Fenomena tanah bergerak di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dilaporkan semakin mengkhawatirkan. Pergerakan tanah ini menyebabkan munculnya rekahan baru yang kini berjarak sangat dekat dengan permukiman warga. Kejadian ini telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan penduduk setempat.
Kapolsek Banjarejo, AKP Gembong, pada Jumat (02/1) menjelaskan bahwa pergerakan tanah ini menyebabkan penurunan permukaan tanah. Kedalaman penurunan bervariasi antara 40 hingga 50 sentimeter di sejumlah titik terdampak. Dampak meluas hingga ke area yang sebelumnya tidak terpengaruh.
Sedikitnya tiga rumah dan kandang ternak warga telah terdampak langsung oleh fenomena ini. Dua rumah di antaranya mengalami kerusakan paling parah, dengan tembok yang dilaporkan turun sekitar 50 sentimeter. Lokasi terdampak berada di sekitar Dukuh Sambiroto, Desa Buluroto.
Advertisement
Advertisement
Pergerakan tanah di Desa Buluroto tidak hanya terjadi di lokasi lama, tetapi juga meluas ke sisi-sisi lain. Rekahan baru muncul hanya berjarak sekitar 1 meter dari rekahan sebelumnya. Kondisi ini semakin mendekati area permukiman warga, menimbulkan rasa cemas yang mendalam.
Kapolsek Banjarejo AKP Gembong mengonfirmasi bahwa area terdampak kini mencapai sekitar 200 meter panjangnya. Pergerakan tanah Blora kini cenderung meluas secara horizontal, bukan lagi hanya memanjang. Hal ini mempercepat ancaman terhadap infrastruktur dan bangunan di sekitarnya.
Beberapa warga telah merasakan langsung dampak dari fenomena tanah bergerak Blora ini. Penurunan permukaan tanah yang signifikan terjadi hampir setiap hari. Saat hujan deras, penurunan bisa mencapai sekitar 5 cm, memperparah kerusakan yang ada.
Advertisement
Advertisement
Peniwati, salah satu warga terdampak, menceritakan pengalamannya harus menguruk bagian belakang dapur rumahnya. Selama sebulan terakhir, ia menggunakan satu unit mobil colt dan satu truk material untuk mengisi bagian yang amblas. Lokasi yang diuruk memiliki panjang sekitar 7 meter dan lebar 5 meter.
Warga lain, Nur Hidayah, juga melaporkan bahwa tanah di sekitar rumahnya mengalami amblas dengan panjang sekitar 6 meter dan lebar 4 meter. Sahid, warga terdampak lainnya, mengalami kerusakan pada lahan miliknya sepanjang 12 meter dan lebar sekitar 9 meter. Kerusakan ini menunjukkan skala pergerakan tanah Blora yang signifikan.
Penduduk sekitar mengingat bahwa peristiwa serupa pernah terjadi pada tahun 1998. Kala itu, tanah ambles hingga kedalaman sekitar 2 meter. Pergerakan tanah saat itu juga tidak mengarah ke sungai, melainkan ambles secara vertikal ke bawah. Lantai rumah warga juga dilaporkan mengalami retak-retak akibat kejadian tersebut.
Advertisement
Advertisement
Merespons keluhan warga, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Blora telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana. Pergerakan tanah ini diduga kuat dipicu oleh gerusan aliran Sungai Lusi yang berada di dekat lokasi. Koordinasi ini diharapkan dapat menemukan solusi jangka panjang.
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Blora, Surat, menyatakan bahwa inspeksi lapangan bersama BBWS Pemali Juana akan dilakukan pekan depan. Inspeksi ini bertujuan untuk memastikan penyebab pasti pergerakan tanah dan merumuskan langkah penanganan yang tepat. Pemerintah daerah serius menangani masalah tanah bergerak Blora ini.
Meskipun demikian, Surat menambahkan bahwa pihak desa belum menyampaikan laporan resmi terkait kejadian ini kepada Dinas PUPR Kabupaten Blora. Warga seperti Sahid berharap pemerintah desa dan instansi terkait segera meninjau lapangan serta melakukan kajian teknis. Hal ini penting untuk penanganan yang cepat dan efektif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews