Trivia: 3 Juta WNI di Malaysia, Begini Heroiknya Penanganan Pandemi KBRI Kuala Lumpur di Tengah Krisis

Saat pandemi Covid-19 melanda, KBRI Kuala Lumpur menghadapi tantangan besar menangani 3 juta WNI. Simak strategi heroik penanganan pandemi KBRI Kuala Lumpur yang patut jadi pelajaran.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trivia: 3 Juta WNI di Malaysia, Begini Heroiknya Penanganan Pandemi KBRI Kuala Lumpur di Tengah Krisis
Saat pandemi Covid-19 melanda, KBRI Kuala Lumpur menghadapi tantangan besar menangani 3 juta WNI. Simak strategi heroik penanganan pandemi KBRI Kuala Lumpur yang patut jadi pelajaran. (AntaraNews)

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia antara tahun 2020 hingga 2023 telah meninggalkan jejak mendalam bagi seluruh masyarakat global. Kesulitan dan penderitaan dirasakan langsung oleh setiap individu, dengan ratusan juta nyawa melayang akibat wabah mematikan ini.

Di tengah krisis kemanusiaan tersebut, banyak kisah inspiratif yang muncul, salah satunya adalah upaya penanganan pandemi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur (KBRI KL). KBRI KL saat itu memiliki tanggung jawab besar untuk melindungi dan membantu sedikitnya tiga juta jiwa Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebagian besar merupakan pekerja migran di Malaysia.

Kisah ini diangkat berdasarkan penuturan langsung Duta Besar RI untuk Malaysia, Hermono, di penghujung masa tugasnya sebagai Dubes. Pengalaman ini menjadi rekam jejak penting dan catatan sejarah yang dapat memberikan pembelajaran berharga bagi penanganan krisis di masa mendatang, terutama dalam konteks perlindungan WNI di luar negeri.

Duta Besar Hermono menceritakan awal penugasannya yang mendadak sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia di masa pandemi Covid-19. Penugasan ini merupakan kali kedua baginya di Negeri Jiran, setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Duta Besar RI untuk Malaysia pada 2013-2015 dan Sekretaris Utama Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Sebelumnya, Hermono menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Spanyol pada 2018-2020. Namun, Kementerian Luar Negeri RI memandang perlu adanya pengisian jabatan duta besar untuk Malaysia secara segera karena pandemi Covid-19 yang semakin mengkhawatirkan dan kekosongan jabatan di sana. Pengalaman Hermono sebagai wakil duta besar dan sestama BNP2TKI menjadi pertimbangan utama.

Meskipun baru menjabat sekitar dua tahun di Spanyol, Hermono akhirnya ditugaskan pindah ke Malaysia dalam sebuah penugasan yang sangat mendadak dan bersifat darurat. “Kemlu menganggap perlu ada Dubes untuk mengoordinasikan bagaimana memberikan pertolongan atau bantuan kepada WNI kita di sini,” tutur Hermono, menggambarkan urgensi situasi kala itu.

Setibanya di Malaysia pada Oktober 2020, Hermono langsung dihadapkan pada tantangan besar. Jumlah WNI di Malaysia mencapai sekitar 3 juta orang, dan banyak dari mereka menghadapi persoalan serius akibat pemberlakuan lockdown. WNI tidak bisa bekerja, kehilangan penghasilan, dan kesulitan kembali ke tanah air karena terbatasnya penerbangan serta penutupan sebagian besar bandara di Indonesia, kecuali Jakarta, Bali, dan Manado.

Kesulitan akses penyaluran bantuan di tengah pembatasan ketat oleh otoritas Malaysia tidak membuat KBRI KL putus asa. Dubes Hermono dan jajarannya mengambil inisiatif untuk merangkul organisasi kemasyarakatan (ormas) Indonesia yang ada di Kuala Lumpur. Ini menjadi strategi kunci dalam penanganan pandemi.

Hermono menggagas pembentukan Aliansi Organisasi Masyarakat Indonesia (AOMI) untuk menyatukan ormas-ormas yang sebelumnya bergerak secara mandiri. Dengan koordinasi dalam satu aliansi, tercipta sistem pelaporan dan pendanaan yang lebih terintegrasi. Ormas-ormas, yang memiliki jaringan luas di antara WNI, dapat melaporkan kebutuhan bantuan langsung kepada KBRI melalui AOMI.

Peran ormas sangat vital dalam distribusi bantuan logistik. Mereka secara aktif menjemput bantuan dari KBRI untuk dibagikan kepada WNI yang membutuhkan. “Mereka ke sini bawa mobil sendiri, bahkan truk sendiri, untuk membantu mendistribusikan,” kenang Hermono, menyoroti semangat gotong royong yang luar biasa.

Selain distribusi logistik, ormas juga berperan besar dalam mengoordinasikan pemulangan WNI menggunakan pesawat sewaan. Dengan penerbangan reguler yang terbatas, pesawat sewaan menjadi satu-satunya cara untuk memulangkan WNI, bahkan memungkinkan pendaratan di bandara-bandara yang sebelumnya tertutup seperti Medan, Surabaya, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB). Ormas berhasil menyewa sedikitnya 58 pesawat dan membantu pengurusan surat perjalanan laksana paspor (SPLP) serta tes Polymerase Chain Reaction (PCR) yang menjadi syarat perjalanan. Kemitraan ini berlanjut hingga kini, membantu KBRI dalam berbagai urusan WNI dan membentuk sanggar belajar bagi anak pekerja migran.

Selama upaya penanganan Covid-19, banyak peristiwa memilukan yang membekas. Dubes Hermono teringat pada kasus keluarga dengan lima anak, di mana sang ibu wafat karena Covid-19 dan sang ayah lumpuh serta tidak bisa bekerja. “Hal-hal seperti ini banyak. Jadi bagaimana satu keluarga yang single parent, apakah itu tidak ada ibunya dan tidak ada bapaknya karena Covid,” ujarnya.

Puncak pandemi menyebabkan peningkatan drastis angka kematian WNI di Malaysia, hingga 10 kali lipat dari jumlah normal. Jika sebelum Covid-19 rata-rata 50–60 WNI meninggal per bulan, saat puncak pandemi angka tersebut bisa mencapai 600-750 orang per bulan, dan itu hanya berdasarkan laporan ke KBRI KL. Jumlah ini belum termasuk WNI di wilayah lain seperti Johor, Penang, Kinabalu, Kuching, dan Tawau.

Pandemi juga menyoroti kerentanan pekerja migran Indonesia (PMI) nonprosedural. WNI tanpa dokumen legal kesulitan mengakses rumah sakit dan tidak berani melaporkan diri ke KBRI, sehingga banyak yang meninggal tanpa penanganan medis. “Ini menjadi pelajaran bahwa dengan status yang undocumented atau ilegal itu juga membawa suatu kerentanan yang sangat besar. Mereka sangat rentan, tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Hermono.

Dubes Hermono dan konsul jenderal di berbagai negara bagian Malaysia memberikan perhatian besar untuk menuntaskan persoalan PMI nonprosedural. Upaya dilakukan melalui edukasi, sosialisasi, jemput bola, dan kemudahan pengurusan dokumen secara digital. Catatan penanganan pandemi ini menunjukkan betapa pentingnya kerja sama KBRI dengan seluruh lapisan masyarakat, termasuk diaspora, ormas, dan media, serta perlunya perhatian khusus terhadap penanganan WNI tanpa dokumen sejak dini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi