Kasanga Festival Denpasar 2026: Parade Ogoh-ogoh Unik dan Kesenian Tradisional
Kasanga Festival Denpasar kembali digelar pada 6-8 Maret 2026, menampilkan parade ogoh-ogoh dengan sistem baru, kesenian Bali, dan pameran UMKM tradisional yang menarik perhatian. Jangan lewatkan kemeriahannya!
Kasanga Festival ke-4 akan memeriahkan Kota Denpasar, Bali, pada tanggal 6 hingga 8 Maret 2026. Acara ini berpusat di Kawasan Catur Muka dan Lapangan Puputan Badung, menampilkan perpaduan kesenian tradisional Bali, pameran UMKM, serta pawai ogoh-ogoh yang menjadi daya tarik utama. Festival ini menjadi ajang penting untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di Denpasar.
Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menjelaskan bahwa penyelenggaraan tahun ini berbeda dari sebelumnya, terutama pada format pawai ogoh-ogoh. Sistem parade yang diadopsi menyerupai 'peed aye' pada Pesta Kesenian Bali (PKB), bertujuan untuk mengurai penumpukan penonton di satu titik. Perubahan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih nyaman bagi pengunjung dan peserta festival.
Fokus utama Kasanga Festival 2026 adalah pada penampilan seni dan budaya, tanpa menghadirkan konser musik modern. Sebanyak 16 ogoh-ogoh terbaik dari empat kecamatan di Kota Denpasar akan berpartisipasi dalam pawai, menampilkan kreativitas dan kekayaan seni rupa Bali. Acara ini juga dimeriahkan dengan berbagai lomba dan pertunjukan seni lainnya, menegaskan komitmen Denpasar dalam memajukan warisan budayanya.
Perubahan Format Pawai Ogoh-ogoh di Kasanga Festival Denpasar
Pawai ogoh-ogoh pada Kasanga Festival tahun ini mengadopsi sistem parade atau 'mepeed' yang mirip dengan 'peed aye' di Pesta Kesenian Bali (PKB). Perubahan ini dilakukan untuk menyebarkan penonton di berbagai titik sepanjang rute parade, sehingga tidak terjadi penumpukan massa seperti tahun-tahun sebelumnya. Seluruh penampilan peserta tidak akan terpusat di Kawasan Catur Muka saja, melainkan akan berlangsung sepanjang perjalanan dari garis start hingga finis.
Rute pawai akan dimulai dari depan Jayasabha, atau rumah jabatan Gubernur Bali, kemudian berkeliling satu kali di Kawasan Catur Muka. Setelah itu, ogoh-ogoh akan terus bergerak ke arah selatan hingga berakhir di Jalan Gajah Mada, ujung selatan Lapangan Puputan Badung. Untuk menjamin kelancaran dan ketertiban, jalur di sepanjang Jalan Udayana akan dipasangi pembatas (barrier). Ini bertujuan untuk memastikan tidak ada penonton atau orang di luar regu yang masuk ke barisan belakang ogoh-ogoh saat atraksi berlangsung.
Wakil Ketua Panitia Kasanga Festival, I Gede Yogi Pramana, menjelaskan bahwa 16 ogoh-ogoh nominasi akan memasuki kawasan acara sejak dini hari tanggal 6 Maret. Proses penataan akan berlangsung hingga pukul 14.00 Wita sebelum pawai dimulai pada pukul 17.00 Wita. Selain parade utama, festival ini juga dimeriahkan dengan lomba ogoh-ogoh mini, sketsa, tapel, serta pertunjukan barong, bleganjur, dan parade ogoh-ogoh IGTKI.
Fokus Kesenian dan Ekonomi Lokal
Kasanga Festival 2026 secara tegas difokuskan pada penampilan seni dan budaya tradisional Bali, tanpa adanya konser musik. Keputusan ini menyoroti esensi festival sebagai wadah pelestarian dan promosi kekayaan budaya lokal. Berbagai bentuk kesenian Bali akan disajikan, memberikan pengalaman otentik bagi para pengunjung.
Aspek ekonomi lokal juga mendapat perhatian khusus melalui pameran UMKM kuliner tradisional Bali. Stan-stan makanan ini akan dikelola oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) atau kelompok pemuda-pemudi setempat. Inisiatif ini tidak hanya mendukung ekonomi komunitas, tetapi juga memperkenalkan cita rasa kuliner khas Bali kepada khalayak luas.
Penyelenggaraan festival juga diperkuat dengan penerapan manajemen sampah yang ketat. Sistem pemilahan limbah akan diterapkan selama acara berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Maret, menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. Hal ini sejalan dengan upaya Denpasar untuk menyelenggarakan acara yang tidak hanya meriah tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kriteria Penilaian dan Apresiasi untuk Seniman
Dalam aspek penilaian ogoh-ogoh, perwakilan juri I Gede Anom Ranuara menegaskan bahwa kedisiplinan dan kerapian menjadi poin krusial. Sebanyak lima juri akan melakukan tinjauan langsung sepanjang rute pawai untuk memastikan peserta telah merealisasikan revisi sesuai catatan sebelumnya. Juri tidak segan untuk mengeluarkan orang di luar regu atau melakukan pemotongan nilai demi menjaga integritas kreativitas dan keutuhan penampilan ogoh-ogoh.
Pemerintah Kota Denpasar memberikan apresiasi yang signifikan kepada para peserta. Setiap ogoh-ogoh yang masuk dalam 16 besar akan menerima uang pembinaan sebesar Rp30 juta. Selain itu, enam ogoh-ogoh terbaik akan memperoleh hadiah tambahan dengan rincian sebagai berikut:
- Juara I: Rp50 juta
- Juara II: Rp40 juta
- Juara III: Rp30 juta
- Juara Harapan I: Rp20 juta
- Juara Harapan II: Rp15 juta
- Juara Harapan III: Rp10 juta
Tidak hanya itu, lomba ogoh-ogoh mini juga menyediakan hadiah menarik. Untuk kategori mesin, juara pertama berhak atas Rp10 juta, juara kedua Rp8 juta, dan juara ketiga Rp6 juta. Sementara itu, untuk kategori non-mesin, hadiah yang diberikan adalah Rp8 juta, Rp6 juta, dan Rp4 juta. Lomba sketsa ogoh-ogoh juga mengapresiasi para pemenang dengan hadiah berturut-turut Rp5 juta, Rp4 juta, dan Rp3 juta.
Sumber: AntaraNews