Kaget! 12 Karung Sampah Terkumpul dalam 2 Jam, Rumah Bakau Gelar Aksi Grebek Sampah di Teluk Yotefa
Komunitas Rumah Bakau bersama mahasiswa berhasil mengumpulkan 12 karung sampah dalam dua jam pada Aksi Grebek Sampah di TWA Teluk Yotefa, Jayapura. Kondisi ini memprihatinkan, menyerukan kesadaran lingkungan.
Komunitas Rumah Bakau Jayapura bersama sejumlah elemen masyarakat kembali menginisiasi Aksi Grebek Sampah di kawasan hutan bakau Taman Wisata Alam (TWA) Teluk Yotefa, Kota Jayapura, Papua. Kegiatan ini bertujuan untuk membersihkan area konservasi vital yang menjadi habitat biota laut dan benteng alami pesisir.
Dalam waktu hanya dua jam, tim gabungan yang terdiri dari mahasiswa dan pegiat lingkungan berhasil mengumpulkan 12 karung sampah. Aksi bersih-bersih ini menunjukkan betapa mendominasinya sampah di salah satu paru-paru kota Jayapura tersebut.
Ketua Rumah Bakau Jayapura, Rahmatullah, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin bulanan yang sempat tertunda. Kini, mereka kembali untuk meninjau dampak dan kondisi terkini hutan bakau yang sangat penting bagi ekosistem.
Upaya Kolaboratif Membersihkan Teluk Yotefa
Aksi Grebek Sampah ini dilaksanakan pada Sabtu (20/9) dan melibatkan berbagai pihak. Di antaranya adalah Universitas Muhammadiyah Papua, mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen), siswa on the job training United Tractors Jayapura, serta pegiat lingkungan dan komunitas motor di Kota Jayapura.
Rahmatullah menjelaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Mereka bersama-sama menyisir area hutan bakau yang rentan terhadap penumpukan sampah.
Hasil dari Aksi Grebek Sampah ini cukup mengejutkan, dengan 12 karung sampah berhasil diangkut dalam waktu singkat. Mayoritas sampah yang ditemukan adalah botol plastik dan berbagai jenis limbah rumah tangga.
Kondisi Hutan Bakau dan Dampak Jeda Aksi
Sebelumnya, Aksi Grebek Sampah sempat dihentikan sementara oleh Rumah Bakau Jayapura untuk mengevaluasi dampak dari kegiatan bulanan tersebut. Rahmatullah berharap jeda ini dapat memberikan kesempatan bagi alam untuk pulih.
"Ketika kemarin melakukan aksi kembali kami melihat ada proses pertumbuhan yang baik seperti akar mulai kokoh dan daun mulai lebat," ujar Rahmatullah. Namun, ia juga menambahkan bahwa "sampah tetap mendominasi dan itu sangat memprihatinkan."
TWA Teluk Yotefa adalah kawasan konservasi penting yang didominasi hutan mangrove. Ekosistem ini berfungsi sebagai habitat vital bagi berbagai biota laut dan juga berperan sebagai benteng alami bagi pesisir Kota Jayapura dari abrasi dan gelombang pasang.
Kondisi sampah yang masih banyak ini mengindikasikan bahwa meskipun alam menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tekanan dari aktivitas manusia, khususnya pembuangan sampah sembarangan, masih sangat tinggi.
Seruan Kesadaran Lingkungan untuk Masyarakat
Fedel Itaar, seorang mahasiswa Fisip Uncen yang turut serta dalam Aksi Grebek Sampah, menyatakan kekagetannya. "Setelah kami masuk ternyata banyak sekali sampah dan merasa prihatin atas kondisi alam seperti ini," katanya, meskipun dari luar hutan terlihat hijau dan sejuk.
Rahmatullah menekankan pentingnya menjaga kelestarian TWA Teluk Yotefa. "Oleh sebab itu wajib dijaga kelestariannya dan kami berharap masyarakat Kota Jayapura dapat belajar dari kerusakan lingkungan yang terjadi sebelumnya karena itu cara alam menegur,” tegasnya.
Baik dari pihak komunitas maupun mahasiswa, harapan besar tertumpu pada kesadaran masyarakat. "Kami tidak mungkin secara terus menerus melakukan aksi tersebut namun harus ada juga kesadaran dari masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya," tambah Fedel Itaar.
Pesan ini menjadi inti dari Aksi Grebek Sampah: bahwa upaya pembersihan saja tidak cukup tanpa diiringi perubahan perilaku. Edukasi dan kesadaran kolektif adalah kunci utama untuk menjaga kelestarian lingkungan Teluk Yotefa di masa mendatang.
Sumber: AntaraNews