Gubernur NTB Ajak Warga Jaga Toleransi Nyepi-Takbiran Beririsan, Perkuat Harmoni Beragama
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyerukan masyarakat untuk menjaga toleransi Nyepi-Takbiran beririsan. Momen ini diharapkan menjadi teladan kerukunan antarumat beragama di NTB, menunjukkan kedewasaan sosial yang patut dicontoh.
Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga suasana toleransi. Ajakan ini disampaikan menjelang perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu yang waktunya beririsan dengan malam takbiran menjelang Hari Raya Idul Fitri umat Islam. Momen ini menjadi penting untuk memperkuat kebersamaan dan saling menghormati di tengah masyarakat.
Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menyampaikan pesan gubernur. Beliau menegaskan bahwa masyarakat NTB telah lama hidup dalam tradisi toleransi yang kuat. Mereka saling menghargai pelaksanaan ajaran serta ritual agama masing-masing.
“Di NTB kita sudah sangat terbiasa hidup dalam kebersamaan. Toleransi bukan sekadar slogan, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari,” ujar Ahsanul Khalik di Mataram. Karena itu, momentum beririsan antara Nyepi dan Idul Fitri ini justru harus menjadi contoh bagaimana masyarakat menjaga harmoni dan saling menghormati.
NTB: Tradisi Toleransi yang Mengakar Kuat
Nusa Tenggara Barat telah lama dikenal sebagai wilayah dengan tradisi toleransi yang mengakar kuat di tengah masyarakatnya. Kebersamaan antarumat beragama bukan hanya sekadar wacana, melainkan telah terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. Hal ini dibuktikan dengan berbagai peristiwa keagamaan yang selalu berjalan harmonis.
Gubernur Iqbal menilai bahwa masyarakat NTB telah menunjukkan kedewasaan dalam kehidupan beragama. Mereka saling memberi ruang bagi pelaksanaan ibadah masing-masing tanpa prasangka. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga bagi keberlangsungan kerukunan.
Umat Islam di NTB memberikan ruang kepada umat Hindu untuk melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi. Rangkaian tersebut diawali dengan pawai ogoh-ogoh dan dilanjutkan dengan Catur Brata Penyepian. Sebaliknya, umat Hindu juga memberikan penghormatan terhadap pelaksanaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri yang menjadi bagian dari perayaan umat Islam.
Pawai Ogoh-ogoh dan Takbiran Tetap Berjalan dengan Koordinasi
Gubernur Iqbal, melalui Juru Bicara Pemprov NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan tidak ada larangan untuk Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka Hari Raya Nyepi. Demikian pula dengan Pawai Takbiran dalam rangka menyambut Idul Fitri 1447 Hijriah. Seluruh kegiatan tersebut tetap dilaksanakan sebagaimana biasa.
Pelaksanaan pawai tetap memperhatikan ketertiban serta kesepahaman bersama antarpihak terkait. Di Kota Mataram, pemerintah kota telah berkoordinasi intensif dengan tokoh agama Hindu dan Islam. Panitia pawai ogoh-ogoh, panitia takbiran, FKUB, serta aparat keamanan juga terlibat dalam pertemuan tersebut. Koordinasi ini bertujuan memastikan kedua kegiatan berjalan dengan baik dan lancar.
Beberapa kesepakatan penting telah dicapai dari koordinasi tersebut. Kesepakatan meliputi tata tertib pelaksanaan kegiatan, jumlah peserta termasuk pembatasan peserta dari luar daerah, pengaturan rute kegiatan, ketepatan waktu pelaksanaan, serta pengawalan oleh aparat keamanan. Pengawalan juga dilakukan oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa sejak peserta mulai bergerak dari lingkungan masing-masing hingga kegiatan selesai.
Koordinasi serupa juga dilakukan di sejumlah daerah lain di NTB. Ini termasuk di Lingsar dan Narmada di Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa, serta beberapa kawasan lainnya yang juga melaksanakan kegiatan serupa. Hal ini menunjukkan komitmen menyeluruh pemerintah daerah dalam menjaga harmoni.
Kedewasaan Beragama dan Saling Menghormati
Masyarakat NTB secara konsisten menunjukkan kedewasaan beragama yang patut dicontoh. Mereka mampu menciptakan lingkungan di mana setiap pemeluk agama dapat menjalankan ibadahnya dengan tenang dan damai. Ini adalah cerminan dari pemahaman mendalam tentang nilai-nilai toleransi.
Saling memberi ruang dan menghormati praktik keagamaan masing-masing telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial di NTB. Umat Islam memberikan dukungan penuh kepada umat Hindu dalam melaksanakan rangkaian Hari Raya Nyepi, termasuk pawai ogoh-ogoh dan Catur Brata Penyepian. Sikap ini menunjukkan penghargaan terhadap keyakinan lain.
Di sisi lain, umat Hindu juga menunjukkan penghormatan yang sama terhadap pelaksanaan malam takbiran dan Shalat Idul Fitri. Ini adalah bagian tak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri umat Islam. “Kehidupan masyarakat NTB yang saling menghormati pelaksanaan ibadah masing-masing agama ini merupakan kekuatan sosial yang harus terus kita jaga,” kata Ahsanul Khalik.
Peran Penting Seluruh Elemen Masyarakat dan Dukungan Keamanan
Gubernur Iqbal juga mengimbau agar seluruh elemen masyarakat turut menjaga suasana kondusif. Hal ini penting demi kelancaran berlangsungnya rangkaian perayaan keagamaan tersebut. Peran aktif dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menciptakan kedamaian.
Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, aparat desa dan kelurahan, serta kepala lingkungan dinilai sangat penting. Mereka memiliki pengaruh besar dalam menjaga suasana yang teduh dan damai di tengah masyarakat. Generasi muda juga diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kebersamaan. Tujuannya agar setiap kegiatan keagamaan berlangsung dengan aman dan tertib.
Pemprov NTB terus melakukan komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota. Ini dilakukan guna memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar. Dukungan pengamanan disiapkan oleh Polri dengan dukungan TNI serta pemerintah daerah. Mereka mengantisipasi berbagai potensi gangguan serta memastikan seluruh kegiatan berlangsung aman dan tertib. Gubernur bahkan dijadwalkan menghadiri pelepasan Pawai Ogoh-ogoh umat Hindu di Kota Mataram sebagai bentuk dukungan.
“Kita ingin menunjukkan kepada seluruh Indonesia, masyarakat NTB hidup dalam kebersamaan, saling menghargai, dan saling menjaga satu sama lain. Tidak ada ajaran agama yang mengajarkan konflik karena perbedaan,” ujar Ahsanul Khalik. Pemprov NTB berharap momentum beririsan antara Nyepi dan Idul Fitri ini justru semakin memperkuat nilai toleransi dan kebersamaan masyarakat NTB. Ini juga diharapkan menjadi contoh kehidupan beragama yang harmonis bagi daerah lain di Indonesia.
Sumber: AntaraNews