Pemkab Sigi Ajak Warga Lestarikan Budaya Lewat Festival Ayam Bambu Kulawi Raya
Pemerintah Kabupaten Sigi mengajak masyarakat dan pemerintah desa untuk melestarikan budaya lokal melalui Festival Ayam Bambu, sebuah perayaan yang merepresentasikan kearifan lokal dan identitas Kulawi Raya.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Sulawesi Tengah, secara aktif mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah desa untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian budaya lokal. Inisiatif ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Ayam Bambu, sebuah acara yang berpusat di kawasan Kulawi Raya. Festival ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga simbol komitmen Pemkab Sigi dalam menjaga warisan budaya.
Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menjelaskan bahwa Festival Ayam Bambu memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar perayaan kuliner. Ia menegaskan bahwa acara ini adalah representasi nyata dari kearifan lokal serta identitas budaya yang telah melekat pada masyarakat Kulawi secara turun-temurun. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat ikatan masyarakat dengan akar budaya mereka.
Kuliner Ayam Bambu sendiri merupakan hidangan khas yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan proses memasak yang unik di dalam bambu. Proses ini tidak hanya menghasilkan cita rasa istimewa, tetapi juga menggambarkan kedekatan erat masyarakat Kulawi dengan alam sekitar. Festival ini menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan kekayaan kuliner lokal kepada khalayak yang lebih luas.
Ayam Bambu: Identitas Kuliner dan Potensi Ekonomi Lokal
Bupati Sigi, Moh Rizal Intjenae, menekankan bahwa Ayam Bambu bukan sekadar hidangan biasa, melainkan sebuah identitas budaya yang patut dibanggakan. "Jadi Ayam Bambu ini merupakan kuliner khas yang diwariskan secara turun-temurun sebab proses memasaknya cukup unik karena berada di dalam bambu tidak hanya menghasilkan cita rasa khas tetapi juga menggambarkan kedekatan masyarakat dengan alam," kata Bupati.
Festival Ayam Bambu juga menjadi platform penting untuk memperkenalkan potensi kuliner lokal kepada masyarakat luas, termasuk para wisatawan. Ke depan, Bupati berharap agar Ayam Bambu dapat dipromosikan secara lebih gencar sebagai identitas kuliner khas Sigi hingga mencapai tingkat nasional. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan daya tarik daerah dan memperluas jangkauan promosi.
Seluruh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sigi didorong untuk melakukan inovasi dalam penyajian dan pemasaran kuliner tradisional ini. Dengan adanya inovasi, diharapkan Ayam Bambu dapat memiliki nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Ini adalah langkah strategis untuk memberdayakan ekonomi lokal melalui warisan budaya.
Pengembangan Pariwisata dan Peran Generasi Muda
Pemerintah Kabupaten Sigi memiliki harapan besar agar Festival Ayam Bambu dapat dikembangkan menjadi agenda tahunan. Dengan demikian, jumlah wisatawan yang berkunjung diharapkan akan semakin meningkat, sekaligus memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat di kawasan Kulawi Raya. Ini merupakan bagian dari upaya pengembangan pariwisata berbasis budaya.
Selain itu, pentingnya keterlibatan generasi muda dalam melestarikan teknik memasak tradisional Ayam Bambu juga menjadi perhatian utama. Bupati Intjenae mengemukakan bahwa melalui partisipasi aktif generasi muda, kearifan lokal ini dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Pelestarian ini menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan budaya.
Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk mendukung penguatan ekonomi kreatif dan pariwisata. Bentuk dukungan ini mencakup pemberian pendampingan kepada pelaku UMKM serta pengembangan destinasi kuliner lokal. "Pentingnya dukungan dan partisipasi aktif dari seluruh masyarakat agar program-program yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata, termasuk dalam pengembangan potensi budaya dan ekonomi kreatif seperti yang ditampilkan dalam Festival Ayam Bambu," tegas Bupati.
Sumber: AntaraNews