Perkuat Pencegahan Karhutla Gorontalo, Dinas LHK Gelar Pelatihan Manajemen Kebakaran Partisipatif
Dinas LHK Gorontalo perkuat kapasitas Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dalam upaya pencegahan Karhutla Gorontalo. Pelatihan ini krusial hadapi potensi kebakaran 2025 yang tinggi.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif untuk memperkuat kapasitas Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) dalam upaya **Pencegahan Karhutla Gorontalo**. Inisiatif ini bertujuan untuk membekali personel dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan guna menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang semakin meningkat.
Peningkatan kapasitas tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Training Participatory Fire Management yang dilaksanakan di Kota Gorontalo pada hari Sabtu. Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi risiko bencana karhutla.
Program ini didukung penuh oleh Results-Based Payment (RBP) Redd+ Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo, bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) serta Wahana Mitra Mandiri. Kolaborasi ini menunjukkan keseriusan berbagai pihak dalam mengatasi isu lingkungan yang krusial.
Memperkuat Kesiapsiagaan dan Manajemen Lapangan untuk Pencegahan Karhutla Gorontalo
Kepala Dinas LHK Provinsi Gorontalo, Fayzal Lamakaraka, menjelaskan bahwa pelatihan ini sangat vital bagi para peserta yang terdiri dari Polisi Kehutanan, kepala seksi perlindungan hutan, analis hasil hutan, analis adaptasi perubahan iklim, serta unsur DLHK. Program RBP REDD+ merupakan komitmen besar pemerintah Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global, khususnya melalui penurunan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan.
Gorontalo, sebagai salah satu provinsi yang mendapat mandat, dituntut untuk memastikan keberhasilan program ini melalui berbagai kegiatan strategis. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas Participatory Fire Management untuk KPHP dan KPHL. Tujuannya adalah untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan secara cepat dan tepat melalui sinergi aksi yang telah terbentuk di lapangan.
Fayzal Lamakaraka menekankan pentingnya bagi para peserta untuk memperkuat kesiapsiagaan wilayah dan memastikan pengendalian karhutla dilaksanakan secara terencana, terukur, cepat, dan tepat. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada pemahaman konsep kebijakan, tetapi juga pada penguatan manajemen komando lapangan.
Selain itu, peserta juga diajak mempraktikkan penggunaan peralatan pencegahan dan pengendalian karhutla, serta menyusun rencana aksi participatory fire management yang dapat diimplementasikan langsung. Hal ini memastikan bahwa pengetahuan yang didapat dapat langsung diaplikasikan untuk **Pencegahan Karhutla Gorontalo** secara efektif.
Ancaman Karhutla dan Dampaknya di Gorontalo: Data dan Potensi
Fayzal Lamakaraka mengungkapkan data yang mengkhawatirkan terkait karhutla di Gorontalo. Sepanjang Tahun 2024, tercatat lebih dari 612 hektare area terdampak kebakaran. Dari jumlah tersebut, sekitar 608 hektare merupakan kejadian di luar kawasan hutan, sementara kurang lebih lima hektare terjadi di dalam kawasan hutan.
Melihat kondisi ini, potensi kejadian karhutla masih cukup tinggi memasuki Tahun 2025, terutama pada periode musim kemarau. Beberapa wilayah di Gorontalo yang tergolong rawan, seperti Pohuwato, Boalemo, Bone Bolango, dan Kabupaten Gorontalo, memerlukan perhatian khusus dalam upaya **Pencegahan Karhutla Gorontalo**.
Dampak dari karhutla tidak hanya terbatas pada kerusakan ekosistem dan berkurangnya tutupan vegetasi. Lebih jauh, kondisi ini berimplikasi pada terganggunya fungsi daerah resapan air, terancamnya habitat satwa, penurunan kualitas udara, serta potensi meningkatnya emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan. Kerugian ini bersifat jangka panjang dan memerlukan penanganan serius.
Fayzal menegaskan, "Saya ingin menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi dan pencegahan kebakaran hutan tidak hanya bergantung pada dokumen kebijakan, tetapi pada kemampuan kita untuk bergerak cepat, responsif, terkoordinasi dan berbasis data." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya tindakan nyata di lapangan.
Sinergi Lintas Sektoral dan Pendekatan Partisipatif Kunci Pencegahan Karhutla Gorontalo
Di tengah meningkatnya tekanan terhadap kawasan hutan, tantangan kebakaran hutan dan lahan memerlukan sinergi lintas sektoral. Karhutla telah menjadi isu lintas sektor yang memerlukan pendekatan komprehensif, sistematis, dan berbasis kolaborasi dari berbagai pihak. Upaya **Pencegahan Karhutla Gorontalo** tidak bisa dilakukan sendiri.
Oleh sebab itu, pendekatan participatory fire management menjadi sangat relevan dan strategis dalam konteks ini. Pendekatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, masyarakat lokal, hingga lembaga swadaya masyarakat, untuk bersama-sama mengelola risiko kebakaran.
Fayzal menambahkan, "Oleh sebab itu, pendekatan participatory fire management menjadi sangat relevan dan strategis. Ini meningkatkan kapasitas kita dalam mendeteksi dini." Kemampuan deteksi dini yang kuat menjadi kunci untuk merespons kejadian karhutla sebelum meluas dan menyebabkan kerusakan yang lebih parah.
Dengan memperkuat kolaborasi dan memberdayakan masyarakat melalui pelatihan partisipatif, diharapkan Gorontalo dapat lebih efektif dalam mencegah dan mengendalikan karhutla. Hal ini akan berkontribusi pada perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem hutan di wilayah tersebut.
Sumber: AntaraNews