BI Bali dan TPID Prioritaskan Pasar Murah untuk Tekan Inflasi Jelang Nyepi dan Idul Fitri
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar mengutamakan pasar murah sebagai strategi utama untuk menekan inflasi dalam jangka pendek, khususnya menjelang Nyepi dan Idul Fitri.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar secara aktif mengimplementasikan pasar murah. Inisiatif ini menjadi prioritas utama guna menekan laju inflasi dalam jangka pendek. Upaya ini difokuskan menjelang periode penting seperti Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri yang biasanya memicu kenaikan harga.
Deputi Kepala Perwakilan BI Bali, Ronald D. Parluhutan, menyatakan apresiasinya terhadap komitmen kepala daerah. Komitmen tersebut dinilai penting dalam memperkuat pengendalian inflasi melalui TPID Kota Denpasar. Selain pasar murah, strategi lain yang ditempuh meliputi kerja sama ekonomi antar kabupaten/kota di Bali dan provinsi lainnya.
Sosialisasi publik juga menjadi bagian integral dari upaya jangka pendek ini untuk menjaga stabilitas harga. Untuk jangka panjang, fokus pengendalian inflasi diarahkan pada penguatan ketahanan pasokan dan koordinasi kebijakan yang berkelanjutan. BI Bali optimistis intervensi ini dapat mencapai target rentang inflasi 1,5 hingga 3,5 persen pada tahun 2026.
Strategi Jangka Pendek Pengendalian Inflasi
Dalam menghadapi potensi kenaikan harga menjelang hari raya, BI Bali dan TPID Kota Denpasar mengedepankan beberapa langkah konkret. Pasar murah menjadi ujung tombak untuk memastikan ketersediaan pasokan dan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Langkah ini bertujuan langsung untuk meredam tekanan inflasi yang sering terjadi pada momen-momen tersebut.
Selain pasar murah, sinergi melalui kerja sama ekonomi antarwilayah juga diperkuat. Kolaborasi ini melibatkan kabupaten/kota di Bali serta provinsi lain untuk menjamin kelancaran distribusi komoditas. Pendekatan ini diharapkan dapat mengatasi kendala pasokan dari berbagai daerah.
Sosialisasi publik berperan penting dalam mengedukasi masyarakat mengenai kondisi pasar dan pentingnya berbelanja bijak. Informasi yang akurat dan transparan diharapkan dapat mencegah kepanikan pembelian yang berlebihan. Hal ini pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga di pasaran.
Ketahanan Pasokan dan Tantangan Global
Upaya menjaga stabilitas pasokan bahan pokok menjadi fokus utama dalam strategi pengendalian inflasi. Perum Bulog Bali turut berpartisipasi aktif dalam operasi pasar dan gerakan pangan murah bersama TPID. Ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan dan harga yang stabil bagi komoditas pangan esensial.
Stok beras Bulog di Bali saat ini mencapai 15.000 ton, yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 2,5 bulan pada kondisi normal. Angka ini didasarkan pada asumsi penjualan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) serta bantuan pangan bulanan sekitar 6.000 ton di Bali.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyoroti tantangan ketersediaan bahan makanan yang belum sepenuhnya stabil akibat cuaca ekstrem. Selain itu, BPS juga menekankan perlunya antisipasi peningkatan permintaan menjelang Nyepi dan Idul Fitri. Perekonomian global juga menghadapi dinamika seperti konflik di Timur Tengah.
Konflik tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia, yang dapat berdampak pada biaya transportasi dan komoditas lainnya. Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, mengakui bahwa situasi global ini berpotensi memengaruhi harga BBM dan subsidi pemerintah. Namun, ia optimistis bahwa koordinasi lintas instansi dan program strategis daerah dapat menekan potensi inflasi.
Sumber: AntaraNews