Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman meninjau sejumlah lokasi posko penanganan ratusan siswa keracunan MBG di Cipongkor Bandung Barat. Ada sekitar 500 korban kembali bertumbangan, pada Rabu (24/9).
Atas adanya kejadian tersebut, Herman bilang Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah berkoordinasi dengan pemerintah di Kota dan Kabupaten Bandung, serta Kota Cimahi guna turut memberikan bantuan. Langkah tersebut diharapkan agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan baik.
"Nah tentu yang pertama yang kami lakukan adalah memastikan semua anak tertangani dengan baik," tuturnya.
Dia mengatakan, sokongan bantuan itu berupa unit-unit ambulans. Begitu juga, dengan sokongan tenaga medis. "Ambulans kami kerahkan, tenaga medis kami kerahkan, bukan hanya dari KBB tapi juga dari Kota Bandung, dari Kota Cimahi, dan dari Kabupaten Bandung," kata dia.
"Tadi siang kami langsung koordinasi dengan Pak Sekda dan langsung mengambil langkah mengirimkan ambulans dan tenaga kesehatan kami," ujarnya.
Selain itu, Herman berkoordinasi agar sejumlah rumah sakit di Kota Cimahi, Kota Bandung, serta Kabupaten Bandung turut bersiap menampung pasien keracunan manakala penanganan lebih lanjut dibutuhkan.
Adapun sejumlah rumah sakit yang siap menampung di antara ialah Rumah Sakit Cibabat, Rumah Sakit Dustira, Rumah Sakit Otista, Rumah Sakit Sartikasih, hingga Rumah Sakit Welas Asih.
"Jadi untuk rumah sakit tidak kekurangan, tempat tidurnya juga kami siapkan maksimal," ujar dia.
Advertisement
Distribusi Obat
Herman juga memastikan bahwa distribusi obat yang dibutuhkan telah tersalurkan ke sejumlah titik posko penanganan keracunan MBG.
"Demikian juga obat-obatan, kami sudah drop semuanya cepat, baik yang ke Cipongkor, ke Citalem maupun ke Cihampelas. Oksigen juga kami drop memadai," kata dia.
Sebelumnya, suasana panik kembali pecah di GOR Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, pada Rabu (24/9) sore. Itu menyusul terus bertambahnya korban siswa yang mengalami gejala keracunan usai menyantap Makanan Gizi Gratis (MBG) pada Rabu (24/9).
Puluhan mobil ambulans terpantau siaga di halaman kantor kecamatan itu. Beberapa unit terlihat terus hilir-mudik, dengan sirine meraung-raung, keluar-masuk lingkungan Kecamatan Cipongkor yang menjadi salah satu posko utama penanganan korban keracunan MBG.
Selain itu, terpantau 2 tenda BNPB mulai didirikan. Ratusan warga termasuk kerabat para korban terlihat memenuhi area tersebut.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman pun meninjau kondisi penanganan ratusan siswa keracunan di wilayah Bandung Barat, khususnya di Kecamatan Cipongkor. Berdasarkan data terbaru yang diperolehnya, ada sekitar 500 siswa mulai jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat yang mengeluhkan keracunan di wilayah Cipongkor, KBB, pada hari Rabu 24 September 2025 ini.
"Teridentifikasi ada 500 yang mengeluh dan langsung kami tangani," katanya, saat dijumpai wartawan di Kecamatan Cipongkor, Rabu (24/9).
Advertisement
Gejala yang Dialami
Dari jumlah tersebut, sekitar 400 di antara ditangani di posko Kecamatan, sedangkan 100 lainnya di posko puskesmas di wilayah Citalem.
Dia menyebut, para siswa yang terpapar keracunan mengalami sejumlah gejala mulai pusing, mual, sesak. Ada juga yang kejang-kejang, tapi kata dia itu tidak banyak. Sejumlah gejala tersebut dikeluhkan usai mereka menyantap paket MBG yang didistribusikan oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Neglasari.
Dapur SPPG ini, berbeda dengan dapur SPPG Cipari, Kecamatan Cipongkor, yang mendistribusikan paket MBG yang berujung keracunan massal ratusan siswa pada Senin (22/9) hingga Selasa (23/9).
"Keluhannya pada umumnya itu mual, kemudian sesak, pusing, lemas. Ada juga 1–2 yang kejang, sebagian besar lemas, pusing, mual, dan ada juga yang sesak," kata dia.
Selain di wilayah kecamatan Cipongkor, dia menyebut bahwa keracunan siswa akibat MBG juga terjadi di Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, pada hari Rabu (24/9) ini. Sekitar 50 siswa terdata mengalami keracunan, dengan korbannya yang diprediksi terus bertambah.
"Perkembangan terakhir di Cihampelas 50 lebih, tapi dinamis. Jadi kami terus monitor," ujar dia.