Puyuh Gonggong Biasa, Fauna Khas Pandalungan yang Terancam Punah
Peneliti Universitas Jember (Unej) mengungkap potensi Puyuh Gonggong Biasa sebagai fauna khas bumi Pandalungan, namun keberadaannya rentan punah dan mendesak untuk dilindungi.
Peneliti Program Studi Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej), Arif Mohammad Siddiq, mengemukakan bahwa burung puyuh gonggong biasa (Arborophilia orientalis) memiliki potensi besar untuk menjadi fauna khas bumi Pandalungan. Burung ini sangat unik dan tidak ditemukan di wilayah lain, menjadikannya aset keanekaragaman hayati yang penting bagi Jawa Timur. Pernyataan ini disampaikan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada Minggu, 14 Juni.
Fauna endemik ini hanya hidup di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri (TNBTS). Keberadaan puyuh gonggong biasa saat ini tergolong rentan terhadap kepunahan (vulnerable), sebuah status yang juga dikonfirmasi oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Minimnya informasi dan pengetahuan masyarakat luas mengenai burung ini menjadi salah satu faktor yang memperparah kerentanannya.
Arif Mohammad Siddiq telah melakukan penelitian intensif selama tiga tahun di wilayah Pegunungan Ijen dan TNBTS untuk mengamati kehidupan puyuh gonggong biasa. Hasil penelitiannya menunjukkan banyak keunikan dari burung ini yang mendukung potensinya sebagai fauna khas bumi Pandalungan. Pentingnya perlindungan dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci untuk menjaga kelestarian spesies langka ini.
Keunikan dan Habitat Endemik Puyuh Gonggong Biasa
Puyuh gonggong biasa dikenal karena suaranya yang melengking dan menyerupai gonggongan anjing, sehingga para pakar burung menjulukinya dengan nama tersebut. Ciri khas suara ini menambah keunikan spesies Arborophilia orientalis yang membedakannya dari burung puyuh lainnya. Burung ini juga memiliki tubuh kekar, kaki pendek, dan bulu abu-abu dengan mahkota hitam serta dahi, pipi, dan tenggorokan putih yang mencolok.
Habitat puyuh gonggong biasa sangat spesifik dan terbatas di dataran tinggi Hyang Argopuro, Pegunungan Ijen, dan Taman Nasional Meru Betiri saja. Spesies ini merupakan endemik di hutan dataran tinggi bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Kondisi geografis ini menjadikan bumi Pandalungan sebagai satu-satunya rumah alami bagi burung yang istimewa ini.
Burung ini hidup berkelompok, biasanya terdiri dari lima hingga lima belas ekor, di wilayah dengan ketinggian antara 500 hingga 2.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Umumnya, mereka ditemukan di ketinggian di atas 1.000 mdpl, aktif mencari makan di pagi dan sore hari menjelang malam di lantai hutan dengan tutupan kanopi pohon yang rapat. Puyuh gonggong biasa adalah burung darat yang pemalu, sering ditemukan berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Ancaman Kepunahan dan Status Perlindungan Puyuh Gonggong Biasa
Meskipun memiliki potensi besar sebagai fauna khas, keberadaan puyuh gonggong biasa saat ini menghadapi ancaman serius. Burung ini diklasifikasikan sebagai 'Rentan' (Vulnerable) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN). Kurangnya informasi yang tersebar luas di masyarakat menyebabkan banyak orang masih asing dengan burung ini, menghambat upaya konservasi.
Ancaman utama terhadap kelangsungan hidup puyuh gonggong biasa adalah hilangnya habitat akibat alih guna lahan dan degradasi lingkungan. Deforestasi, ekspansi pertanian, dan kegiatan penebangan secara signifikan mengurangi area hutan yang menjadi rumah bagi burung ini. Selain itu, perburuan liar juga menjadi faktor penting yang mempercepat penurunan populasinya.
Ironisnya, meskipun statusnya terancam punah, puyuh gonggong biasa belum termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Para peneliti Unej mendesak pemerintah untuk segera memasukkan fauna khas bumi Pandalungan ini sebagai satwa yang dilindungi. Langkah ini krusial untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di masa depan.
Upaya Penelitian dan Pentingnya Konservasi Puyuh Gonggong Biasa
Penelitian yang dilakukan oleh Arif Mohammad Siddiq bersama timnya pada tahun 2021 di Pegunungan Ijen telah mengidentifikasi 57 spesies burung. Sepuluh di antaranya tergolong burung yang dilindungi, seperti burung madu gunung, elang hitam, julang emas, dan cekakak Jawa. Kehadiran puyuh gonggong biasa semakin melengkapi kekayaan alam bumi Pandalungan dan menambah daya tarik wilayah tersebut.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana puyuh gonggong biasa hidup dan berinteraksi di alam liar, Arif menggunakan metode kamera jebak. Melalui penelitian ini, ia juga menemukan hewan lain di wilayah Pegunungan Ijen, termasuk anjing liar atau ajag, merak, hingga macan tutul. Data ini memberikan gambaran komprehensif tentang ekosistem tempat puyuh gonggong biasa hidup.
Para peneliti Unej secara aktif mendorong pemerintah untuk segera memasukkan puyuh gonggong biasa dalam daftar satwa dilindungi. Mereka juga menekankan pentingnya kesadaran masyarakat bahwa menjaga kelestarian alam adalah kewajiban bersama. Peningkatan penelitian dan kajian mengenai puyuh gonggong diharapkan dapat menghasilkan lebih banyak informasi, sehingga masyarakat tergerak untuk melestarikan burung ini sebagai kebanggaan warga Jember dan sekitarnya.
Sumber: AntaraNews