Pemerintah Jamin Tak Ada Larangan Pawai Ogoh-ogoh dan Takbiran, Perkuat Toleransi NTB
Meski perayaan Nyepi dan Idul Fitri berdekatan, Pemerintah Provinsi NTB memastikan pawai ogoh-ogoh dan takbiran tetap berjalan. Ini bukti nyata kuatnya toleransi NTB.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan tidak ada pelarangan terhadap pelaksanaan pawai ogoh-ogoh menjelang Hari Raya Nyepi maupun pawai takbiran menyambut Idul Fitri. Kedua perayaan keagamaan ini dipastikan dapat berlangsung sesuai tradisi. Kebijakan ini diambil meskipun waktu pelaksanaan kedua acara tersebut saling berdekatan.
Juru Bicara Pemerintah NTB, Ahsanul Khalik, menyatakan bahwa seluruh kegiatan keagamaan dapat dilaksanakan seperti biasa, asalkan tetap memperhatikan ketertiban dan kesepahaman bersama di tingkat masyarakat. Ini menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam menjaga kerukunan.
Keputusan ini mencerminkan tradisi toleransi yang kuat di masyarakat NTB, di mana sikap saling menghargai dalam menjalankan ajaran serta ritual agama masing-masing telah lama terjalin. Momentum beririsan ini menjadi kesempatan untuk memperlihatkan penghormatan antar umat beragama.
Jaminan Kebebasan Beribadah dan Toleransi NTB
Pemerintah Provinsi NTB secara tegas mendukung seluruh kegiatan keagamaan masyarakat, selama pelaksanaannya berlangsung tertib dan saling menghargai. Ahsanul Khalik menekankan bahwa toleransi bukan hanya sekadar slogan, melainkan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Jaminan ini diberikan untuk memastikan bahwa setiap komunitas agama dapat merayakan hari besar mereka tanpa hambatan. Hal ini sekaligus menjadi penegasan bahwa kebebasan beribadah di NTB tetap dihormati dan dilindungi oleh pemerintah daerah.
Sikap pemerintah ini sejalan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi kerukunan antar umat beragama. Dengan demikian, masyarakat dapat menjalankan keyakinan mereka dengan tenang dan damai, memperkuat fondasi kebersamaan di wilayah tersebut.
Koordinasi Lintas Agama untuk Ketertiban Pawai Ogoh-ogoh dan Takbiran
Untuk memastikan kelancaran dan ketertiban kedua kegiatan, Pemerintah Kota Mataram telah melakukan serangkaian pertemuan koordinasi. Pertemuan ini melibatkan tokoh agama Hindu dan Islam, panitia pawai ogoh-ogoh, panitia takbiran, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), serta aparat keamanan.
Beberapa kesepakatan penting telah dicapai, meliputi tata tertib pelaksanaan kegiatan, pembatasan jumlah peserta dari luar daerah, pengaturan rute, ketepatan waktu, dan pengawalan oleh aparat keamanan. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mencegah potensi konflik dan menjaga suasana kondusif.
Koordinasi serupa juga dilaksanakan di berbagai daerah lain di NTB, termasuk di wilayah Lingsar dan Narmada di Kabupaten Lombok Barat, serta Kabupaten Sumbawa. Ini menunjukkan upaya menyeluruh dari pemerintah daerah untuk memastikan setiap perayaan berjalan aman dan tertib, memperkuat toleransi NTB.
Kekuatan Toleransi Masyarakat NTB dalam Berbagi Ruang
Ahsanul Khalik menyoroti kedewasaan masyarakat NTB dalam beragama, yang tercermin dari sikap saling memberi ruang bagi pelaksanaan ibadah masing-masing. Umat Islam memberikan kesempatan kepada umat Hindu untuk melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi, termasuk pawai ogoh-ogoh dan Catur Brata Penyepian.
Sebaliknya, umat Hindu juga menunjukkan penghormatan terhadap pelaksanaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri, yang merupakan bagian integral dari perayaan Idul Fitri umat Islam. Interaksi positif ini menjadi contoh nyata bagaimana toleransi dapat terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik NTB ini menegaskan bahwa kehidupan masyarakat NTB yang saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama adalah kekuatan sosial yang harus terus dijaga. Pemerintah mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk turut menjaga suasana kondusif selama perayaan berlangsung.
Sumber: AntaraNews