, 5-7, 6-0. Meskipun sempat kehilangan set kedua, Sinner mampu bangkit di set penentuan. Hasil ini menjadi bukti ketahanan Sinner di lapangan keras, sebuah persiapan penting untuk ambisinya di sisa musim ini.
Pertandingan ini menjadi tantangan tersendiri bagi Sinner, terutama mengingat pertemuan sebelumnya di Cincinnati yang relatif mudah baginya. Namun, di Beijing, Atmane tampil jauh lebih agresif dan memberikan tekanan yang signifikan. Kemenangan ini menjadi modal berharga bagi Sinner untuk menghadapi lawan-lawan berikutnya di turnamen bergengsi ini.
Perjuangan Jannik Sinner Melawan Atmane
Jannik Sinner mengakui bahwa Terence Atmane telah menunjukkan peningkatan performa yang signifikan sejak pertemuan terakhir mereka di Cincinnati. "Gaya permainannya cukup unik dan dia kidal, dan kami tidak punya banyak pemain kidal. Dia pemain yang sangat hebat dan telah berkembang pesat sejak di Cincinnati," ujar Sinner, mengutip dari ATP.
Setelah kalah tipis di set pertama, Atmane berhasil mematahkan servis Sinner sebanyak tiga kali di set kedua, menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Petenis Prancis itu kerap melancarkan pukulan-pukulan akurat yang membuat Sinner kewalahan. Momen ini menunjukkan betapa ketatnya persaingan di babak kedua turnamen sekelas China Open.
Meskipun demikian, Sinner, yang berusia 23 tahun, berhasil meningkatkan agresivitasnya di set penentuan. Ia memanfaatkan kesulitan Atmane yang mulai mengalami kram. "Dia sedikit kesulitan di set ketiga karena kram, tetapi itu adalah pertandingan babak kedua yang sulit dan penuh tantangan," tambah Sinner, menyoroti kondisi lawannya.
Sinner juga mengakui sempat kehilangan fokus. "Saya sempat unggul dua kali dengan break di set kedua dan saya tidak bisa memanfaatkannya, tetapi inilah olahraga dan ini memang wajar. Mungkin konsentrasinya sedikit menurun dan sedikit gugup, tetapi saya sangat senang bisa lolos ke babak berikutnya," jelasnya, menunjukkan kejujuran dalam evaluasi performanya.
Ambisi Jannik Sinner di Peringkat ATP
Sebagai mantan juara Beijing, Jannik Sinner datang ke turnamen ini dengan motivasi tinggi. Pertandingan melawan Atmane adalah yang kedua baginya setelah mengalahkan Marin Cilic di babak pertama, sekaligus pertandingan pertamanya sejak kekalahan dari Carlos Alcaraz di final US Open. Kekalahan tersebut membuat Sinner kehilangan posisi nomor satu di peringkat ATP.
Namun, Sinner bertekad untuk mengejar ketertinggalannya dari rivalnya, Carlos Alcaraz, dalam perebutan gelar No.1 ATP akhir tahun. Ia saat ini tertinggal 2.590 poin dari Alcaraz yang sedang berkompetisi di Tokyo. Setiap kemenangan di China Open menjadi sangat krusial untuk mengumpulkan poin demi ambisi tersebut.
Jannik Sinner memiliki rekor impresif di lapangan keras, dengan 61 kemenangan terakhirnya melawan petenis di luar 10 besar dunia. Ia berharap dapat melanjutkan rekor tersebut saat bertemu petenis peringkat 57 dunia, Fabian Marozsan, di babak perempat final. Marozsan sendiri berhasil mencapai babak delapan besar setelah mengalahkan Alexandre Muller 6-3, 7-6(5).
Perjalanan Pemain Lain di China Open
Selain Jannik Sinner, beberapa petenis lain juga menunjukkan performa gemilang di China Open. Alex de Minaur, misalnya, berhasil mengamankan tempat di perempat final setelah mengalahkan Arthur Rinderknech dengan skor 6-3, 3-6, 7-6(2). Petenis Australia ini telah mencatatkan 33 kemenangan di lapangan keras, memimpin klasemen tur tahun ini.
De Minaur juga telah meraih 15 kemenangan di ajang ATP 500 pada tahun 2025, hanya kalah dari Carlos Alcaraz yang mencatat 17 kemenangan. Ia menargetkan lolos ke ATP Finals untuk tahun kedua berturut-turut, sebuah pencapaian yang menandai konsistensinya. Selanjutnya, De Minaur akan menghadapi unggulan ketujuh, Jakub Mensik, di perempat final.
Jakub Mensik sendiri berhasil mengalahkan petenis Prancis Arthur Cazaux 6-3, 2-6, 6-4. Mensik, yang sebelumnya memenangi gelar ATP Masters 1000 di Miami, berada di posisi ke-17 dalam Live Race To Turin. Meskipun memiliki peluang kecil, ia tetap berjuang untuk mendapatkan tempat di ATP Finals yang akan diselenggarakan pada 9-16 November mendatang.
Sumber: AntaraNews