Kasus HIV/AIDS di Sumsel Terus Bertambah, Palembang Jadi Penyumbang Terbanyak
Kondisi ini amat mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.
Kasus HIV/AIDS di Sumatra Selatan terus mengalami peningkatan dan menjadi perhatian serius berbagai pihak. Kondisi ini amat mengkhawatirkan dan perlu diwaspadai bersama oleh seluruh lapisan masyarakat.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumatra Selatan, jumlah pasien HIV/AIDS di provinsi tersebut pada 2025 tercatat mencapai 907 orang. Dari jumlah itu, sebanyak 609 orang merupakan penderita HIV dan 298 orang telah terinfeksi AIDS.
Kota Palembang menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 451 penderita. Selanjutnya disusul Lubuklinggau dengan 75 kasus, Musi Banyuasin 64 kasus, Ogan Komering Ulu Timur 49 kasus, Muara Enim 44 kasus, Prabumulih dan Ogan Komering Ilir masing-masing 33 kasus.
Sementara itu, kasus HIV/AIDS juga tercatat di sejumlah daerah lain, seperti Lahat dengan 31 kasus, Banyuasin 29 kasus, Musi Rawas 26 kasus, Ogan Komering Ulu 21 kasus, Empat Lawang 15 kasus, Ogan Ilir 12 kasus, OKU Selatan 8 kasus, Penukal Abab Lematang Ilir 7 kasus, Pagaralam 6 kasus, serta Musi Rawas Utara 3 kasus.
Peningkatan Jumlah Penderita HIV/AIDS Cukup Signifikan Dalam Beberapa Tahun Terakhir
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, mengungkapkan bahwa angka penderita HIV/AIDS di Sumatra Selatan masih tergolong tinggi.
"Angka penderita HIV/AIDS di Sumsel masih tinggi. Pada 2025 lalu, ada 907 kasus baru," ungkap Ira, Selasa (20/1).
Menurut Ira, peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS terjadi cukup signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, jumlah kasus baru tercatat sebanyak 321 kasus. Angka tersebut meningkat menjadi 639 kasus pada 2022, lalu kembali melonjak menjadi 846 kasus pada 2023, dan naik drastis pada 2024 hingga mencapai 992 kasus.
"Memang 2025 agak turun dari tahun sebelumnya, tapi tidak terlalu signifikan," kata Ira.
Ia menegaskan, tingginya jumlah penderita HIV/AIDS harus menjadi kewaspadaan bersama. Tanpa kesadaran dan upaya pencegahan yang serius, angka penularan dikhawatirkan akan terus meningkat.
"Perilaku seksual berisiko masih menjadi penyebab utama penularan," kata Ira.