Peringatan Badan Geologi Usai Gempa Nabire: Waspada Bahaya Lanjutan
Gempa berkekuatan magnitudo 6,6 terjadi di Nabire, Papua Tengah, pada Jumat, 19 September 2025, sekitar pukul 01:19:50 WIB.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menginformasikan bahwa gempa Nabire yang terjadi dengan magnitudo 6,6 pada kedalaman 24 km pada hari Jumat, (19/9), pukul 01.19 WIB, diduga terkait dengan aktivitas Pensesaran Naik Weyland (Weyland Overthrust) di kawasan Nabire, Papua Tengah.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Muhammad Wafid, menjelaskan bahwa mekanisme gempa ini merupakan sesar naik yang bergerak dari barat daya ke timur laut dengan kemiringan 36 derajat ke arah tenggara.
Menurut laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), guncangan yang ditimbulkan oleh gempa ini dirasakan dengan intensitas V MMI di Nabire, IV-V MMI di Wasior, III-IV MMI di Enarotali, III MMI di Timika, serta II - III MMI di Biak dan Supiori.
Wafid menambahkan bahwa daerah tersebut termasuk dalam zona rawan bencana gempa bumi dengan tingkat intensitas menengah hingga tinggi.
"Kejadian gempa ini berpotensi menyebabkan kerusakan di wilayah Nabire, namun tidak berisiko memicu tsunami karena pusat gempa berada di darat," jelasnya dalam keterangan tertulis.
Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber media menunjukkan bahwa gempa bumi ini telah mengakibatkan kerusakan pada beberapa bangunan di daerah Nabire.
"Gempa ini berpotensi menyebabkan kerusakan bangunan serta bahaya ikutan seperti retakan tanah, likuefaksi, dan longsor. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk melakukan pemeriksaan mandiri terhadap kondisi bangunan mereka setelah terjadinya gempa," tambah Wafid.
Kondisi geologi pusat gempa punya pengaruh kekuatan dan dampaknya
Wafid menginformasikan bahwa pusat gempa bumi terletak di darat, tepatnya di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah.
Di sekitar lokasi pusat gempa, kondisi morfologi bervariasi, mulai dari dataran, bergelombang, hingga perbukitan.
"Masyarakat diimbau untuk memperhatikan dan mengikuti rambu evakuasi serta menjauhi daerah tebing yang berisiko mengalami gerakan tanah, terutama saat hujan. Bangunan yang berada di daerah rawan gempa diharapkan mengikuti standar bangunan tahan gempa untuk meminimalisir risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi," ujar Wafid.
Wafid juga menjelaskan bahwa kondisi geologi di sekitar pusat gempa didominasi oleh berbagai jenis batuan, termasuk batuan sedimen, batuan sedimen karbonat, batuan malihan, dan batuan terobosan yang berumur Paleogen, serta batuan sedimen berumur Neogen dan Kuarter, ditambah endapan aluvium yang berumur Holosen.
Batuan yang telah mengalami pelapukan dan sedimen permukaan dapat meningkatkan intensitas guncangan gempa.
Kekerasan batuan permukaan sangat dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan tersebut. Batuan yang lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan cenderung memiliki kekerasan yang lebih rendah, sedangkan yang lebih tua biasanya lebih keras.
"Wilayah yang dekat dengan pusat gempa diklasifikasikan ke dalam kelas tanah keras (C), tanah sedang (D), hingga tanah lunak (E)," jelas Wafid.
Menurut data dari BMKG, pusat gempa bumi terletak di darat pada koordinat 3,47 derajat LS dan 135,49 derajat BT, berjarak sekitar 12 km Baratdaya dari Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, dengan magnitudo M 6,6 pada kedalaman 24 km.
Di sisi lain, lembaga geologi The United States Geological Survey (USGS) mencatat bahwa pusat gempa bumi berada pada koordinat 3,61 derajat LS - 235,53 derajat BT, dengan magnitudo M 6,1 dan kedalaman 10 km.
Selain itu, catatan geologi dari Geoforzung Potsdam (GFZ) Jerman mencatat pusat gempa pada koordinat 3,51 derajat LS - 135,52 derajat BT, dengan magnitudo M 6,1 dan kedalaman 30 km.
