Mengintip Latar Belakang Keluarga Bjorka di 'Dunia Nyata', Cuan Puluhan Juta buat Saudara
Kepada polisi, WFT sudah bergelut di forum dark web sejak 2020. Di sana, ia menjual data-data.
Sosok hacker Bjorka ditangkap polisi. Rupanya sosok di balik pelaku peretasan sejumlah situs pemerintahan maupun pihak swasta itu seorang pemuda berusia 22 tahun inisial WFT.
Kepada polisi, WFT sudah bergelut di forum dark web sejak 2020. Di sana, ia menjual data-data yang diklaim berasal dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri.
Pengakuannya, selama beraksi WFT telah mengantongi uang puluhan juta rupiah. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari.
"Dari hasil tracing, dia gunakan untuk kebutuhan pribadi. Karena kan ternyata dia anak yatim piatu," kata Wakil Direktur Siber Polda Metro Jaya, AKBP Fian Yunus kepada wartawan, Jumat (3/10).
Selain itu, uang hasil menjual data di dark web dipakai untuk membiayai hidup keluarga terdekat. "Dia anak tunggal tapi dia menghidupi semua keluarga-keluarga dekatnya," ucap dia.
Meski, tidak lulus Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) WFT menjadi handal di bidang programer serta informasi terknologi hasil dari belajar otodidak.
"Jadi yang bersangkutan ini bukan ahli IT, hanya orang yang tidak lulus SMK. Namun sehari-hari secara otodidak dia selalu mempelajari IT, jadi dia mempelajari segala sesuatunya itu hanya dari IT dan melalui komunitas-komunitas media sosial," kata Fian kepada wartawan, Kamis (2/10).
Dia menerangkan, aktivitas itu semua dijalankan dari rumah. Hari-harinya dihabiskan depan komputer, tanpa pekerjaan tetap.
Pengangguran
Sejak 2020, WFT mulai mengenal komunitas gelap di internet. Dari sana, pelan-pelan ia belajar cara mencari uang dengan memperdagangkan data pribadi. Di dark web maupun forum, ia menjual data-data yang diklaim berasal dari berbagai institusi dalam maupun luar negeri.
"Ya, sehari-hari dia tidak ada pekerjaan," ucap dia.
Jejak digitalnya pun berpindah-pindah, tapi tetap bisa dilacak. Polisi menemukan aktivitasnya di darkforum.st sejak Desember 2024. Waktu itu ia pakai nama Bjorka, lalu berganti jadi SkyWave, kemudian shinyhunter pada Maret 2025, dan terakhir Oposite6890 pada Agustus 2025. Fian menyebut, WFT bergerak sendirian.
"Baik, investigasi kami sementara dia melakukan perbuatan pidana ini sendiri, jadi bukan bersama dengan rekannya," ucap dia.
Mengenai keuntungan, Fian belum bisa memastikan jumlah pastinya. Namun, dari pengakuan WFT, sekali transaksi penjualan data bisa bernilai puluhan juta rupiah, tergantung pembeli di dark web.
"Berapa uang yang didapatkan ini juga kita belum bisa mendapatkan fakta secara jelas. Tapi pengakuannya sekali dia menjual data itu kurang lebih nilainya puluhan juta. Jadi tergantung orang-orang yang membeli data yang dia jual, melalui dark forum," ucap dia.