Program Makan Bergizi Gratis Investasi SDM Jangka Panjang
Program ini juga perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja
Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan investasi strategis pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang dampaknya lebih terasa dalam jangka panjang.
"MBG bukan kebijakan yang didesain untuk mendorong lonjakan pertumbuhan dalam waktu singkat. Ini adalah investasi modal manusia yang manfaatnya baru optimal ketika generasi penerima memasuki usia produktif," kata Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti dalam keterangannya, Rabu (11/2).
Ini disampaikan berdasarkan hasil riset INDEF bekerja sama dengan United Nation, Department of Economic and Social Affairs (UNDESA) menggunakan Model Overlapping Generation Indonesia.
Menurutnya, urgensi MBG berkaitan erat dengan tantangan gizi nasional yang masih bersifat struktural. Meski angka stunting menurun, lajunya melambat dan masih berada di atas ambang batas rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Selain itu, anemia pada ibu hamil, risiko kekurangan energi kronis (KEK), serta beban gizi ganda pada anak dan remaja masih tinggi di sejumlah wilayah.
"Persoalan gizi berdampak langsung pada kualitas pendidikan dan produktivitas jangka panjang. Tanpa intervensi serius, kita akan terus menghadapi jebakan produktivitas rendah," ujarnya.
Dalam kajian tersebut, MBG dimodelkan sebagai transfer non-tunai kepada anak usia 0–18 tahun dengan besaran sekitar Rp799.371 per anak per tahun (harga 2025). Pembiayaan diasumsikan berasal dari realokasi belanja sehingga tidak menambah defisit APBN.
Esther menjelaskan, peningkatan produktivitas tenaga kerja terjadi melalui dua jalur utama. "Pertama melalui kanal kesehatan, yang mulai terlihat sekitar dua tahun setelah implementasi, dan kedua melalui kanal pendidikan yang efeknya muncul sekitar enam tahun kemudian," ujarnya.
Secara total, simulasi menunjukkan produktivitas tenaga kerja meningkat sekitar 0,7 persen pada tahun keenam. Produk Domestik Bruto (PDB) terdongkrak moderat dengan puncak kenaikan sekitar 0,15–0,17 persen pada awal 2040-an saat kohort penerima MBG memasuki pasar kerja.
Namun, dalam jangka panjang, PDB kembali ke lintasan keseimbangan semula. "Efeknya tidak permanen pada level output, tetapi yang paling konsisten adalah peningkatan konsumsi rumah tangga dan kesejahteraan antargenerasi," kata Esther.
Konsumsi rumah tangga meningkat sekitar 0,04–0,05 persen dalam jangka panjang. Sementara itu, penawaran tenaga kerja tercatat turun sangat kecil, kurang dari 0,06 persen, terutama di kelompok pendapatan terbawah.
Dari sisi fiskal, INDEF menilai keberlanjutan tetap terjaga selama desain program bersifat netral terhadap defisit. Rasio utang terhadap PDB dalam simulasi tidak mengalami perubahan struktural dan bertahan di kisaran sekitar 50 persen dalam jangka panjang.
INDEF mendorong agar implementasi MBG semakin tepat sasaran, khususnya pada kelompok usia dan wilayah dengan risiko gizi tertinggi. Program ini juga perlu diintegrasikan dengan kebijakan pendidikan dan peningkatan keterampilan tenaga kerja.
"MBG tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada sinergi dengan kebijakan pendidikan, vokasi, dan pasar kerja," tuturnya.
Esther menegaskan evaluasi program sebaiknya tidak hanya berfokus pada serapan anggaran, melainkan pada indikator outcome dan impact jangka panjang.
Terkait survei kepuasan publik sebesar 72,8 persen terhadap MBG, Esther mengingatkan pentingnya membaca angka tersebut secara komprehensif. Ia menambahkan, tingginya kepuasan publik tidak berarti tanpa tantangan implementasi.
Menurut Esther, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari angka survei, tetapi dari konsistensi pelaksanaan, minimnya insiden, serta dampaknya terhadap perbaikan gizi dan ekonomi lokal.
"Survei adalah indikator persepsi. Tetapi tata kelola yang baik adalah fondasi keberlanjutan program," tandasnya.