Menpora Erick Thohir Dorong Sinergi Popnas dengan Kalender Ajang Olahraga Lain
Menpora Erick Thohir menekankan pentingnya Sinergi Popnas dan Peparpenas dengan ajang olahraga multicabang lainnya guna menciptakan atlet masa depan yang berkesinambungan.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir baru-baru ini menyuarakan pentingnya sinergi antara Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) dan Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) dengan kalender ajang multicabang lainnya. Pernyataan ini disampaikan Menpora setelah acara penutupan Popnas XVII dan Peparpenas XI Jakarta 2025 di Jakarta pada Minggu lalu. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan alur pembinaan atlet yang lebih terstruktur dan berkelanjutan di masa depan.
Erick Thohir secara tegas menyatakan bahwa setiap ajang olahraga nasional harus saling terhubung dan tidak berjalan sendiri-sendiri. Ia menginginkan adanya kesinambungan yang jelas dari tingkat pelajar hingga kancah internasional. Tujuan utamanya adalah untuk memastikan bahwa setiap kompetisi berkontribusi pada pengembangan atlet-atlet potensial Indonesia secara optimal.
Konsolidasi kalender ajang olahraga ini menjadi krusial demi mendorong prestasi atlet secara berkelanjutan. Menpora menekankan bahwa usia produktif seorang atlet memiliki batas, sehingga setiap kesempatan harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Inisiatif ini juga mencakup penyelesaian masalah dualisme kepengurusan cabang olahraga yang kerap menghambat kemajuan.
Optimalisasi Kalender Ajang Olahraga Nasional
Menpora Erick Thohir menginginkan adanya penyesuaian yang rapi dan terstruktur untuk semua ajang multi cabang olahraga di Indonesia. Sinergi Popnas dan Peparpenas harus selaras dengan Pekan Olahraga Nasional (PON), yang kemudian berkesinambungan menuju ajang internasional seperti SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Keterkaitan ini diharapkan dapat membentuk jalur pengembangan atlet yang jelas dan terarah.
Penyelarasan kalender ini bertujuan untuk menghindari tumpang tindih jadwal dan memastikan setiap kompetisi berfungsi sebagai batu loncatan. Dengan demikian, atlet-atlet muda yang berprestasi di Popnas dapat terus diasah kemampuannya melalui jenjang kompetisi yang lebih tinggi. Erick Thohir menekankan bahwa "Jangan sampai nanti antara event satu dan lainnya tidak menyambung dan tidak menghasilkan atlet-atlet masa depan (olahraga) kita."
Pendekatan terpadu ini juga akan memudahkan pemantauan dan evaluasi performa atlet dari waktu ke waktu. Data dan informasi dari setiap ajang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bakat-bakat terbaik. Ini adalah langkah strategis untuk membangun fondasi olahraga nasional yang kuat dan berkelanjutan.
Pentingnya Konsolidasi untuk Prestasi Berkelanjutan
Erick Thohir menegaskan bahwa semua pihak terkait perlu mengkonsolidasikan ajang-ajang tersebut demi mendorong prestasi atlet secara berkelanjutan. Konsolidasi ini sangat penting mengingat usia produktif seorang atlet yang terbatas. Setiap tahapan kompetisi harus dimaksimalkan untuk mencapai puncak performa.
Menpora secara khusus meminta adanya konsolidasi menyeluruh, tidak hanya pada kalender ajang multicabang. "Ini yang saya minta agar kita ada konsolidasi," tuturnya, menunjukkan urgensi dari permasalahan ini. Konsolidasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem olahraga yang lebih efisien dan efektif dalam menghasilkan bibit-bibit unggul.
Dengan adanya konsolidasi, diharapkan tidak ada lagi atlet yang kehilangan momentum atau terhambat perkembangannya. Jalur karier atlet akan lebih jelas, dari tingkat pelajar hingga profesional. Hal ini penting untuk memastikan investasi waktu dan sumber daya yang telah dikeluarkan dapat memberikan hasil maksimal bagi olahraga Indonesia.
Menangani Dualisme Kepengurusan Cabang Olahraga
Selain masalah kalender, Menpora juga menyoroti isu dualisme kepengurusan cabang olahraga yang merugikan. Ia menyebutkan beberapa cabang olahraga yang mengalami masalah ini, seperti tenis meja, tinju, anggar, dan sepak takraw. Dualisme ini seringkali menghambat pembinaan dan partisipasi atlet dalam kompetisi.
Untuk mengatasi persoalan ini, Menpora telah memberikan batas waktu kepada Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk duduk bersama menyelesaikannya. Batas waktu yang diberikan adalah hingga akhir tahun 2025. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menata tata kelola olahraga nasional.
Erick Thohir memberikan ultimatum tegas terkait penyelesaian dualisme ini. "Kalau Januari tahun depan (masalah dualisme-red) tidak bisa (diatasi-red), baru saya ambil alih," kata dia. Pernyataan ini menegaskan komitmen Menpora untuk tidak menoleransi berlarutnya masalah yang dapat mengganggu prestasi olahraga Indonesia.
Sumber: AntaraNews