Kemenhaj Gembleng Petugas Haji Profesional dan Berintegritas untuk Layanan Prima 2026
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menggelar diklat intensif selama sebulan untuk calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M, demi mencetak petugas haji profesional dan berintegritas yang siap melayani jemaah.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia sedang memperkuat persiapan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi. Langkah strategis ini diwujudkan melalui pendidikan dan pelatihan (diklat) intensif bagi calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Diklat ini berlangsung selama sebulan penuh di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, dimulai sejak 10 Januari 2026.
Inspektur Jenderal Kemenhaj, Dendi Suryadi, menegaskan bahwa program pelatihan ini bertujuan membentuk petugas yang profesional dan berintegritas tinggi. Fokus utama diklat mencakup penguatan fisik, mental, peningkatan kemampuan sesuai tugas, serta membangun persatuan di antara para petugas. Harapannya, petugas haji dapat memberikan pelayanan prima bagi para tamu Allah di Tanah Suci.
Terobosan signifikan dalam diklat kali ini adalah pelibatan Markas Besar (Mabes) TNI dan Polri. Sebanyak 179 personel pelatih dari kedua institusi tersebut diterjunkan untuk menggembleng calon petugas. Metode pelatihan mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan militer, guna memastikan petugas memiliki stamina dan ketahanan di atas rata-rata jemaah.
Penguatan Fisik dan Mental Petugas Haji
Diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1447 H/2026 M dirancang untuk menghasilkan petugas dengan fisik yang prima dan mental yang tangguh. Inspektur Jenderal Kemenhaj, Dendi Suryadi, menjelaskan bahwa ibadah haji menuntut ketahanan fisik yang tinggi, sehingga petugas harus lebih kuat dari sebelumnya. Oleh karena itu, penguatan fisik menjadi prioritas utama dalam pelatihan ini.
Pada minggu pertama pelatihan, para petugas digembleng dengan metode Peraturan Baris Berbaris (PBB). Metode ini dipilih secara khusus untuk melatih kedisiplinan, kemampuan mendengarkan, dan mematuhi instruksi komando secara cepat dan tepat. Dendi Suryadi menekankan bahwa PBB merupakan cara efektif untuk membentuk kebiasaan disiplin dan responsif dalam menghadapi berbagai situasi.
Selain fisik, aspek mental pelayan (service mindset) juga menjadi fokus penting. Kemenhaj berharap setiap petugas memiliki mental yang tangguh dan siap sedia sebagai pelayan jemaah. Pembentukan mental ini krusial agar petugas dapat menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi dan empati, meskipun menghadapi tantangan di lapangan.
Komitmen dan Konsekuensi Ibadah Petugas
Kemenhaj juga memberikan penekanan khusus pada komitmen petugas saat puncak haji di Arafah. Bagi petugas yang belum menunaikan ibadah haji, Kemenhaj memberikan kesempatan untuk berhaji. Namun, kesempatan ini datang dengan syarat ketat, yaitu petugas tidak boleh menanggalkan atribut dinasnya selama wukuf di Arafah.
Instruksi ini bertujuan untuk memastikan petugas tetap mudah diidentifikasi dan dapat memberikan pelayanan kepada jemaah kapan pun dibutuhkan. Konsekuensi dari kebijakan ini adalah petugas akan melanggar larangan ihram, seperti mengenakan pakaian berjahit. Oleh karena itu, mereka diwajibkan membayar dam atau denda sebagai tebusan atas pelanggaran tersebut.
Dendi Suryadi menilai kebijakan ini adil, mengingat petugas mendapatkan prioritas untuk berhaji di tengah antrean jemaah reguler yang mencapai jutaan orang. Kebijakan ini juga mencerminkan pentingnya peran petugas dalam menjaga kelancaran dan kenyamanan ibadah haji bagi seluruh jemaah, bahkan di momen sakral seperti wukuf di Arafah.
Peningkatan Kompetensi Teknis dan Optimisme Layanan
Setelah penguatan fisik dan mental dasar, pelatihan akan berlanjut ke minggu kedua yang berfokus pada Tugas dan Fungsi (Tusi) masing-masing bidang. Pelatihan teknis ini mencakup berbagai aspek layanan haji, mulai dari layanan bandara, akomodasi, katering, kesehatan, hingga layanan media melalui Media Center Haji. Setiap bidang akan mendapatkan materi dan simulasi yang relevan dengan tugasnya.
Para pelatih internal Kemenhaj bersama personel TNI dan Polri akan mendesain modul pelatihan yang spesifik. Ini memastikan setiap petugas memiliki kemampuan mumpuni sesuai dengan tanggung jawabnya, baik itu dalam mengelola kedatangan jemaah di bandara, pengaturan tempat tinggal, penyediaan konsumsi, penanganan kesehatan, maupun penyampaian informasi kepada publik.
Dengan pola pelatihan baru yang menekankan disiplin, kekompakan (jiwa korsa), dan kompetensi teknis, Kemenhaj optimistis layanan haji 2026 akan jauh lebih baik dan terorganisir. Dendi Suryadi berharap, melalui upaya ini, penyelenggaraan ibadah haji dapat berjalan lancar dan memberikan pengalaman terbaik bagi seluruh jemaah.
Sumber: AntaraNews