Tahukah Anda? Menpora Dito Tekankan Pemberantasan Penyalahgunaan Wewenang KONI di Rakernas, Demi Tata Kelola Olahraga yang Optimal

Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo menyoroti pentingnya Pemberantasan Penyalahgunaan Wewenang KONI dalam Rakernas. Simak bagaimana tata kelola ini akan membentuk masa depan olahraga Indonesia!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Tahukah Anda? Menpora Dito Tekankan Pemberantasan Penyalahgunaan Wewenang KONI di Rakernas, Demi Tata Kelola Olahraga yang Optimal
Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo berharap demonstrasi anak muda tetap damai dan tidak anarkis. Simak imbauan lengkap Menpora terkait hak berpendapat. (Merdeka.com)

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Dito Ariotedjo kembali menegaskan komitmen pemerintah dalam membenahi tata kelola olahraga nasional. Penekanan ini disampaikan Menpora Dito dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat yang berlangsung di Jakarta pada Sabtu (06/9). Langkah ini merupakan respons terhadap arahan Presiden yang berulang kali menyerukan pentingnya pembenahan menyeluruh.

Fokus utama dari arahan tersebut adalah pemberantasan penyalahgunaan wewenang dan anggaran yang selama ini disinyalir menghambat pembinaan atlet secara optimal. Menpora Dito menekankan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah kunci untuk menciptakan ekosistem olahraga yang sehat. Hal ini diharapkan mampu mendorong peningkatan prestasi olahraga Indonesia di kancah global.

Rakernas KONI Pusat ini menjadi forum strategis untuk menyatukan visi dan misi seluruh pemangku kepentingan olahraga. Dengan tema "Bersatu Berprestasi Sukseskan Asta Cita", pertemuan ini diharapkan dapat menghasilkan langkah-langkah konkret. Tujuannya adalah memastikan setiap rupiah anggaran digunakan secara efektif untuk kemajuan atlet dan industri olahraga.

Optimalisasi Tata Kelola dan Pengawasan Anggaran

Dalam kesempatan Rakernas KONI Pusat, Menpora Dito secara tegas menyampaikan pentingnya optimalisasi tata kelola olahraga. Ia mengutip arahan Presiden yang berulang kali menekankan perlunya membenahi sistem dan memberantas penyalahgunaan wewenang serta anggaran. Hal ini krusial agar pembinaan atlet dapat berjalan tanpa hambatan dan mencapai hasil maksimal.

Menpora juga memberikan apresiasi tinggi kepada KONI Pusat atas inisiasi penyelenggaraan Indonesia Sports Synergy Summit (ISSS) 2025. Acara yang akan berlangsung di JICC pada 5-7 September ini mencakup forum sinergi, rakernas, dan expo. Menurutnya, ISSS adalah langkah nyata KONI dalam memperkuat ekosistem olahraga dan sekaligus mendukung perekonomian nasional.

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) sendiri terus berfokus pada pengembangan prestasi dan industri olahraga. Salah satu terobosan signifikan adalah pembentukan Deputi Pengembangan Industri Olahraga. Langkah ini diambil untuk memastikan arah pembangunan olahraga lebih terstruktur dan memberikan dampak luas bagi seluruh pemangku kepentingan.

Menpora Dito turut mengingatkan agar penggunaan anggaran bantuan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dilakukan seoptimal mungkin. Dana tersebut harus dialokasikan secara tepat sasaran untuk pembinaan atlet. Ini adalah bagian integral dari upaya pemberantasan penyalahgunaan wewenang KONI.

Prioritas Pembinaan Atlet dan Kesejahteraan

Kemenpora selalu menempatkan kesejahteraan atlet dan pelatih sebagai prioritas utama dalam setiap program pembinaan. Pembinaan ini dilakukan secara berjenjang, dengan indeks pembinaan yang disesuaikan mulai dari persiapan SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. Pendekatan ini memastikan bahwa dukungan diberikan secara komprehensif di setiap tahapan karir atlet.

Menpora Dito berharap bahwa program pembinaan yang berjenjang ini dapat diterapkan hingga ke tingkat daerah. "Dan ini kami berharap turunannya sampai ke daerah, sampai ke kabupaten/kota," ujarnya. Hal ini penting untuk memastikan pemerataan kualitas pembinaan dan menjaring talenta dari seluruh pelosok negeri.

Selain itu, prioritas pembinaan juga difokuskan pada cabang olahraga yang memiliki potensi besar untuk meraih medali. Terutama pada ajang bergengsi seperti Asian Games dan Olimpiade. Prioritas ini sejalan dengan Asta Cita yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sementara itu, SEA Games ditetapkan sebagai tolok ukur penting bagi cabang olahraga yang tidak dipertandingkan di Asian Games maupun Olimpiade. Ini menunjukkan komitmen untuk memberikan perhatian merata kepada seluruh cabang olahraga. Dengan demikian, setiap atlet memiliki kesempatan untuk menunjukkan prestasinya.

Membangun Komitmen dan Profesionalisme Olahraga

Dalam Rakernas KONI ini, Menpora Dito juga menyampaikan pesan penting kepada para pengurus organisasi olahraga. Ia menekankan bahwa mereka yang aktif sebagai pembina atau pengurus harus siap berkontribusi secara sukarela. Pengecualian diberikan kepada staf operasional yang bekerja penuh waktu dan berhak mendapatkan gaji.

Pesan ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat pengabdian dan profesionalisme di kalangan pengurus olahraga. "Jadi saya berharap Rakernas ini benar-benar menjadi momentum untuk menyatukan komitmen kita dalam membangun olahraga Indonesia yang berprestasi, profesional, dan membanggakan bangsa," kata Menpora Dito. Ini adalah panggilan untuk kerja sama yang solid.

Rakernas KONI Pusat 2025 yang mengusung tema "Bersatu Berprestasi Sukseskan Asta Cita" dihadiri oleh ratusan peserta. Mereka terdiri dari pengurus 38 perwakilan KONI kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Selain itu, hadir pula 78 pengurus pusat cabang olahraga anggota KONI Pusat serta perwakilan 6 organisasi fungsional.

Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan keseriusan dalam upaya kolektif untuk memajukan olahraga nasional. Dengan semangat kebersamaan, diharapkan target-target yang telah ditetapkan dapat tercapai. Terutama dalam hal pemberantasan penyalahgunaan wewenang KONI dan peningkatan prestasi olahraga Indonesia di mata dunia.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi