KTT G20: Indonesia Dorong Tempatkan Isu Kemanusiaan di Pusat Tata Kelola Global
Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan rawan bencana di lingkar Asia Pasifik memandang strategi pengurangan risiko sebagai elemen penting.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menekankan pentingnya menempatkan isu kemanusiaan sebagai inti tata kelola global dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20. Dia menyoroti rangkaian bencana alam serta krisis di berbagai belahan dunia, termasuk konflik kemanusiaan dari Palestina hingga Ukraina, yang menegaskan bahwa sebagian bencana akibat dari ulah manusia.
“Bapak Wakil Presiden menggarisbawahi bahwa bencana tidak hanya bersifat alamiah. Sebagian merupakan akibat perbuatan manusia. Kita melihat hal itu terjadi di Gaza, Ukraina, Sudan, Sahel, dan banyak kawasan lain. Situasi ini menegaskan perlunya menempatkan kemanusiaan di pusat tata kelola global serta mendorong G20 mengambil peran keteladanan,” tutur Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto dalam konferensi pers di Johannesburg, Afrika Selatan, Sabtu (22/11).
Terkait risiko bencana alam, Gibran menekankan pentingnya penguatan mitigasi. Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan rawan bencana di lingkar Asia Pasifik memandang strategi pengurangan risiko sebagai elemen penting pembangunan nasional.
Pertumbuhan Ekonomi Adil
Wakil Kepala Negara juga menyoroti perlunya pertumbuhan ekonomi global yang kuat, adil, dan inklusif. Dia menilai, akses pembiayaan internasional harus lebih mudah, dapat diprediksi, dan setara, terutama bagi negara-negara berkembang.
Langkah-langkah seperti penghapusan utang, pembiayaan inovatif, pembiayaan campuran, dan transisi hijau disebutnya sebagai pilihan yang perlu diperkuat.
Dalam sesi tersebut, Gibran mencontohkan keberhasilan Indonesia menerapkan standar pembayaran nasional melalui kode QR yang dikembangkan Bank Indonesia. Solusi digital berbiaya rendah ini telah diadopsi oleh sejumlah negara di Asia, termasuk Jepang dan Korea Selatan.
Selain itu, dia turut mendorong dimulainya dialog G20 mengenai intelligence economy atau ekonomi berbasis kecerdasan, seiring pesatnya perkembangan teknologi keuangan dan artificial intelligence. Dia juga menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya agenda ekonomi, tetapi kebutuhan mendasar dan investasi strategis.
Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sendiri telah menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai memberi dampak nyata bagi ekonomi rakyat, melalui pemanfaatan produk lokal dan pemberdayaan petani serta peternak.
“Dalam laporan terbaru disebutkan bahwa 720 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan. Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi contoh nyata yang memperkuat pemanfaatan produk lokal, memberdayakan petani dan peternak, sekaligus memperluas kegiatan ekonomi dengan rantai pasok yang menjangkau seluruh pelosok Indonesia,” jelas Airlangga.
Airlangga mengatakan, Gibran menyampaikan harapannya agar G20 terus mewakili kepentingan seluruh bangsa. Dia menilai peran negara-negara Global South penting untuk membentuk tata kelola ekonomi global yang lebih inklusif.
“Apa yang dimulai Indonesia saat memimpin G20 pada 2022 dilanjutkan Afrika Selatan tahun ini, terutama dalam mendorong inklusivitas, memperkuat suara Global South, dan memastikan forum G20 benar-benar mewakili kepentingan semua bangsa,” Airlangga menandaskan.