Undana Dorong Pengembangan Tenun Ikat NTT sebagai Produk Ekonomi Kreatif Modern Bernilai Tinggi

Universitas Nusa Cendana (Undana) berinovasi dalam Pengembangan Tenun Ikat NTT, mengubah warisan budaya menjadi produk ekonomi kreatif modern bernilai tinggi melalui sains, desain, dan kewirausahaan. Simak strateginya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Undana Dorong Pengembangan Tenun Ikat NTT sebagai Produk Ekonomi Kreatif Modern Bernilai Tinggi
Universitas Nusa Cendana (Undana) berinovasi dalam Pengembangan Tenun Ikat NTT, mengubah warisan budaya menjadi produk ekonomi kreatif modern bernilai tinggi melalui sains, desain, dan kewirausahaan. Simak strateginya! (AntaraNews)

Program Studi Teknik Pembuatan Tenun Ikat (PTI) Fakultas Sains dan Teknik (FST) Universitas Nusa Cendana (Undana) mengambil langkah progresif dalam mengembangkan tenun ikat tradisional Nusa Tenggara Timur (NTT). Inisiatif ini bertujuan untuk mengubah warisan budaya tersebut menjadi produk ekonomi kreatif modern yang memiliki nilai tambah signifikan.

Pendekatan yang diterapkan oleh Undana sangat komprehensif, melibatkan aspek sains, desain, dan kewirausahaan secara terintegrasi. Hal ini tidak hanya fokus pada pelestarian tradisi, tetapi juga pada peningkatan potensi ekonomi lokal secara berkelanjutan.

Dekan FST Undana, Prof. Philiphi de Rozari, menjelaskan di Kupang bahwa Prodi PTI merupakan satu-satunya program studi di Indonesia yang secara khusus berfokus pada pengembangan dan pelestarian tenun ikat melalui pendekatan ilmiah dan multidisiplin. Upaya ini menunjukkan komitmen Undana dalam menjaga dan memajukan kekayaan budaya NTT.

Inovasi dan Pendekatan Multidisiplin dalam Pengembangan Tenun Ikat NTT

Pengembangan tenun ikat di Undana tidak hanya terbatas pada keterampilan menenun semata, melainkan melibatkan pemahaman mendalam tentang berbagai disiplin ilmu. Prof. Philiphi de Rozari menekankan bahwa studi tenun mencakup filosofi budaya, geometri, ergonomi, matematika, serta aspek pengemasan produk dan manajemen rantai pasok.

Selain itu, tren pasar global dan sosiologi pariwisata juga menjadi bagian integral dari kurikulum Prodi PTI. Pendekatan multidisiplin ini memastikan bahwa tenun ikat NTT tidak hanya dilestarikan sebagai warisan, tetapi juga mampu bersaing dan relevan di pasar modern.

Untuk memperkuat kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM), pendidikan tinggi menjadi strategi kunci dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya. Peningkatan nilai ekonomi tenun daerah juga menjadi fokus utama melalui pengembangan SDM yang berkualitas.

Pameran “Jalinan Nusa” dan Potensi Mahasiswa dalam Ekonomi Kreatif

Sebagai wujud nyata dari upaya pengembangan ini, Undana menyelenggarakan Pameran Produk Inovasi Warisan Nusantara (Wastra) NTT bertajuk “Jalinan Nusa”. Pameran perdana ini digelar di Gedung Prodi PTI Undana, Kupang, dan menampilkan berbagai karya inovatif mahasiswa.

Karya-karya yang dipamerkan mengolah Tenun Ikat, Tenun Buna, dan Tenun Sotis dari berbagai daerah di NTT menjadi produk yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar modern. Hal ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat berpadu dengan inovasi untuk menciptakan nilai baru.

Koordinator Prodi PTI Undana, Ariency Kale Ada Manu, menjelaskan bahwa pameran ini merupakan hasil integrasi sejumlah mata kuliah, termasuk Busana dan Gaya, Desain Produk, Desain Digital, serta Manajemen Pameran Produk. Meskipun tergolong baru dan menghadapi keterbatasan fasilitas, mahasiswa PTI telah menunjukkan daya saing yang tinggi.

Salah satu capaian membanggakan adalah Juara II lomba fashion show yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Prestasi ini membuktikan potensi besar mahasiswa dalam mengembangkan tenun sebagai produk kreatif yang kompetitif di tingkat nasional.

Strategi Pelestarian Budaya dan Peningkatan Ekonomi Berkelanjutan

Ketua Panitia Pameran, Sariwati Nulima, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan akademik, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berbasis budaya di kawasan Indonesia Timur.

Terdapat tiga fokus utama yang dikembangkan dalam program ini: pelestarian motif asli tenun, digitalisasi pola dan pemasaran, serta promosi produk turunan berbasis tenun. Tujuan akhirnya adalah agar produk tenun memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasar.

Melalui langkah-langkah inovatif ini, Undana berupaya mendorong tenun tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. Pameran juga menghadirkan demonstrasi menenun, peragaan busana, dan pertunjukan seni untuk menarik minat generasi muda.

Pengembangan tenun melalui inovasi produk dan pendekatan teknologi menjadi strategi penting untuk menjaga regenerasi penenun. Ini juga memperkuat posisi tenun NTT di pasar nasional maupun internasional, sekaligus melestarikan kekayaan motif dari 22 kabupaten/kota di NTT.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi