Ramadhan Hijau Istiqlal: Menag Ajak Umat Rangkul Femininitas dan Lingkungan
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan konsep Ramadhan Hijau Istiqlal pada tarawih pertama, menekankan pentingnya sifat feminin dan kelestarian lingkungan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka bulan suci Ramadhan 1447 H di Masjid Istiqlal, Jakarta, dengan ceramah yang menyoroti konsep "Ramadhan Hijau". Ia menekankan pentingnya sifat feminin dalam beragama dan kelestarian lingkungan. Ceramah inspiratif ini disampaikan saat shalat tarawih pertama di masjid kebanggaan Indonesia tersebut.
Dalam kesempatan itu, Menag Nasaruddin menjelaskan bahwa Allah SWT lebih menonjolkan diri sebagai "the God" yang feminin dan Maha Lembut, bukan "the Lord" yang maskulin. Pesan ini mengajak umat untuk melembutkan hati dan menjinakkan diri selama bulan suci. Konsep ini menjadi landasan bagi perayaan Ramadhan tahun ini di Istiqlal.
Seruan untuk menjadi pribadi yang "hijau" dan peduli lingkungan ini tidak hanya sebatas retorika. Masjid Istiqlal sendiri telah mengimplementasikan berbagai inisiatif ramah lingkungan. Ini menunjukkan komitmen nyata dalam mewujudkan semangat Ramadhan Hijau yang digaungkan.
Menyelami Konsep Femininitas dan Ramadhan Hijau
Menteri Agama Nasaruddin Umar secara lugas menyampaikan filosofi pentingnya sifat feminin dalam spiritualitas Islam. Ia mengibaratkan Allah SWT sebagai entitas yang Maha Lembut, jauh dari sifat maskulin yang cenderung keras. Pesan ini relevan untuk membentuk karakter umat yang lebih peduli dan penyayang.
Konsep "Ramadhan Hijau" yang diusung bukan sekadar slogan, melainkan ajakan untuk introspeksi diri. Menag mengajak jamaah untuk membersihkan hati dan pikiran, serta menjalin persahabatan erat dengan alam semesta. Ini adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang "hijau", bukan "merah" yang identik dengan kemarahan.
Penekanan pada kelembutan dan kepedulian terhadap lingkungan ini menjadi inti dari perayaan Ramadhan di Istiqlal. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif umat Muslim. Dengan demikian, ibadah puasa tidak hanya berdimensi personal, tetapi juga sosial dan ekologis.
Istiqlal Sebagai Pelopor Lingkungan dan Pusat Kegiatan Ramadhan
Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga percontohan dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Menag Nasaruddin menyoroti sistem pembangkit listrik tenaga surya yang terpasang di atap masjid. Inovasi ini telah menarik perhatian dunia dan berhasil menghemat energi secara signifikan.
Selain energi terbarukan, Istiqlal juga menerapkan sistem daur ulang air yang canggih. Seluruh air yang digunakan ditampung dalam bak besar dan diolah kembali, memastikan tidak ada setetes pun yang terbuang sia-sia. Langkah-langkah ini menegaskan komitmen Istiqlal terhadap prinsip Ramadhan Hijau.
Selama bulan suci ini, Istiqlal juga menyelenggarakan berbagai kegiatan rutin yang memperkaya spiritualitas umat. Mulai dari shalat tarawih dengan penampilan Qar'i internasional, kultum dari penceramah populer, hingga peringatan Nuzulul Quran. Acara-acara ini melibatkan tokoh publik dan menteri agama se-Asia Tenggara.
Kebersamaan juga terjalin melalui takbiran yang dilakukan serentak dengan masjid-masjid raya di ibu kota Asia Tenggara. Ini menciptakan suasana persaudaraan yang kuat di antara negara-negara serumpun. Seluruh rangkaian kegiatan ini mengukuhkan peran Istiqlal sebagai mercusuar keagamaan dan lingkungan.
Sumber: AntaraNews