Prestasi Tak Menjamin Hidup Layak, Kisah Mahasiswi Berbakat yang Terpaksa Mencuri
Kisah kelam nasib dari mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Surabaya itu pun dibagikan oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.
Seorang mahasiswi di Surabaya tertangkap mencuri sebuah barang milik orang lain hingga akhirnya tertangkap polisi. Hasil barang curian itu, disebut telah dijual dan dipergunakannya untuk bertahan hidup ditengah ketidak mampuan ekonominya.
Kisah kelam nasib dari mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Surabaya itu pun dibagikan oleh Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan melalui Instagramnya pribadinya dengan akun @luthfie.daily.
Dalam akun tersebut, terlihat ada tiga orang perempuan yang tengah duduk dihadapan Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.
Dari ketiga perempuan itu, diketahui satu orang merupakan korban pencurian dan seorang perempuan yang didampingi ibunya merupakan pelaku pencurian.
Dialog
Dalam pertemuan itu, terjadi dialog yang menyebutkan tentang latar belakang masalah seorang perempuan yang masih berstatus mahasiswi tersebut tertangkap mencuri barang.
"Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri," ujar mahasiswi tersebut diawal dialog.
"Terpaksa apa gimana kok sampai... (mencuri)?" tanya Kombes Pol Luthfie.
"Nggak ada uang," jawab mahasiswi tersebut menimpali.
Kombes Pol Lutfie lantas menimpali dengan bertanya pada korban.
"Mbak mau pengennya bagaimana?," tanyanya.
"Iya kekeluargaan Pak," ujar korban menjawab.
Jawaban korban
Jawaban korban ini pun membuat sang mahasiswi menangis dan langsung meminta maaf pada korbannya.
"Maaf ya mbak," ujarnya sembari menangis.
Kombes Pol Lutfie lantas kembali bertanya pada sang mahasiswi tentang bagaimana caranya bertahan hidup selama ini. Pertanyaan itu lalu dijawabnya jika selama ini ia bertahan hidup hanya dengan uang Rp200 ribu selama sebulan.
"Rp200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya? Masak gak?," kata Luthfie.
"Masak nasi," jawabnya.
"Lauknya apa biasanya buat makan?," tanya Kombes Pol Luthfie.
"Telur dadar sama mi," timpalnya.
Buruh Tani
Dalam dialog selanjutnya, sang ibu menjelaskan jika ia merupakan seorang ibu rumah tangga dan suaminya hanya bekerja sebagai buruh tani.
"Buruh tani pak," jawab sang ibu.
"Kuliahnya nilainya bagus-bagus nggak," tanya Kombes Pol Lutfie
"IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri," ujar sang mahasiswi.
"Nilai IPK 3.85 itu luar biasa," kata Luthfie.
Prestasi
Mendengar prestasi sang mahasiswi, Kombes Pol Lutfie lalu memberikan bantuan sejumlah uang agar digunakan untuk biaya kos dan kebutuhan lainnya.
"Berjanji tidak lagi mengulangi hal itu. Nanti saya bantu biaya kosan dan bantu orang tua sama adiknya," katanya.
"Makasih Pak," jawab sang mahasiswi sembari menangis memeluk Kombes Pol Lutfie.