Polda DIY Buka Suara soal Demo Berujung Ricuh dan Pagar Dirobohkan
Unjuk rasa protes aksi brimob aniaya bocah berujung ricuh. Massa merangsek ke halaman Mapolda DIY. Kemudian menggelar salat gaib.
Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) DIY Yogyakarta mencekam. Pendemo yang beraksi sekira pukul 18.00 berujung ricuh, Selasa (24/2).
Pagar pembatas di sisi timur Mapolda dirobohkan massa. Padahal kawat berduri sudah dipasang di sekitarnya. Massa menerobos masuk hingga halaman markas.
Kabaid Humas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, massa mulai berdatangan sekitar pukul 18.00 Wib. Situasi yang awalnya terkendali berubah ketika sekelompok orang diduga melakukan tindakan anarkis.
"Mereka melakukan perusakan pagar sisi timur, kemudian masuk dan diterima Dirintelkam dengan baik," ungkap Ihsan saat dihubungi pada Selasa malam.
Kerusakan pada pagar sisi timur terjadi akibat dorongan dan perusakan yang dilakukan oleh massa. Selain itu, beberapa fasilitas di sekitar halaman Mapolda DIY juga dilaporkan mengalami dampak akibat aksi vandalisme tersebut. Meskipun demikian, pihak aparat tetap berupaya melakukan pengamanan dengan pendekatan yang humanis dan terukur.
Kericuhan
Ihsan sangat menyesalkan terjadinya tindakan anarkis dalam aksi tersebut. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara pihak kepolisian dan para demonstran, serta menyatakan bahwa pihak kepolisian siap menerima perwakilan massa untuk menyampaikan aspirasi mereka dengan cara yang baik.
"Kami imbau massa tidak terprovokasi, dan jangan bertindak anarkis," tegasnya. Menurut Ihsan, tindakan provokatif hanya akan merugikan banyak pihak dan mengganggu tujuan utama penyampaian aspirasi.
Lebih lanjut, Ihsan menyatakan bahwa kepolisian berkomitmen untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat agar tetap kondusif. Ia juga menegaskan bahwa hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat harus dihormati sesuai dengan peraturan yang ada.
Massal Salat Gaib di Halaman Polda DIY Doakan Anak Korban Kekerasan Polisi
Ratusan massa tidak hanya melakukan aksi, tetapi juga melaksanakan salat gaib dan doa bersama di ringroad depan Mapolda DIY. Kegiatan ini merupakan wujud solidaritas terhadap korban kekerasan yang dilakukan aparat di berbagai daerah, serta untuk menyuarakan tuntutan reformasi Polri.
Perwakilan dari massa aksi, Yazi, menyatakan bahwa doa tersebut dipanjatkan khusus untuk para korban yang kehilangan nyawa dalam insiden yang melibatkan kepolisian. Di antara nama-nama yang disebutkan adalah Gamma Rizkynata (17) dari Semarang, Afif Maulana (13) dari Padang, dan yang terbaru, Arianto (14) dari Tual, Maluku, yang meninggal akibat penganiayaan oleh anggota Brimob.
“Ini adalah bentuk mendoakan mereka. Semoga mereka tenang di alam sana dan semoga para polisi itu bisa sadar bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah hal yang salah,” ungkap Yazi di sela-sela aksi pada Selasa malam.
Doa yang dipanjatkan tidak hanya ditujukan untuk korban yang telah meninggal, tetapi juga untuk mereka yang mengalami penangkapan dan tindakan represif selama demonstrasi di bulan Agustus tahun lalu. Yazi juga mengungkapkan nama Perdana Arie Putra Veriasa, seorang mahasiswa UNY yang baru saja dibebaskan dari penjara. Kehadiran Yazi dalam aksi tersebut bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang mendambakan adanya perbaikan dalam tubuh Polri.
“Setidaknya kita berdoa dari hati yang paling dalam, bahwa Allah tidak akan pernah diam. Kita doakan yang terbaik untuk para korban,” katanya. Melalui doa dan aksi ini, mereka berharap agar suara masyarakat dapat didengar dan direspon dengan baik oleh pihak berwenang, serta mengingatkan semua pihak akan pentingnya keadilan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Guratan Protes
Setelah waktu Magrib, massa mulai berdatangan secara bertahap dari arah timur menuju gerbang timur Mapolda DIY. Mereka berjalan kaki dan mengumpul di pintu gerbang, sementara sebagian dari mereka bergerak ke badan jalan Ringroad di depan Polda. Konsentrasi massa terlihat jelas di pintu gerbang, di mana beberapa peserta aksi mulai melakukan coretan di sekitar lokasi dengan berbagai tulisan yang bernada protes. Di antara tulisan tersebut terdapat yang bertuliskan "All Cops Are Bastard" dan "Pembunuh".
Selain itu, massa juga memblokade sisi barat Ringroad gedung Polda. Untuk mengatur arus lalu lintas, water barrier dipasang di jalur lambat dan jalur cepat yang mengarah dari barat ke timur. Akibat pemasangan tersebut, arus lalu lintas terpaksa dialihkan, menyebabkan kemacetan di sekitar area tersebut. Ruang kosong yang berada di depan Mapolda DIY kemudian dimanfaatkan oleh para demonstran sebagai tempat untuk melaksanakan salat dan doa bersama.