Pasbata: Kritik itu Perlu tapi Harus Bertanggung Jawab
David menilai kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, selama disampaikan secara objektif dan disertai data serta solusi.
Ketua Umum Pasukan Bawah Tanah Prabowo (Pasbata), David Febrian, angkat bicara terkait berkembangnya narasi di ruang publik yang dinilainya tidak lagi sebatas kritik, melainkan mengarah pada upaya delegitimasi terhadap pemerintahan yang sah. Ia menyinggung sejumlah pernyataan yang beredar di ruang publik.
Menurutnya, pola komunikasi yang dibangun telah melewati batas kewajaran kritik dan cenderung mendorong opini publik untuk meragukan legitimasi negara.
“Kalau kritik itu berbasis data dan solusi, itu sehat. Tapi kalau yang dibangun adalah narasi seolah pemerintah tidak bekerja, seolah rakyat diabaikan, itu bukan lagi kritik, itu provokasi yang berbahaya,” katanya.
Kritik Harus Berbasis Data dan Solusi
David menilai kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, selama disampaikan secara objektif dan disertai data serta solusi. Namun, ia menegaskan, narasi yang dinilai hanya membangun persepsi negatif terhadap pemerintah tanpa dasar yang jelas berpotensi merusak tatanan demokrasi.
Dia juga menegaskan bahwa berbagai program prioritas pemerintah, seperti makan bergizi gratis (MBG) dan penguatan pendidikan melalui sekolah rakyat, merupakan bukti nyata kerja negara yang tidak bisa diabaikan begitu saja dalam narasi publik.
Menurutnya, berbagai capaian tersebut seharusnya turut menjadi bagian dari penilaian yang objektif terhadap pemerintah.
“Program nyata ada, kerja nyata berjalan. Tapi itu sengaja tidak dibahas. Yang diangkat justru narasi negatif. Ini tidak objektif,” lanjutnya.
Publik Harus Cermat
Lebih jauh, David menilai serangan yang terus diarahkan kepada pemerintah, TNI, Polri, hingga Presiden menunjukkan pola yang tidak sporadis. Menurutnya, publik perlu lebih cermat membaca situasi dan tidak lengah terhadap perkembangan opini di ruang publik.
“Kita melihat ada pola. Serangan ini masif, berulang, dan terarah. Publik tidak boleh lengah membaca situasi ini,” katanya.
Di tengah meningkatnya tensi global, David mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh terpecah oleh narasi yang dinilai memperkeruh keadaan. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh opini yang menyesatkan.
“Negara ini rumah kita bersama. Jangan biarkan kepentingan tertentu memecah belah kita dari dalam,” tegasnya.
“Kritik itu perlu, tapi harus bertanggung jawab. Jangan adu domba. Rakyat yang paling dirugikan,” ujarnya.
Dalam konteks demokrasi, David menegaskan bahwa ruang kompetisi politik tetap terbuka dan sah melalui mekanisme pemilu.
“Kalau ingin berkuasa, tunggu momentum demokrasi di 2029 nanti. Buktikan kapasitas dan gagasan. Jangan merusak kepercayaan publik dengan cara-cara yang tidak bermartabat,ngebet banget pingin berkuasa” pungkasnya.