Bak Hidup di Masa Kerajaan, di Desa Ini Matahari Lambat Terbit & Tenggelam Cepat
Suasana ini akan langsung dirasakan ketika menapakkan kaki di Dusun Wotawati, Gunung Kidul.
Berkunjung ke Dusun Wotawati akan membuat Anda seperti berada di zaman kerajaan tempo dahulu. Suasana ini akan langsung dirasakan ketika menapakkan kaki di Dusun Wotawati.
Begitu memasuki area Dusun Witowati, puluhan rumah berarsitektur ala-ala kerajaan dengan bata ekspos di dindingnya akan langsung menyambut kita.
Gapura-gapura berdinding bata ekspos semakin menguatkan kesan bahwa kita sedang terlempar melalui lorong waktu dan kembali ke masa zaman kerajaan.
Suasana era masa kerajaan ini semakin diperkuat dengan kondisi bentang alam Dusun Wotawati yang berada di lembah Sungai Bengawan Solo Purba dan dikelilingi oleh perbukitan.
Salah seorang pengunjung Dusun Wotawati, Sarah mengaku kagum dengan keindahan suasana di sana. Bagi Sarah, perjalanan panjang selama lebih dari 2 jam dari Kota Yogyakarta langsung terbayar ketika dirinya tiba di Dusun Wotawati.
"Suasana di sini itu unik banget. Seperti sedang berada di zaman dulu, zaman kerajaan gitu. Berasa kayak lagi nonton film-film kolosal zaman dulu gitu," kata Sarah, perempuan asal Tangerang ini, Sabtu (21/6).
Selain keunikan bangunan, ada pula keunikan geografis yang ada di Dusun Wotawati. Berada di lembah Sungai Bengawan Solo Purba membuat Dusun Wotawati memiliki keunikan geografis yang lain daripada daerah lainnya.
Saat berada di Dusun Wotawati, matahari terbit lebih lambat dibandingkan daerah lainnya. Sedangkan pada sore hari, matahari lebih cepat tenggelam saat Anda berada di Dusun Wotawati. Di dusun ini, pada pukul 17.00 WIB suasana sudah gelap layaknya malam hari.
Kepala Dusun Wotawati Robby Sugihastanto menerangkan kondisi matahari lebih lambat terbit dan malam datang lebih cepat di Dusun Wotawati ini karena lokasinya diapit oleh bukit-bukit yang menjulang tinggi.
"Kalau pagi hari di sini, matahari datang agak terlambat. Kalau di dusun lain sudah kena sinar matahari jam 06.00 WIB atau jam 07.00 WIB, di sini baru terkena sinar matahari jam 08.00 WIB. Itu kalau kondisinya tidak mendung," kata Robby.
"Kalau sore, jam 16.30 WIB atau jam 17.00 WIB di sini sudah gelap. Karena mataharinya sudah terhalang gunung-gunung di samping-samping sini," imbuh Robby.
Dusun Watowati Diperkirakan Berumur Ratusan Tahun
Robby menceritakan dahulu orang tak percaya jika ada warga yang tinggal di sini yang dianggap sebagai daerah terpencil. Posisi Dusun Wotawati yang berada di lembah Sungai Bengawan Solo Purba ini membuatnya berada di daerah yang jauh dari pemukiman lainnya.
"Kalau dipikir sama orang lain, dulu pada tidak percaya kok ada dusun di daerah terpencil. Di lembah Sungai Bengawan Solo Purba dan diapit oleh gunung-gunung seperti ini. Selain itu di sisi selatannya laut dan sisi timur serta utara sudah masuk wilayah Wonogiri (Jawa Tengah)," urai Robby.
Robby menyebut Dusun Witowati ini diperkirakan sudah berumur 200 tahun lebih. Berdasarkan cerita dari para sesepuh dipercaya penduduk pertama yang menginjakkan kaki di tanah bekas lembah Bengawan Solo Purba ini adalah dua orang pelarian dari Kerajaan Majapahit.
Dua orang ini bernama Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati. Keduanya kemudian bertempat tinggal di Gua Putri yang berada di sekitar area yang kini menjadi Padukuhan Wotawati ini.
Untuk bisa bertahan hidup dimasa pelarian ini, Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati turun dari gua tersebut untuk mencari lahan bercocok tanam.
Ketika mencari lahan untuk bercocok tanam, keduanya pun harus melewati sungai kecil yang dahulu ada. Maka, keduanya membuat wot atau jembatan dari bambu yang dipakai untuk menyeberang ke lahan.
“Setelah jembatan itu jadi, keduanya mau menyeberangi. Nah sampai di tengah-tengah jembatan itu, Nyi Arum Sukmawati terpeleset. Mau jatuh dan diselamatkan sama Raden Joko Sukmo. Setelah beliau selamat dari jembatan itu, bisa menyeberangi, Nyi Arum Sukmawati itu berkata, 'entah kapan di sini itu jadi dusun ataupun padukuhan, nanti jadi Padukuhan Wotawati'," urai Robby.
"Jadi kata Wotawati itu diambil dari wot-nya (jembatan) itu yang buat penyeberangan. Sama yang menyeberangi itu, yang terpeleset namanya Sukmawati. Jadi wot dan wati terus jadi Wotawati,” imbuh Robby.