Klinik MER-C untuk Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe Resmi Beroperasi
MER-C Indonesia kini resmi mengoperasikan klinik baru di Lhokseumawe, fokus meningkatkan layanan kesehatan dasar bagi pengungsi Rohingya yang direlokasi. Simak detailnya.
MER-C Indonesia telah memulai pengoperasian klinik kesehatan bagi pengungsi Rohingya di Lhokseumawe, Aceh. Layanan ini hadir setelah 28 pengungsi direlokasi oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe ke shelter baru di Desa Masjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat. Inisiatif ini bertujuan memastikan akses kesehatan dasar yang memadai bagi mereka.
Klinik yang dibangun di kawasan shelter tersebut telah siap memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada para pengungsi. Project Manager MER-C untuk Pengungsi Rohingya, Ira Hadiati, menjelaskan bahwa fasilitas ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. MER-C bekerja sama dengan Puskesmas Punteuet untuk penyediaan tenaga kesehatan.
Relokasi pengungsi dari penampungan lama di bekas Kantor Imigrasi Punteuet dilakukan pada Kamis (25/6) oleh Pemerintah Kota Lhokseumawe. Shelter baru ini merupakan hasil kolaborasi sejumlah lembaga kemanusiaan untuk menyediakan hunian lebih layak dengan fasilitas yang sebelumnya terbatas. Kehadiran klinik ini diharapkan menjadi solusi permanen bagi kebutuhan medis pengungsi.
Fokus Layanan Kesehatan Dasar di Shelter Baru
Klinik yang dioperasikan MER-C di Lhokseumawe secara khusus menyediakan layanan kesehatan dasar bagi pengungsi Rohingya. Ira Hadiati menegaskan bahwa klinik ini menjadi fasilitas krusial dalam upaya meningkatkan kualitas hidup 28 pengungsi tersebut. Pelayanan kesehatan dasar ini sangat penting untuk menjaga kondisi kesehatan mereka di lokasi penampungan.
Dalam operasionalnya, MER-C Indonesia menjalin kerja sama dengan Puskesmas Punteuet untuk penyediaan tenaga kesehatan. Kolaborasi ini memastikan bahwa layanan medis yang diberikan memiliki standar dan dukungan dari fasilitas kesehatan setempat. Ketersediaan tenaga medis yang memadai menjadi kunci keberhasilan program ini.
Penyediaan fasilitas kesehatan di shelter pengungsi Rohingya di Lhokseumawe juga merupakan bentuk keberlanjutan misi kemanusiaan MER-C. Hal ini menunjukkan komitmen organisasi dalam memberikan bantuan medis berkelanjutan kepada kelompok rentan. Keberadaan klinik ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi penanganan pengungsi di lokasi lain.
Sentralisasi Pengungsi dan Misi Kemanusiaan MER-C
MER-C menjadi salah satu pihak yang menginisiasi upaya sentralisasi pengungsi Rohingya di satu lokasi penampungan. Langkah strategis ini diharapkan dapat mempermudah penyelenggaraan layanan dasar, termasuk pendidikan, serta meningkatkan efektivitas koordinasi dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Sentralisasi ini menciptakan lingkungan yang lebih terstruktur untuk bantuan kemanusiaan.
Layanan kesehatan di shelter ini dihadirkan sebagai alternatif setelah Rumah Sakit MER-C di Myanmar tidak lagi dapat beroperasi. Kondisi ini mendorong MER-C untuk memfokuskan amanah kemanusiaan bagi Rohingya ke kamp di Lhokseumawe. Ira Hadiati menyatakan bahwa tujuan utama adalah menjadikan shelter ini sebagai percontohan.
Misi kemanusiaan MER-C di Aceh memiliki sejarah panjang, mulai dari penanganan medis pascakonflik, gempa dan tsunami, hingga tanggap darurat di Pidie Jaya dan Bener Meriah. Fokus pada pengungsi Rohingya saat ini merupakan kelanjutan dari komitmen tersebut. MER-C juga telah menyalurkan bantuan sembako sebelumnya untuk pengungsi Rohingya di Lhokseumawe.
Fasilitas Lengkap di Shelter Pengungsi Lhokseumawe
Pemerintah Kota Lhokseumawe merelokasi 28 pengungsi Rohingya dari penampungan lama ke shelter baru. Pengungsi tersebut terdiri atas 15 laki-laki dan 13 perempuan. Relokasi ini bertujuan untuk memberikan kondisi hunian yang lebih baik dan terpusat.
Shelter baru ini dibangun melalui kolaborasi sejumlah lembaga kemanusiaan, termasuk Dayah ZQA, untuk meningkatkan kualitas hunian sementara. Pembangunan fasilitas penampungan sementara ini diharapkan dapat menyediakan lingkungan yang lebih layak bagi para pengungsi.
Selain dilengkapi Klinik MER-C, shelter baru tersebut juga memiliki sarana hunian berupa 15 unit bangunan semi permanen. Fasilitas pendukung lainnya meliputi MCK (Mandi, Cuci, Kakus), akses air bersih, tempat ibadah, serta berbagai program pendukung lainnya. Kelengkapan fasilitas ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kenyamanan pengungsi.
Sumber: AntaraNews