Polres Sigi Ajak Lintas Sektor Perkuat Pencegahan Radikalisme Sigi dan Terorisme
Polres Sigi menggandeng pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat untuk memperkuat Pencegahan Radikalisme Sigi dan terorisme setelah berakhirnya Operasi Madago Raya.
Kolaborasi Lintas Sektor dalam Pencegahan Radikalisme Sigi
Kepolisian Resor (Polres) Sigi, Sulawesi Tengah, secara aktif mengajak seluruh elemen lintas sektor untuk bersinergi dalam upaya Pencegahan Radikalisme Sigi dan terorisme. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan paham-paham berbahaya tersebut tidak memiliki ruang gerak di wilayah Kabupaten Sigi. Langkah kolaboratif ini menjadi krusial mengingat kompleksitas tantangan keamanan di daerah tersebut.
Kapolres Sigi AKBP Kari Amsah Ritonga menyatakan bahwa keterlibatan pemerintah daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh agama, tokoh masyarakat, dan Dewan Adat sangat diperlukan. Mereka diharapkan dapat bersama-sama memberikan pemahaman tentang bahaya radikalisme dan terorisme kepada masyarakat luas. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari berakhirnya Operasi Madago Raya pada 31 Desember 2025.
Meskipun operasi besar tersebut telah usai, pihak kepolisian menegaskan bahwa langkah-langkah pengamanan dan pemeliharaan stabilitas tetap menjadi prioritas utama. Dengan demikian, kolaborasi multi-pihak ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan kondusif bagi seluruh warga Sigi. Fokus utama adalah mencegah masuknya ideologi ekstremis yang dapat mengganggu ketertiban sosial.
Strategi Kepolisian Pasca Operasi Madago Raya
Polres Sigi memahami bahwa Pencegahan Radikalisme Sigi tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat penegak hukum. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan menjadi strategi utama. Pemerintah daerah diharapkan dapat mendukung kebijakan dan program yang relevan untuk memperkuat ketahanan masyarakat.
Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh agama sangat vital dalam menyebarkan ajaran agama yang moderat dan anti-kekerasan. Mereka memiliki pengaruh besar untuk membimbing umat agar tidak mudah terpengaruh oleh doktrin radikal yang menyimpang. Tokoh masyarakat dan Dewan Adat juga diharapkan menjadi garda terdepan dalam memonitor dan melaporkan indikasi paham radikalisme di lingkungannya.
Kapolres Ritonga secara khusus meminta tokoh-tokoh ini untuk aktif memantau masyarakat agar tidak terpapar paham radikalisme dan terorisme. Jika ditemukan hal-hal yang mencurigakan, mereka diminta untuk segera menindaklanjuti dengan melaporkan kepada pihak kepolisian. Sinergi ini memastikan bahwa setiap informasi dapat ditangani dengan cepat dan tepat.
Peran Masyarakat dan Efektivitas Deradikalisasi
Berakhirnya Operasi Madago Raya pada akhir tahun 2025 menandai transisi dalam strategi keamanan di Sigi. Namun, hal ini tidak berarti pengawasan terhadap potensi ancaman terorisme dan radikalisme akan mengendur. Kepolisian tetap berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas dan keamanan wilayah.
Untuk memastikan kesinambungan upaya Pencegahan Radikalisme Sigi, Polres Sigi akan mengedepankan peran Bhabinkamtibmas di setiap desa. Mereka akan menjadi ujung tombak dalam mendata, memetakan, dan melakukan pemantauan terhadap wilayah yang pernah menjadi kawasan Operasi Madago Raya. Fungsi intelijen juga akan dioptimalkan untuk deteksi dini.
Selain itu, kegiatan kepolisian rutin akan terus berjalan melalui Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) dan patroli skala besar. Patroli ini akan difokuskan pada wilayah-wilayah yang dianggap rawan terhadap potensi penyebaran paham radikal. Langkah proaktif ini diharapkan dapat mencegah munculnya kembali kelompok-kelompok ekstremis.
Partisipasi aktif masyarakat merupakan fondasi utama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari ancaman radikalisme. Masyarakat diharapkan dapat menjadi mata dan telinga kepolisian, melaporkan setiap aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengganggu ketertiban. Kesadaran kolektif ini sangat penting untuk Pencegahan Radikalisme Sigi yang berkelanjutan.
Sepanjang tahun 2025, upaya deradikalisasi telah menunjukkan efektivitas yang signifikan di Sigi. Sekitar seratusan eks narapidana terorisme dan simpatisan dilaporkan telah kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan humanis dan pembinaan dapat memberikan hasil positif dalam mengembalikan mereka ke jalan yang benar.
Oleh karena itu, penting adanya keterlibatan dan peran aktif masyarakat dalam ikut serta menjaga situasi Kabupaten Sigi tetap aman, damai, dan kondusif. Dengan dukungan penuh dari seluruh elemen, diharapkan Sigi dapat terus menjadi daerah yang stabil dan terhindar dari ancaman paham radikal. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk masa depan yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews