Polisi Dalami Aksi Bjokra 'Sulut', Temukan Data Pribadi Perusahaan dan Pemerintah Luar Negeri
WFT sebelumnya ditangkap atas tuduhan membobol data 4,9 juta nasabah bank swasta dan sempat ia pamerkan di media sosial yang dikelolahnya.
Polisi terus mendalami sepak terjang WFT (23), pemuda yang diketahui sebagai pemilik akun media sosial @Bjorkanesiaaa. Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap aktivitas dan motif di balik penggunaan akun tersebut.
WFT sebelumnya ditangkap atas tuduhan membobol data 4,9 juta nasabah bank swasta dan sempat ia pamerkan di media sosial yang dikelolahnya.
Dari beberapa barang bukti yang disita, polisi menemukan data sebear lima giga yang tersimpan puluhan entitas data pribadi milik berbagai perusahaan seperti bank, kesehatan, sekolah, konstruksi, perusahaan e-commerce. Bahkan ada pula data yang diduga milik pemerintahan luar negeri.
"Datanya bervarisasi dan banyak. Kemarin yang kita diskusikan dengan Law enforcement. Datanya lima giga. Anda banyangkan kalau 5 giga sebesar apa datanya," kata Wakil Direktur Reserse Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus di Polda Metro Jaya, Senin (3/11).
Pemerintah Asing
Menurut Fian, data yang ditemukan itu tidak hanya berasal dari perusahaan dalam negeri. Beberapa di antaranya diduga milik lembaga dan pemerintah asing. Semua sedang diperiksa satu per satu untuk memastikan sumber dan keasliannya.
"Ada dari data kesehatan, data bank dalam maupun luar negeri ada data sekolah, konstruksi, data e-commerce juga ada," ucap dia.
Untuk mendalami temuan ini, polisi akan memanggil para pemilik data atau perwakilan perusahaan yang disebut dalam berkas digital tersebut. Mereka akan dimintai keterangan serta diminta menyerahkan log sistem untuk ditelusuri apakah benar sistem mereka diretas oleh Bjorka atau ada celah kebocoran dari pihak lain.
"Nanti akan kita tindak lanjuti bagimana sistem itu bisa di hack bjorka dan datanya diambil oleh Bjorka. Itu kita panggil entitas/lembaga itu untuk kita periksa," ujar dia.
Polda Metro Jaya
Sementara itu, untuk data yang diduga milik pemerintahan luar negeri, Polda Metro Jaya akan menjalin kerja sama dengan kepolisian internasional.
Negara-negara yang merasa sistemnya ikut dibobol akan diajak berkoordinasi guna membandingkan log sistem serta berbagi data. Langkah ini dilakukan agar bisa dilacak siapa sebenarnya dalang di balik kebocoran data tersebut.
“Itu nanti kita akan kerjasama dengan kepolisiannya sehingga mereka bisa cek ke sistem sistem itu apakah memang terjadi data breach. Kalau terjadi data breach kita akan bekerjasama untuk sharing data, untuk menangkap pelakunya. Apakah dia pelakunya Bjorka yang ini atau ada yang lain pelakunya. Itu akan kita tangkap," ujar dia.
Dia menambahkan, penyidik juga masih menunggu hasil log sistem dari para pemilik data untuk memastikan bagaimana data itu bisa sampai ke tangan Bjorka yang dikenal publik sebagai “Bjorka Sulut”.
Dari situ, polisi akan mengetahui apakah WFT benar pelaku utama atau hanya menadah data dari pihak lain.
"Iya, itu nanti kita tunggu log dari sistem elektronik yang dimiliki masing masing korban tadi. Atau data owner," kata dia.
WFT berawal dari Februari
Diketahui, terungkap sepak terjang WFT berawal dari Februari lalu sebuah akun X alias Twitter dengan nama @bjorkanesiaaa bikin heboh. Akun itu memamerkan tampilan salah satu akun nasabah bank, lalu mengirim pesan langsung ke akun resmi sebuah bank swasta. Si pemilik akun mengklaim sudah menggenggam 4,9 juta data nasabah.
Aksi itu jadi pintu masuk penyelidikan. Bank melapor ke polisi, dan penyidik Siber Polda Metro Jaya pun menelusuri asal-usul data tersebut. Hasilnya mengarah ke WFT. Dia kemudian ditangkap di Desa Totolan, Kecamatan Kakas Barat, Minahasa, Sulawesi Utara pada Selasa, 23 September 2025.