Masjid Tertua di Lumajang, Berusia 1 Abad Punya Arsitektur Unik
Masjid ini menjadi saksi sejarah jejak perjalanan perkembangan agama Islam di Nusantara.
Masjid Baitur Rohman di Lumajang menjadi salah satu saksi sejarah jejak perjalanan perkembangan agama Islam di Nusantara.
Masjid di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang dibangun jauh sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Komplek bangunan ini menjadi satu-satunya masjid tertua di Lumajang dibangun tahun 1911 dan berusia lebih dari 1 Abad (Seratus Tahun).
Secara arsitektur, masjid ini memiliki struktur bangunan unik, mulai dari kubah masjid berjumlah 9 buah yang berbentuk seperti pot bunga, dilengkapi besi yang menjulang ke langit, hingga ruangan masjid yang dipenuhi bangunan kusen pintu. Perpaduan struktur bangunan tersebut memperlihatkan kesan bangunan masjid yang kuno, apalagi dengan dominasi unsur kayu.
Keunikan dari masjid ini juga ditunjukkan lewat atap bangunan yakni kubah-kubah kecil yang mirip pot bunga berjumlah sembilan. Jumlah sembilan ini melambangkan para wali penyebar Islam di Nusantara yang sering disebut Wali Songo.
Dari sisi depan, keunikan juga terlihat dari adanya 6 pintu berukuran sama, 3 pintu di depan dan 3 pintu lainnya di tempat imam masjid. Tentu 6 pintu ini memiliki filosofi yakni menggambarkan rukun iman.
Dari sisi depan, terlihat juga keunikan kentongan raksasa yang terbuat dari kayu peninggalan para pendiri masjid. Keunikan lain terlihat pada sudut ruangan masjid dipenuhi bangunan kusen pintu yang sekilas nampak seperti labirin. Sehingga ketika memasuki masjid ini ada pengalaman unik tersendiri melihat banyaknya kusen pintu di dalam masjid.
Sejarah Masjid Baitur Rohman
Dari sejarahnya, pada masa itu, masjid ini konon hanya berukuran kecil yang dibangun oleh salah satu tokoh penyebar agama Islam di Lumajang bernama Kiai Usman.
Beliau merupakan salah satu mubaligh penyebar agama Islam pada masa itu di wilayah Lumajang. Dia mendirikan masjid untuk berdakwah ajaran Islam pada masyarakat setempat yang pasa saat itu masih dijajah Belanda.
Seiring berjalan waktu, murid Kiai Usman semakin banyak, sehingga akhirnya dilakukan renovasi pada tahun 1923 hingga 1933 bersama tokoh agama setempat bernama Kiai Suhaemi. Uniknya, sejak selesai dibangun pada tahun 1933 hingga sekarang, masjid ini tidak pernah dilakukan renovasi.
Selain karena ingin mempertahankan nilai histori masjid ini, pengurus masjid setempat juga mengaku struktur bangunan dan bahan yang digunaan untuk mendirikan masjid ini cukup kokoh sehingga bisa bertahan hingga 114 tahun.
“Hanya direnovasi 2 kali. Setelah itu tidak pernah dilakukan renovasi, karena memang struktur bangunan kokoh. Dan kami ingin tetap menjaga nilai historis dan religi yang ada pada bangunan masjid ini,” kata Yoyon Sudarmanto, Seksi Humas Masjid Baitur Rohman.
Ia mengaku hingga saat ini masjid masih aktif digunakan untuk kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
“Secara fungsi masih digunakan hingga sekarang. Selain sholat berjamaah, ada juga kegiatan majelis taklim, pembacaan sholawat rutinan dan tadarus kalau ramadhan seperti ini,” katanya.
Sementara itu, di sisi belakang Masjid ini juga terdapat makam pendiri masjid, mulai dari Kyai Usman, Kyai Suhaemi, Kyai Sujak, dan keluarga lainnya.