Pemkot Tangerang Perluas Penerapan Teknologi RDF ke TPS3R, Optimalkan Pengelolaan Sampah
Pemerintah Kota Tangerang berencana memperluas penerapan teknologi RDF ke sejumlah TPS3R mulai tahun 2026, sebuah langkah strategis untuk mengurangi volume sampah dan mengoptimalkan pengelolaan sampah organik di sumbernya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, mengambil langkah maju dalam pengelolaan sampah dengan memperluas penerapan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF). Inisiatif ini tidak hanya akan diterapkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, tetapi juga akan merambah ke sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di wilayah tersebut. Perluasan ini diharapkan dapat secara signifikan mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke TPA.
Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Iwan, menjelaskan bahwa saat ini TPS3R masih mengandalkan mesin pencacah biasa untuk mengolah sampah organik dalam skala kecil hingga menengah. Dengan penambahan teknologi RDF, kapasitas pengolahan sampah di tingkat sumber akan meningkat drastis. Hal ini merupakan terobosan penting untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah.
Perluasan penerapan teknologi RDF ini direncanakan akan dimulai pada tahun 2026 di empat lokasi TPS3R terpilih, termasuk TPS3R Benua dan TPS3R Dongkal. Targetnya, penggunaan teknologi RDF di keempat lokasi tersebut mampu mengolah sekitar 200 ton sampah dari sumber setiap harinya, terutama sampah organik. Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Pemkot Tangerang untuk mencapai pengelolaan sampah berkelanjutan.
Pengembangan Teknologi RDF di TPS3R
Penerapan teknologi RDF di TPS3R merupakan strategi inovatif Pemkot Tangerang untuk mengatasi permasalahan sampah yang terus meningkat. Sebelumnya, TPS3R hanya mengandalkan mesin pencacah biasa yang memiliki keterbatasan dalam kapasitas pengolahan. Dengan integrasi teknologi RDF, diharapkan efisiensi pengolahan sampah organik dapat ditingkatkan secara signifikan.
DLH Kota Tangerang telah mengidentifikasi tujuh TPS3R yang beroperasi di Kota Tangerang, dengan empat di antaranya akan menjadi percontohan awal untuk penerapan teknologi RDF. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada potensi volume sampah dan kesiapan infrastruktur. TPS3R Benua dan TPS3R Dongkal menjadi dua lokasi awal yang diprioritaskan untuk implementasi teknologi ini.
Penggunaan teknologi RDF di TPS3R tidak hanya bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga untuk menciptakan potensi ekonomi. Sampah yang diolah menjadi RDF dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif, seperti yang telah berhasil dilakukan di TPA Rawa Kucing. Ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk memaksimalkan nilai guna sampah.
Target dan Manfaat Perluasan Teknologi RDF
DLH Kota Tangerang menargetkan bahwa perluasan teknologi RDF ke empat TPS3R terpilih akan mampu mengolah sekitar 200 ton sampah organik dari sumber setiap harinya. Angka ini menunjukkan komitmen serius Pemkot Tangerang dalam mengurangi beban TPA Rawa Kucing. Peningkatan kapasitas pengolahan di sumber juga akan mengurangi biaya transportasi sampah ke TPA.
Manfaat utama dari perluasan teknologi RDF adalah pengurangan drastis volume sampah yang masuk ke TPA. Selain itu, teknologi ini juga mendukung konsep ekonomi sirkular dengan mengubah sampah menjadi sumber daya yang bernilai. Sampah organik yang diolah menjadi RDF dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Kepala DLH Kota Tangerang, Wawan Fauzi, menegaskan bahwa pengelolaan sampah menjadi RDF adalah solusi efektif untuk menekan volume sampah. Ini juga mendukung target pengelolaan sampah berkelanjutan yang telah dicanangkan. PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) telah menjadi mitra yang menerima RDF dari TPA Rawa Kucing sebagai bahan bakar alternatif sepanjang tahun 2025.
Keberhasilan dan Prospek Masa Depan
Keberhasilan pengelolaan sampah di TPA Rawa Kucing menjadi 200 ton RDF sepanjang tahun 2025 menjadi bukti nyata efektivitas teknologi ini. Hasil tersebut menunjukkan bahwa RDF memiliki potensi besar sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Pengalaman positif ini menjadi dasar bagi Pemkot Tangerang untuk memperluas implementasi teknologi serupa.
Meskipun teknologi RDF akan diperluas, penggunaan mesin pencacah yang telah ada di TPS3R akan terus dimaksimalkan. Mesin-mesin ini terbukti berhasil mengurangi jumlah sampah dan menghasilkan potensi ekonomi lokal. Ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam pengelolaan sampah, menggabungkan teknologi baru dengan metode yang sudah terbukti.
Pemkot Tangerang terus berupaya meningkatkan kapasitas pengelolaan sampah organik maupun anorganik di tingkat sumber. Dengan adopsi teknologi RDF, diharapkan pengelolaan sampah di Kota Tangerang bisa lebih maksimal. Langkah ini merupakan bagian dari visi jangka panjang untuk menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi seluruh warga.
Sumber: AntaraNews