Kementerian Agama (Kemenag) baru-baru ini menggelar acara penting yang menyoroti konsep ekoteologi. Diskusi ini bertujuan untuk mencari solusi atas tantangan krisis iklim yang semakin mendesak. Acara ini merupakan bagian dari program nasional Blissful Maulid yang digagas oleh Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag.
Bincang Syariah Goes To Campus bertajuk "Mawlid For Earth: Sharia and Eco Wisdom" ini berlangsung di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Acara tersebut diadakan pada tanggal 15 September dan menarik perhatian banyak kalangan akademisi. Kemenag ingin mendorong kesadaran spiritual dalam menghadapi kerusakan lingkungan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menjelaskan pentingnya inisiatif ini. Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukan hanya masalah teknis semata. Kemenag berupaya melahirkan gerakan kolektif yang berlandaskan nilai-nilai agama.
Advertisement
Advertisement
Ekoteologi: Solusi Spiritual Hadapi Krisis Lingkungan
Arsad Hidayat menyatakan bahwa kerusakan lingkungan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut kesadaran spiritual. Oleh karena itu, Kemenag mendorong lahirnya gerakan kolektif berbasis nilai agama untuk merespons krisis iklim yang semakin parah. Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran baru di masyarakat.
Dunia saat ini menghadapi krisis lingkungan yang semakin kompleks, ditandai oleh perubahan iklim, banjir, degradasi tanah, hingga deforestasi. Ancaman-ancaman ini secara nyata mempengaruhi kualitas hidup masyarakat global. Kemenag melihat urgensi untuk melibatkan dimensi spiritual dalam penyelesaian masalah ini.
Menurut Arsad, setiap ayat Al Quran dan hadis yang menyinggung pentingnya menjaga bumi adalah panggilan moral bagi umat Islam untuk bertindak nyata. Konsep ekoteologi selaras dengan ajaran Islam yang menekankan keseimbangan dalam segala aspek kehidupan. Hal ini menjadi dasar kuat bagi umat untuk bergerak.
Advertisement
Pelestarian lingkungan harus ditempatkan sejajar dengan upaya menjaga jiwa, akal, agama, keturunan, dan harta. Pendekatan ini sekaligus memperluas dimensi tujuan syariat dalam konteks kekinian. Dengan demikian, ekoteologi Kemenag tidak hanya relevan, tetapi juga fundamental bagi keberlangsungan hidup.
Advertisement
Membangun Relasi Etis Manusia dan Alam
Diskusi interaktif ini juga menghadirkan akademisi filsafat Islam, Dr. Fahruddin Faiz, yang memperdalam refleksi tentang relasi manusia dan alam. Ia menyoroti bagaimana interaksi antara manusia dan lingkungan harus didasari oleh prinsip-prinsip etis yang kuat. Kehadirannya memberikan perspektif filosofis yang mendalam.
Menurut Dr. Fahruddin Faiz, ada tiga prinsip dasar yang penting dalam membangun relasi etis dengan semesta. Prinsip-prinsip tersebut meliputi keragaman sebagai sunatullah, harmoni dan keseimbangan, serta interkonektivitas antara semua elemen kehidupan. Ketiga aspek ini saling terkait dan membentuk fondasi etika lingkungan.
Ia menekankan bahwa jika alam rusak, manusia juga akan terdampak secara langsung. Begitu pula sebaliknya, ketika manusia berlaku semena-mena, ekosistemlah yang akan menanggung akibatnya. Oleh karena itu, keragaman, harmoni, dan interkoneksi harus menjadi dasar dalam memaknai kebersamaan dengan semesta.
Advertisement
Dr. Faiz juga menyoroti bahwa kerusakan lingkungan tidak bisa diselesaikan secara individual, tetapi membutuhkan kesadaran kolektif yang kuat. Apa yang dilakukan satu pihak akan berdampak pada pihak lain, termasuk lembaga dan komunitas. Maka, kesadaran ekologis ini harus dibangun bersama-sama untuk menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews