Pengalaman Buruk Belum Sirna, Penyintas Covid Cemas Jika Indonesia Kembali Lockdown
Hafiz merasa kenangan buruk ketika Covid masih ia rasakan. Fisiknya terasa lebih mudah lelah.
Notifikasi berita di ponsel Hafiz (29) menampilkan lonjakan kasus Covid-19 yang kembali meningkat di Asia. Tubuhnya otomatis merinding. Ia bukan hanya takut tertular. Namun, khawatir kembali ke masa-masa yang hampir membuatnya menyerah.
Memorinya masih ingat betul saat terkena varian Delta yang menggila pada 2021 silam.
"Ingat banget. Tahun 2021, waktu kena Covid varian Delta. Sesak napas, demam tinggi, isolasi sendirian. Yang paling bikin trauma itu rasa sepi," cerita Hafiz kepada Merdeka.com, Rabu (4/6).
Hafiz adalah salah satu dari jutaan penyintas Covid-19 di Indonesia. Meski pemerintah mengonfirmasi adanya kasus yang kecil, memori masa lalu itu kembali menghantui.
Kementerian Kesehatan mencatat ada tujuh kasus Covid-19 pekan lalu. Kasus tersebut tercatat pada minggu ke-22 tahun 2025 tepatnya tanggal 25 Mei-31 Mei.
Data ini dilihat berdasarkan laman resmi Infeksi Emerging Kemenkes RI yang Selasa, 3 Juni 2025 sore. Dari data tersebut juga terlihat ada satu kasus sembuh dari infeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.
Pada 23 Mei 2025 Kemenkes mengeluarkan Surat Edaran tentang Kewaspadaan terhadap Peningkatan Kasus Covid-19. Seperti diketahui terjadi kenaikan kasus Covid-19 di beberapa negara Asia seperti Hongkong, Thailand, Singapura yang membuat Kemenkes meningkatkan kewaspadaan.
Stigma Mengerikan
Meski belum ada wacana resmi soal pembatasan kegiatan, kekhawatiran Hafiz mulai terasa. Dia tak ingin pemerintah menerapkan lockdown karena mempengaruhi mata pencariannya.
"Tapi tetap aja, ada rasa cemas. Kalau sampai lockdown lagi, saya yang kerja freelance bisa kehabisan pemasukan. Belum lagi kalau harus isolasi jauh dari keluarga," ucap barista kafe itu.
Hafiz merasa kenangan buruk ketika Covid masih ia rasakan. Fisiknya terasa lebih mudah lelah, dan paling menyakitkan di memorinya soal stigma buruk dari lingkungan.
"Yang paling menyakitkan adalah stigma. Dulu setelah sembuh, ada tetangga yang menjauh. Padahal aku udah negatif waktu itu," ujarnya.
Baginya, pengalaman masa lalu membuatnya lebih waspada, tapi tidak panik. Dia tetap mengenakan masker saat di ruang publik, dan menghindari kerumunan jika tidak perlu.
"Saya nggak mau abai. Kita sudah pernah ada di titik terburuk. Harusnya kita bisa lebih siap sekarang," kata dia.
Harapannya, masyarakat tidak lagi lengah, terutama dalam menjaga kebersihan, memperhatikan gejala, dan saling mengingatkan meski sudah di vaksin.
"Jangan nunggu kena baru sadar. Saya sudah pernah kena. Nggak enak, serius." ujarnya.
Dihantui Lockdown
Pandemi memang tak lagi diumumkan secara darurat. Tapi bagi Raka (28), kabar bahwa kasus kembali meningkat belakangan ini justru membuka kembali luka yang belum sepenuhnya sembuh.
"Saya cuma demam dan batuk, tapi harus isolasi lama sendirian di kamar kos. Tanpa kontak langsung, tanpa pelukan dari keluarga, itu lebih menyakitkan daripada batuknya," cerita Raka.
Kini, saat ia membaca berita bahwa virus itu menjalar di Asia rasa waswas kembali muncul.
"Jujur saja, saya langsung pasang masker lagi. Bahkan hand sanitizer yang sempat saya abaikan, sekarang saya bawa lagi," katanya.
Kekhawatiran Raka bukan hanya soal kesehatan. Tapi, kekacauan ekonomi bila lockdown diberlakukan. Dia khawatir terkena lay off.
"Kalau sekarang harus lockdown lagi, saya nggak yakin bisa sekuat itu lagi," ujar pegawai sebuah restoran ini.
Sementara itu, Tania (29) ingat saat pertama kali Covid-19 mewabah. Meski sempat kena dengan gejala ringan, dia tidak terlalu khawatir soal lonjakan yang terjadi di Asia.
"Mungkin karena sudah ada vaksin, jadi rasanya gak terlalu khawatir," ucap pegawai swasta ini.
Meskipun saat itu di lockdown, Tania merasa bersyukur lantaran pekerjaan saya bisa dilakukan secara mobile. Tak seperti banyak orang yang harus menyesuaikan diri.
Satu sisi, lockdown baginya menyenangkan karena bisa lebih banyak waktu di rumah. Tapi sisi lainnya, rumah seperti kantor yang sibuk.
"Dari pagi sampai sore meeting, lalu lanjut kerja malamnya. Gak ada transisi, gak ada perjalanan ke kantor yang biasanya jadi momen refreshing," ucapnya.
Yang paling berat mungkin karena dirinya tipe ekstrovert. Senang ketemu orang, bangun relasi, atau sekadar ngopi bareng sambil ngobrol santai. Tapi saat lockdown, semua itu hilang.
"Ketemu klien pun susah, padahal dalam pekerjaan saya, membangun relasi itu kunci," ujarnya.
Kadang ia berpikir berbeda cerita bagi yang sudah menikah. Mereka punya pasangan di rumah dan jadi momen untuk makin dekat.
"Tapi ya, gak semua orang ingin atau siap untuk lockdown jangka panjang, apalagi kalau gak sempat stok kebutuhan makanan," kata Tania.
Kini, meskipun Covid-19 masih ada, Tania merasa lebih siap lantaran vaksinasi membuatnya lebih tenang. Yang terpenting bukan cuma menjaga kesehatan fisik, tapi juga mental.
"Karena buat saya, yang paling terasa selama lockdown itu bukan sekadar takut virus, tapi rasa rindu pada interaksi, tawa bersama teman, dan hidup sosial yang dulu dianggap biasa saja," tutupnya.