Pergerakan Tanah Blora Rusak Tiga Rumah Warga, Diduga Akibat Gerusan Sungai Lusi
Tiga rumah warga di Dukuh Sambiroto, Blora, mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah Blora yang diduga dipicu gerusan aliran Sungai Lusi dan air bawah tanah, menimbulkan kekhawatiran warga.
Pergerakan tanah yang berlangsung cukup lama telah menyebabkan kerusakan serius pada tiga rumah warga di Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Kondisi ini diduga kuat akibat gerusan aliran Sungai Lusi dan adanya aliran air di dalam tanah yang memicu penggerusan dari bawah permukaan. Warga setempat kini menghadapi ancaman kerusakan lebih parah jika tidak segera ada penanganan.
Insiden ini, yang telah berlangsung dan masih terus terjadi hingga saat ini, menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi penduduk setempat, terutama mereka yang rumahnya terdampak langsung. Upaya mandiri warga untuk menahan laju pergerakan tanah dengan pengurukan setiap hari belum membuahkan hasil signifikan, membuat mereka berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah.
Salah satu warga, Nur, menjelaskan bahwa pergerakan tanah ini sudah berlangsung lama dan belum berhenti, sementara warga lain, Janarto, mengungkapkan bahwa tanah di sekitar rumahnya amblas sekitar dua sentimeter setiap hari. Kerusakan parah terlihat pada bangunan rumah, mulai dari tembok jebol, lantai pecah, hingga pondasi dan tiang penyangga yang bergeser lebih dari 20 sentimeter.
Dampak Pergerakan Tanah dan Upaya Mitigasi Warga di Blora
Warga Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto, Blora, menghadapi kerusakan struktural yang signifikan pada rumah mereka akibat pergerakan tanah yang terus-menerus. Dinding rumah jebol, lantai retak dan pecah, serta pondasi dan tiang penyangga bergeser lebih dari 20 sentimeter, memaksa warga menambal sementara dengan terpal dan kayu bekas.
Janarto, salah satu warga terdampak, menduga kuat adanya aliran air atau sungai bawah tanah yang menjadi penyebab utama pergerakan tanah ini, diperkuat dengan pengalaman pengeboran sumur yang justru kehilangan sumber air. Area tanah yang terdampak berada pada kedalaman sekitar 1,5 meter dari permukaan tanah, dengan panjang sekitar 200 meter, tidak jauh dari aliran Sungai Lusi.
Meskipun warga telah berupaya keras melakukan pengurukan tanah setiap hari untuk menahan laju pergerakan, kondisi tanah tetap saja bergerak dan kerusakan terus bertambah. Upaya mitigasi mandiri ini menunjukkan keputusasaan warga dalam menghadapi bencana alam yang tak kunjung berhenti di wilayah Blora tersebut.
Respons Pemerintah Daerah dan Tantangan Penanganan Pergerakan Tanah Blora
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Blora, Surat, membenarkan telah menerima laporan awal mengenai pergerakan tanah yang berdampak pada rumah warga. Pihaknya segera berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blora serta Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana untuk penanganan lebih lanjut.
Meski demikian, Dinas PUPR Blora belum menerima laporan resmi secara tertulis dari pemerintah desa setempat, yang menjadi kendala dalam proses penanganan prioritas. Surat mendorong pemerintah desa untuk segera menyusun laporan resmi dan menyampaikannya kepada BPBD dengan tembusan ke Dinas PUPR agar dapat dikompilasi dan dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Penanganan pergerakan tanah ini diperkirakan membutuhkan alokasi anggaran yang tidak sedikit, sehingga pelaksanaannya harus bertahap dan kemungkinan masuk dalam tahun anggaran berikutnya. Dinas PUPR Blora meminta masyarakat untuk bersabar, sembari menyebutkan bahwa mitigasi awal dan penanganan sementara telah dilakukan pada tahun sebelumnya untuk mengurangi risiko dampak yang lebih besar.
Sumber: AntaraNews