Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, secara tegas mengimbau seluruh pemerintah daerah untuk kembali mengaktifkan kelompok relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Imbauan ini disampaikan guna memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah ancaman musim kemarau yang akan datang. Langkah proaktif ini diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk dari potensi El Niño yang diperkirakan akan menyertai musim kering tahun ini.
Dalam pernyataannya di Jambi pada Sabtu, Menteri Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya peran aktif komunitas lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan. Beliau mendorong para kepala daerah, termasuk gubernur, bupati, dan wali kota, agar segera melaporkan status darurat karhutla di wilayah masing-masing. Pelaporan cepat ini krusial untuk memastikan dukungan operasional dari pemerintah pusat dapat disalurkan secara tepat waktu dan efisien.
Nurofiq juga menegaskan bahwa penetapan status darurat tidak akan mengurangi kredibilitas pemimpin daerah. Sebaliknya, tindakan ini justru akan menyederhanakan proses birokrasi, memungkinkan respons terkoordinasi yang lebih baik. Koordinasi yang kuat antarpihak menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman karhutla yang semakin kompleks setiap tahunnya.
Advertisement
Advertisement
Penguatan Peran Relawan dan Laporan Darurat
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq secara khusus meminta pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang telah terbentuk di berbagai wilayah. “Kepala daerah didorong untuk mengaktifkan kembali kelompok Masyarakat Peduli Api yang telah dibentuk di seluruh wilayah,” ujarnya di Jambi pada Sabtu. Pengaktifan kembali relawan ini merupakan strategi penting dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara dini. Keberadaan MPA diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam deteksi dan penanganan awal api.
Selain itu, para gubernur, bupati, dan wali kota diinstruksikan untuk tidak ragu melaporkan status darurat karhutla. Pelaporan status darurat ini sangat vital untuk mempercepat penyaluran bantuan dan dukungan operasional dari pemerintah pusat. “Menyatakan status darurat seharusnya tidak menjadi kekhawatiran, karena tidak mengurangi kredibilitas pemimpin daerah. Sebaliknya, ini membantu menyederhanakan proses birokrasi untuk respons terkoordinasi,” tambahnya.
Nurofiq menekankan bahwa penetapan status darurat bukan cerminan kegagalan, melainkan langkah strategis untuk mengoptimalkan respons. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam memastikan koordinasi lintas sektor berjalan lancar. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi esensial dalam menghadapi tantangan karhutla yang semakin meningkat.
Advertisement
Advertisement
Antisipasi El Niño dan Koordinasi Konsesi
Menteri Hanif Faisol Nurofiq juga mendesak para gubernur untuk mempererat koordinasi dengan para pemegang konsesi. Diskusi mengenai langkah-langkah pencegahan kebakaran lahan harus menjadi prioritas, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020. Keterlibatan aktif dari pihak konsesi sangat dibutuhkan mengingat luasnya area yang mereka kelola.
Berdasarkan proyeksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan bertepatan dengan fenomena El Niño lemah. Meskipun El Niño diprediksi tidak terlalu kuat, kombinasi dengan musim kemarau yang sedikit lebih panjang berpotensi menciptakan kondisi berbeda dibandingkan tahun 2025. Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak.
Kementerian Lingkungan Hidup terus memantau perkembangan cuaca dan iklim untuk memberikan informasi akurat kepada daerah. Data BMKG menjadi acuan penting dalam merencanakan strategi mitigasi risiko kebakaran. Kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak El Niño menjadi kunci untuk mencegah eskalasi karhutla.
Advertisement
Advertisement
Data Karhutla dan Sistem Informasi Terpadu
Data terbaru menunjukkan bahwa total area yang terdampak kebakaran hutan dan lahan di seluruh Indonesia telah mencapai 32.600 hektar. Angka ini hampir dua puluh kali lipat lebih tinggi dibandingkan 1.500 hektar yang tercatat pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan drastis ini mengindikasikan urgensi penanganan yang lebih serius.
Sebagian besar area yang terbakar berlokasi di Riau dan Kalimantan Barat, menjadikan kedua provinsi ini sebagai fokus utama perhatian. Menteri Lingkungan Hidup menyerukan koordinasi dan kesiapsiagaan yang lebih kuat di antara semua pemangku kepentingan. Pencegahan dini dan respons cepat di wilayah-wilayah rawan sangatlah krusial.
Untuk mendukung pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup secara rutin memperbarui sistem informasi terpadu terkait tinggi muka air tanah gambut setiap hari Senin. Informasi ini memungkinkan pemantauan yang lebih efektif di tingkat lokal. Data tersebut diharapkan dapat membantu instansi terkait, termasuk BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dalam implementasi langkah-langkah seperti modifikasi cuaca guna memitigasi risiko kebakaran.
Advertisement
Sumber: AntaraNews