Gempa dengan kedalaman dangkal
Pada hari Jumat, 19 September 2025, pukul 01.19.50 WIB, Nabire di Papua Tengah diguncang oleh gempa dengan magnitudo (M) 6,6.
Menurut Direktur Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, gempa ini termasuk dalam kategori gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas sesar anjak Weyland.
"Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust fault)," ujarnya.
Daryono juga menjelaskan bahwa dampak gempa ini dirasakan di beberapa daerah dengan skala intensitas yang berbeda.
Di Nabire, skala intensitas yang terukur adalah V MMI, sedangkan di Wasior tercatat IV-V MMI. Selain itu, Enarotali mengalami skala intensitas III-IV, Timika III MMI, dan Biak serta Supiori masing-masing dengan skala intensitas II-III.
"Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami," tambahnya.
Hingga pukul 01.47 WIB, BMKG melaporkan adanya empat aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo terbesar M4,2.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Agar terhindar dari bahaya, Daryono mengingatkan agar warga menjauh dari bangunan yang mungkin mengalami kerusakan akibat gempa.
"Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal anda cukup tahan gempa, ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum anda kembali ke dalam rumah," imbaunya.
Persiapkan diri untuk menghadapi gempa bumi
Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diambil sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi. Sebelum Gempa: - Pastikan struktur dan lokasi rumah Anda aman dari risiko yang ditimbulkan oleh gempa, seperti longsor atau likuefaksi. Lakukan evaluasi dan renovasi pada bangunan Anda untuk mengurangi risiko gempa bumi. - Kenali lingkungan kerja Anda dengan baik, termasuk posisi pintu, lift, dan tangga darurat. Penting juga untuk mengetahui tempat paling aman untuk berlindung. - Pelajari teknik pertolongan pertama (P3K) dan cara menggunakan alat pemadam kebakaran. - Catat nomor telepon penting yang dapat dihubungi saat gempa bumi terjadi. - Atur perabotan agar terpasang dengan kuat pada dinding untuk menghindari jatuh atau bergeser saat gempa. - Tempatkan benda berat di bagian bawah dan periksa kestabilan benda yang tergantung agar tidak jatuh saat gempa. - Simpan bahan mudah terbakar di tempat yang aman dari pecahan agar terhindar dari kebakaran. - Pastikan untuk mematikan air, gas, dan listrik jika tidak digunakan. - Siapkan alat penting seperti kotak P3K, senter, radio, makanan suplemen, dan air.
Saat Terjadi Gempa Bumi: - Jika Anda berada di dalam bangunan, lindungi kepala dan tubuh Anda dari reruntuhan dengan bersembunyi di bawah meja atau mencari tempat aman dari guncangan. Jika memungkinkan, segera keluar dari bangunan. - Jika berada di luar, jauhi bangunan, tiang listrik, dan pohon. Perhatikan tempat pijakan Anda dan hindari area yang mungkin mengalami rekahan tanah. - Jika Anda mengemudikan mobil, segera keluar dan menjauh dari kendaraan untuk menghindari pergeseran atau kebakaran. - Jika Anda berada di pantai, segera menjauh dari pantai untuk menghindari tsunami. - Jika tinggal di daerah pegunungan, hindari area yang rawan longsor saat gempa terjadi.
Setelah Terjadi Gempa Bumi: - Jika Anda berada di dalam bangunan, keluar dengan tertib; jangan gunakan tangga berjalan atau lift, gunakan tangga biasa. Periksa apakah ada yang terluka dan lakukan P3K. Hubungi bantuan jika ada yang mengalami luka parah. - Periksa lingkungan sekitar Anda untuk memastikan tidak ada kebakaran, kebocoran gas, atau hubungan arus pendek listrik. Periksa juga aliran dan pipa air untuk memastikan tidak ada yang berbahaya. - Jangan masuk ke dalam bangunan yang terkena gempa karena kemungkinan ada reruntuhan. - Hindari berjalan di sekitar daerah gempa, karena bahaya susulan mungkin masih ada. - Dengarkan informasi tentang gempa dari radio untuk mengetahui kemungkinan gempa susulan. Jangan mudah percaya pada isu atau berita yang tidak jelas sumbernya. - Isi angket yang diberikan oleh instansi terkait untuk mengetahui tingkat kerusakan yang terjadi. - Tetap tenang dan jangan lupa berdoa kepada Tuhan demi keselamatan kita semua.