PISN UGM dan Warga Sukses Hidupkan Kesenian Janengan Magelang yang Sempat Mati Suri
Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) UGM berhasil menghidupkan kembali Kesenian Janengan Magelang di Dusun Teneran, Magelang, setelah puluhan tahun tak dimainkan. Simak kisah kolaborasi inspiratif ini!
Dusun Teneran, Desa Pucungsari, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kini kembali bergairah dengan lestarinya kesenian tradisional Janengan. Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2025 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menjadi motor penggerak utama. Inisiatif ini berhasil menghidupkan kembali warisan budaya yang nyaris terlupakan.
Kolaborasi apik antara tim akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan warga setempat menjadi kunci keberhasilan program ini. Mereka bahu-membahu menggali dan merevitalisasi Kesenian Janengan Magelang yang sudah 30 tahun tidak dimainkan. Semangat pelestarian budaya lokal membara di tengah masyarakat.
Puncak dari upaya ini adalah pementasan megah dalam Festival Kolaborasa II/2025 di Magelang, Jawa Tengah, Sabtu sore hingga malam hari. Sanggar Seni Turonggo Sekar Gadung, pimpinan Dani Anwar, dengan bangga menampilkan kesenian ini. Acara tersebut disaksikan ratusan warga dan pejabat setempat.
Perjalanan Kesenian Janengan Magelang dari Masa Lalu
Kesenian Janengan merupakan tradisi selawatan yang diiringi syair-syair dakwah islami, dulunya dimainkan secara sederhana. "Kalau zaman dulu dimainkan warga, duduknya melingkar di tikar dalam rumah," ungkap Dani Anwar, pimpinan Sanggar Seni Turonggo Sekar Gadung. Pertunjukan ini sering digelar pada malam hari hingga menjelang subuh untuk hajatan atau nazar.
Namun, seiring berjalannya waktu, kesenian Janengan Magelang ini mulai meredup dan terlupakan. Pementasan terakhir tercatat pada tahun 1989, yang berarti selama sekitar 30 tahun, tradisi ini tidak lagi dimainkan. Kondisi ini membuat warga khawatir akan punahnya warisan budaya mereka.
Dani Anwar menambahkan bahwa tidak ada generasi penerus yang memainkan kesenian ini. Situasi tersebut mendorong tim UGM untuk membantu menggali kembali kekayaan lokal yang sudah lama tidak dimainkan. Upaya ini menjadi angin segar bagi pelestarian budaya di Dusun Teneran.
Kolaborasi PISN UGM dan Warga dalam Revitalisasi
Ketua Tim PISN UGM, Rr Paramitha Dyah Fitriasari, menjelaskan bahwa upaya menghidupkan kembali Janengan adalah kolaborasi unik. Model pelestarian budaya ini melibatkan akademisi, seniman, dan warga setempat. Pendekatan ini jarang terlihat dan terbukti efektif dalam memajukan budaya lokal.
Tim PISN UGM terdiri dari berbagai disiplin ilmu, termasuk Kajian Seni Pertunjukan, Sastra Nusantara, Pembangunan Ekonomi Kewilayahan, dan Tari ISI Yogyakarta. Mereka tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga menciptakan dampak nyata. Tiga kegiatan utama menjadi fokus: digitalisasi warisan budaya, inovasi estetika, dan pemberdayaan ekonomi.
Digitalisasi warisan budaya dilakukan dengan pembuatan website dusun, sementara inovasi estetika meliputi pengembangan kesenian dan kostum. Untuk pemberdayaan ekonomi, lokakarya khusus diadakan bagi PKK dan UMKM setempat. Ini menunjukkan komitmen PISN UGM dalam mendukung masyarakat Dusun Teneran.
Dampak dan Harapan untuk Pelestarian Budaya
Pementasan Kesenian Janengan Magelang dalam Festival Kolaborasa II/2025 berhasil menarik perhatian ratusan warga. Meskipun diwarnai gerimis, pergelaran berjalan lancar dan disaksikan Camat Grabag serta Kepala Desa Pucungsari. Ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap kebangkitan seni mereka.
Dalam pementasan tersebut, Janengan ditampilkan dengan 15 laki-laki penari, diiringi 14 instrumen perkusi dan enam vokalis. Mereka menciptakan gerakan tari dan properti kostum yang memadukan unsur tradisional dengan estetika kontemporer. Ini adalah hasil proses bersama selama beberapa bulan terakhir.
Rr Paramitha Dyah Fitriasari menegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan PISN bukan sekadar kebangkitan satu kesenian. Ini adalah bukti nyata kolaborasi yang mampu menyelamatkan warisan budaya. "Pementasan hari ini menjadi kilas balik memori, melalui sinergi segala pihak," ujarnya.
Model kolaborasi ini diharapkan dapat menginspirasi ratusan tradisi lain di Nusantara yang sedang berjuang untuk bertahan. Paramitha berharap warga terus bersemangat menghidupi Kesenian Janengan Magelang ini. "Harapannya bisa pentas ke manapun," pungkasnya, menunjukkan optimisme untuk masa depan seni ini.
Sumber: AntaraNews