Lebih Baik Capek Kerja Daripada Capek Nganggur!
Kenyataan sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini, seolah menjadi tamparan realita.
Matahari terbit menjadi tanda Daus harus bergegas. Memacu kendaraan, menyusuri padatnya jalanan Jakarta. Dia tidak ingin terlambat sampai di tempat kerja. Saban hari, belasan kilometer jarak yang harus dia tempuh untuk menuju kantor. Sudah hampir lima tahun, Daus menggeluti pekerjaan sebagai collection.
Daus mengaku bosan dengan rutinitas kemacetan Jakarta sebelum beraktivitas di tempat kerja. Namun kenyataan sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini, seolah menjadi tamparan realita. Dia harus berdamai dengan pergulatan batin. Menjalani setiap hari.
Masih teringat jelas dalam benak Daus, kali pertama diterima di perusahaan tersebut. Alurnya cukup panjang. Bahkan sampai menyita waktu.
"Proses saya mendapatkan pekerjaan pun mengalami banyak proses ya. Dari proses rekrutmennya sangat amat memakan waktu tenaga, dan biasa sampai dengan yang berjalan dengan mulus," tutur Daus memulai perbincangan kepada merdeka.com, Rabu (4/6).
Tahapan demi tahapan dilalui Daus nyaris selama satu bulan. Mulai dari dia mengirim lamaran pekerjaan, hingga tes kesehatan yang menjadi tahap pamungkas.
"Dari proses melamar langsung training sampai dari proses administrasi sampai proses medical check up, memakan waktu hampir satu bulan," sambungnya.
Terlebih, persaingan yang begitu ketat untuk mendapatkan posisi pekerjaan tersebut tak ayal harus Daus lalui.
"Semua proses sudah saya alami. Dan hampir semua lowongan pekerjaan yang saya temui, persentase untuk diterimanya di perusahaan tersebut ya harus direkomendasikan oleh orang yang sudah bekerja di perusahaan yang kita lamar," ungkap Daus.
Perjuangan Daus tidak cukup sampai di situ, dia harus menjalani rutinitas bekerja yang tidak kenal waktu. Kadang, Daus bisa melihat indahnya sore di Jakarta usai pulang bekerja. Namun, tidak jarang Daus harus menerobos dinginnya malam di Jakarta. Namun satu yang pasti bagi Daus, bersyukur adalah kunci utama dalam bertahan hidup di Ibu Kota.
"Pulang malam sudah biasa, apalagi belum capai target. Tapi bersyukur saja tiap bulan masih bisa terima gaji. Apalagi, sebelum bekerja di sini saya nganggur lumayan lama," cerita Daus.
Sementara itu, Rani masih terseok-seok mencari pekerjaan. Menjadi lulusan pendidikan dari salah satu universitas negeri di Jakarta, tidak menjadi 'privilege' mendapat pekerjaan di Jakarta. Lulus tahun 2020, hingga kini Rani belum mendapat pekerjaan.
Rani bercerita, dahulu di awal lulus sempat terhambat oleh pandemi Covid-19. Namun, saat ini persoalan bukan lagi Covid-19, melainkan pesaing dari lulusan baru.
"Dulu susah cari kerja karena Covid-19. Saya lulis 2020 pandemi lagi tinggi-tingginya. Kalau sekarang fresh graduate jadi saingannya," cerita Rani.
Selain itu, persoalan Rani untuk mendapat pekerjaan ialah gaji. Dia mengaku, sempat ditawari untuk mengajar di salah satu sekolah dasar di Jakarta, namun gaji yang dia terima tidak sebanding dengan beban pekerjaan.
"Pernah ditawarin dulu kan pas kuliah magang di SD, ditawarin buat jadi guru honorer tapi gajinya bikin saya kaget. Sementara, saya harus menghidupi adik-adik saya yang masih sekolah," tuturnya.
Akhirnya, Rani pun memilih untuk berjualan es teh di depan sekolah menengah pertama di kawasan Jakarta Timur.
"Sembari coba masukin lamaran, saya jualan es teh jumbo depan SMP. Alhamdullilah pemasukannya bisa bantu ekonomi keluarga," pungkas Rani.
Angka Pengangguran RI
Ketersediaan lapangan pekerjaan menjadi salah satu pekerjaan rumah pemerintahan Prabowo Subianto.
Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Februari 2025, yang diakses dari laman resmi Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan jumlah angkatan kerja pada Februari 2025 mencapai 153,05 juta orang, naik 3,67 juta orang dibandingkan Februari 2024.
Kemudian, tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) pada Februari 2025 naik sebesar 0,80 persen poin dibandingkan dengan Februari 2024.
Dari sumber survei yang sama, jumlah penduduk yang bekerja pada Februari 2025 sebanyak 145,77 juta orang, naik 3,59 juta orang apabila dibandingkan Februari 2024.
Sementara itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen, turun 0,06 persen poin dibandingkan TPT pada Februari 2024.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan, tantangan pemerintah ke depan menjaga angka pengangguran itu tidak naik, terutama pada Agustus 2025, saat banyak mahasiswa lulus dari kuliahnya.
"Yang menjadi tantangan nanti adalah Sakernas Agustus ya, ketika lulusan dari institusi pendidikan itu sudah lulus. Itu yang nanti harus kita cari ya (jalan keluarnya, red)," kata Yassierli di Jakarta, Selasa (3/6).