Mengungkap Dua Sisi Gaya Kepemimpinan Prabowo: Antara Ketegasan Publik dan Dialog Deliberatif

Presiden Prabowo Subianto sering dipersepsikan antikritik, namun artikel ini mengupas sisi lain gaya kepemimpinan Prabowo yang aktif berdialog di balik layar, memadukan ketegasan militer dengan musyawarah demi stabilitas negara.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Mengungkap Dua Sisi Gaya Kepemimpinan Prabowo: Antara Ketegasan Publik dan Dialog Deliberatif
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia dan delapan negara muslim dalam Board of Peace Gaza mendukung Solusi Dua Negara demi perdamaian abadi Palestina. (AntaraNews)

Presiden Prabowo Subianto kerap diasosiasikan dengan citra pemimpin yang tegas, bahkan terkadang dianggap antikritik atau cenderung mengambil keputusan sendiri tanpa masukan. Persepsi ini muncul dari penampilan publik yang jarang memperlihatkan dialognya dengan akademisi atau tokoh masyarakat. Namun, benarkah demikian adanya?

Publik seringkali menyalahartikan tindakan Presiden Prabowo, melupakan kegiatan diskusi yang sebenarnya aktif dilakukannya di balik layar. Hal ini menciptakan label bahwa Prabowo adalah Presiden yang menutup keran kritik dan masukan karena tidak banyak mempublikasikan kegiatannya tersebut.

Dalam teori dramaturgi Erving Goffman, fenomena ini dapat dijelaskan sebagai "panggung depan" yang sengaja ditampilkan untuk menjaga wibawa dan stabilitas negara di mata dunia. Sementara itu, "panggung belakang" menjadi ruang rahasia untuk dialog dan pengambilan keputusan yang matang.

Di mata publik, Presiden Prabowo seringkali menampilkan kesan sebagai pemimpin yang cepat dan tepat dalam mengambil keputusan. Gaya komunikasi yang lekat dengan komando dan instruksi ala militer, seperti saat beliau menjabat Komandan Kopassus, masih sangat terasa dalam konferensi persnya.

Gaya ini, meskipun terlihat otoriter bagi sebagian orang awam, merupakan bagian dari strategi untuk menunjukkan stabilitas dan prinsip kepemimpinan. Jika setiap keputusan harus diperlihatkan melalui dialog yang panjang di ruang publik, dikhawatirkan dunia internasional akan memandang Indonesia dipimpin oleh presiden yang gamang dan tidak punya prinsip.

Menjaga citra negara sebagai mitra strategis yang kuat di kancah politik internasional menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, ketegasan di panggung depan adalah upaya untuk menghindari persepsi negatif yang bisa menempatkan posisi Indonesia dalam kesulitan.

Presiden Prabowo memahami bahwa dapur komunikasi kepresidenan dan kebijakan teknokratis tidak harus selalu diumbar ke publik. Ini adalah bagian dari strategi komunikasi kepresidenan untuk menjaga wibawa dan kecepatan dalam bertindak.

Berbeda dengan citra di panggung depan, Presiden Prabowo sebenarnya sangat aktif berdiskusi dan berdialog dengan berbagai pihak di balik layar. Beliau sering mendengarkan dan membahas isu-isu politik dengan kalangan aktivis, akademisi, tokoh agama, hingga mantan Menteri Luar Negeri.

Contohnya, setelah menandatangani persetujuan untuk bergabung dengan Board of Peace, Presiden Prabowo mengundang tokoh-tokoh ormas agama ke Istana untuk berdiskusi. Beliau juga berdialog dengan para mantan Menteri Luar Negeri guna mendengar masukan langsung terkait kebijakan luar negeri.

Kegiatan-kegiatan diskusi ini, meski luput dari pemberitaan media, menunjukkan bahwa Presiden Prabowo selalu mencari pertimbangan dan opini kedua dari para ahli. Ini adalah "panggung belakang" tempat persiapan pertunjukan di panggung depan, di mana keputusan-keputusan penting dibentuk melalui musyawarah.

Prabowo pernah menghadiri sarasehan ekonomi nasional, berdiskusi dengan banyak ekonom dan tokoh buruh untuk menghadapi gelombang PHK yang marak terjadi. Hal ini membuktikan bahwa ia mendengarkan masukan dari berbagai pihak sebelum mengambil kebijakan.

Presiden Prabowo memahami bahwa posisinya saat ini berbeda dengan ketika ia masih di militer. Sebagai pemimpin 280 juta lebih rakyat Indonesia, ia tidak lagi memimpin pasukan, melainkan pemerintahan.

Perubahan posisi ini merupakan "turning point" dalam konsep Transformasi Identitas yang diungkapkan oleh Anselm Strauss. Prabowo harus melakukan negosiasi dari identitas militernya menuju identitas baru sebagai Presiden Republik Indonesia, menyesuaikan diri dengan individu dan masalah yang dihadapinya.

Meskipun riskan dari sudut pandang citra politik jika diskusi tidak dipublikasikan, Presiden Prabowo memiliki pertimbangan lain. Yaitu menjaga citra Indonesia di mata dunia agar tidak terlihat sebagai negara yang dipimpin oleh presiden yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan.

Pada akhirnya, gaya kepemimpinan Presiden Prabowo tidak dapat dibaca secara hitam-putih. Ketegasan di ruang publik adalah bagian dari panggung depan untuk menjaga stabilitas dan wibawa negara, sementara dialog dengan para ahli berlangsung di panggung belakang sebagai ruang negosiasi kebijakan yang matang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi