Keracunan Massal MBG, DPR Akan Sidak Dapur: Cari Akar Masalahnya
Berdasarkan data terbaru per pukul 23.56 WIB, jumlah siswa yang mengalami keracunan diduga lantaran menyantap menu MBG.
Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa DPR akan menjalankan fungsi pengawasan menyusul maraknya kasus keracunan siswa akibat program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini diambil guna memastikan pelaksanaan program berjalan aman dan sesuai tujuan.
Diketahui, berdasarkan data terbaru per pukul 23.56 WIB, jumlah siswa yang mengalami keracunan diduga lantaran menyantap menu MBG di Kecamatan Cipongkor, mencapai 301 orang.
"Kemudian evaluasi terkait dengan MBG, seperti fungsi pengawasannya, kami akan melakukan pengawasan tempat-tempat yang mana ada masalah di dapur-dapur MBG untuk melihat secara langsung itu sebenarnya masalahnya itu seperti apa," kata Puan kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (23/9).
"Apakah di dapurnya, apakah di sekolahnya, untuk bisa melihat dari hulunya itu sebenarnya masalahnya seperti apa," sambungnya.
Ketua DPP PDIP ini menegaskan, evaluasi secara total ini ingin dilakukan oleh pihaknya agar tidak adanya saling menyalahkan.
"Jadi memang evaluasinya itu harus dilakukan secara total, jadi jangan saling menyalahkan, tapi kita evaluasi bersama sehingga jangan terulang kembali," tegasnya.
Siswa Keracunan MBG di Cipongkor
Berdasarkan data terbaru per pukul 23.56 WIB, jumlah siswa yang mengalami keracunan diduga lantaran menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, mencapai 301 orang.
"Perkembangan sementara jumlah korban keracunan sampai dengan pukul 23.56 Wib sebanyak 301 orang yang terdiri dari berbagai siswa sekolah mulai tingkat SD, Mts, SMP dan SMK," ungkap Kapolsek Sindangkerta, Iptu Sholehuddin, saat dikonfirmasi wartawan pada, Selasa (23/9).
Dari data tersebut, korban mengalami atau merasakan sejumlah gejala keracunan mulai pusing, mulai, sesak nafas, dirawat di sejumlah tempat. Antara lain, sebanyak 116 orang di Puskesmas Cipongkor, 13 orang di Bidang Desa Sirnagalih, 27 orang di RSUD Cililin, 127 orang di Posko Kecamatan Cipongkor, kemudian sebanyak 18 orang di RSIA Anugrah.
"Korban yang datang ke Posko Kecamatan sampai saat ini masih berdatangan dan dimungkinkan jumlah korban keracunan akan terus bertambah," katanya.
Sementara itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) tengah menyiapkan secara darurat sejumlah fasilitas kesehatan guna menampung para korban keracunan, baik dari pihak swasta maupun pemerintah.
"Saat ini Dinkes sudah menyulap fasilitas kesehatan pemerintah juga swasta untuk menampung korban-korban yang diduga keracunan makanan," ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, KBB, Lia N. Sukandar, saat dihubungi wartawan, pada waktu yang sama.
Butuh Oksigen
Lia menyebut, para siswa yang mengalami keracunan di antaranya merupakan siswa dari SMK Pembangunan Bandung Barat (PBB), Madrasah Tsanawiyah (MTS) Darul Fiqri, hingga SD Negeri Sirnagalih.
"Saat ini paling dibutuhkan, oksigen. Kami Dinkes menghandle kebutuhan oksigen dari RSUD Cililin. Tapin mudah-mudahan ada tambahan lagi, InsyaAllah kami koordinasi dengan RSUD Cikalong Wetan," sebutnya.
Dengan kondisi ini, Pemerintah KBB melalui Dinkes ditegaskannya akan menetapkan KLB.
"Dari Dinkes baru besok akan menetapkan Kejadian Luar Biasa, setelah data terkumpul, sampel juga, tadi kami mengambil sampel muntahan yang akan dibawa ke laboratorium," katanya.