Penyebab Kebakaran Kapal TB Batara VII di Sampit Masih Diselidiki
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit masih menyelidiki penyebab kebakaran kapal TB Batara VII yang terjadi di area docking, menyisakan duka dan korban jiwa.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit menyatakan bahwa penyebab pasti kebakaran kapal TB Batara VII masih dalam tahap penyelidikan pihak berwenang. Insiden tragis ini terjadi di sebuah area docking yang berlokasi di Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur pada Sabtu (28/3).
Pihak KSOP Sampit terus berkoordinasi erat dengan berbagai instansi terkait untuk penanganan lebih lanjut pasca-kejadian. Musibah kebakaran ini telah mengakibatkan satu orang menderita luka-luka, satu orang meninggal dunia, dan satu orang lainnya masih dalam pencarian hingga saat ini.
Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli (KBPP) KSOP Kelas III Sampit, Capt. Indra Novel, menegaskan komitmen mereka dalam berkoordinasi untuk penanganan lanjutan di lapangan. Penyelidikan mendalam diperlukan untuk mengungkap seluruh fakta di balik kebakaran yang menimbulkan korban jiwa ini.
Fokus Penyelidikan dan Korban Kebakaran
Penyelidikan atas insiden kebakaran kapal TB Batara VII menjadi prioritas utama bagi pihak berwenang. Meskipun api telah berhasil dipadamkan, fokus kini beralih pada pengungkapan penyebab kebakaran dan penanganan dampak yang ditimbulkan.
Musibah ini menyisakan duka mendalam dengan adanya korban jiwa dan luka-luka. Satu orang pekerja ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara satu orang lainnya masih dinyatakan hilang dan terus dalam pencarian tim gabungan.
Pimpinan PT Nusantara Docking Sejahtera, Seftervianus Franklin atau akrab disapa Hansen, menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban atas musibah ini. Ia juga mengapresiasi dukungan semua pihak dalam penanganan kejadian tersebut.
Kronologi dan Upaya Pemadaman Api
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam, menjelaskan bahwa informasi awal mengindikasikan kebakaran terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Kebakaran ini disertai suara ledakan yang sempat membuat panik warga sekitar.
Warga menduga pemicunya adalah sambaran petir karena saat itu sedang gerimis, namun dugaan awal dari keterangan masyarakat setempat menyebutkan sambaran petir mengenai mesin pompa tongkang yang kemudian menimbulkan ledakan dan api.
Upaya pemadaman melibatkan satu peleton personel BPBD bersama tim pemadam kebakaran gabungan dari berbagai instansi. Proses pemadaman sempat terkendala karena adanya dugaan bahan bakar minyak di kapal yang terbakar, membuat api sulit dipadamkan.
Situasi kebakaran akhirnya dapat dilokalisir sekitar pukul 20.15 WIB dan pendinginan dilakukan hingga api benar-benar padam sekitar pukul 20.30 WIB. Korban luka segera mendapatkan pertolongan, sementara jasad korban meninggal ditemukan saat penyisiran.
Sinergi Penanganan Insiden di Lapangan
Kepala KSOP Kelas III Sampit, Hotman Siagian, memberikan apresiasi tinggi atas aksi cepat, sinergi, dan kekompakan seluruh instansi terkait dalam penanganan pemadaman kebakaran kapal. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi musibah.
Hotman menekankan bahwa fokus utama saat kejadian adalah memadamkan api, dan semua pihak telah berusaha maksimal. Ia menilai insiden ini sebagai musibah yang tidak diinginkan siapa pun, sehingga penanganannya membutuhkan kerja sama semua pihak.
Sinergi dan kolaborasi yang apik antara instansi-instansi menunjukkan kebersamaan dalam memberikan tenaga untuk menangani kejadian ini. Hal ini penting untuk memastikan penanganan yang efektif dan meminimalisir dampak lebih lanjut dari insiden tersebut.
Sumber: AntaraNews