Kadin Jatim dan TKDV Targetkan Penguatan Vokasi Jatim Tuntas 2026
Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) bersama Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) Jatim bersinergi memantapkan program Penguatan Vokasi Jatim, menargetkan pembentukan TKDV di 38 kabupaten/kota rampung pada 2026 demi SDM unggul dan berdaya sai
Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur (Kadin Jatim) bersama Tim Koordinasi Daerah Vokasi (TKDV) Jawa Timur berkomitmen penuh dalam memantapkan penguatan program vokasi. Sinergi ini menargetkan pembentukan TKDV di seluruh 38 kabupaten/kota di Jawa Timur rampung pada tahun 2026. Langkah strategis ini bertujuan untuk menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan siap kerja.
Nurul Indah Susanti, Direktur Kadin Institute sekaligus Ketua Pokja 3 TKDV Jatim, menjelaskan bahwa arah kebijakan di tahun 2026 tidak lagi hanya sebatas sosialisasi dan pembentukan kelembagaan. Fokus utama akan beralih pada implementasi konkret dari strategi nasional (stranas) ke strategi daerah (strada) vokasi. Hal ini diharapkan mampu menciptakan "link and match" yang efektif antara dunia pendidikan dan industri.
Meskipun progres vokasi di Jawa Timur terus bergerak maju sejak 2004 hingga 2025, peningkatannya belum sepenuhnya maksimal. Oleh karena itu, tahun 2026 menjadi titik krusial untuk memastikan strategi daerah vokasi benar-benar berjalan melalui kerja sama tiga pokja yang telah dibentuk.
Target Ambisius untuk Penguatan Vokasi Jatim
Kadin Jatim dan TKDV Jatim menetapkan target ambisius untuk menuntaskan pembentukan TKDV di seluruh 38 kabupaten/kota pada tahun 2026. Hingga tahun 2025, sebanyak 22 daerah atau sekitar 60 persen telah berhasil membentuk TKDV. Namun, masih ada 16 kabupaten/kota, termasuk wilayah Madura, Kota Surabaya, Kota Malang, dan Kota Blitar, yang masih dalam proses pembentukan.
Nurul Indah Susanti menegaskan bahwa tahun 2026 akan menjadi fokus implementasi nyata strada melalui tiga kelompok kerja (pokja). Tujuan utamanya adalah agar program link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri dapat berjalan secara optimal. Pada tahap awal, 60 industri telah terlibat dalam program ini, dengan 16 di antaranya menerima pendampingan intensif melalui konsultan vokasi dan skema in-company training berbasis master trainer.
Sinergi Tiga Pokja dalam Implementasi Strategi Daerah
Penguatan ekosistem vokasi di Jawa Timur dilakukan melalui sinergi tiga pokja yang memiliki peran masing-masing. Pokja 1, yang berfokus pada bidang pendidikan, mendorong kolaborasi antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Ini mencakup program industri mengajar, kesempatan guru magang di industri, serta penyelarasan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Dari total 2.174 SMK di Jawa Timur, baru sekitar 20 persen yang terlibat aktif dalam kerja sama vokasi, menunjukkan masih adanya potensi besar yang perlu digarap. Sementara itu, Pokja 2 (bidang pelatihan) berkoordinasi dengan sekitar 1.750 lembaga pelatihan yang tergabung dalam Himpunan Lembaga Pelatihan Seluruh Indonesia (HILSI) dan Forum Lembaga Pelatihan Vokasi (Forlat). Koordinasi ini juga melibatkan unsur Himpunan Mahasiswa Sumber Daya Manusia (HMSDM) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO).
Dari sisi sertifikasi, Pokja 3 mengonsolidasikan sekitar 360–370 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) agar terintegrasi dengan kebutuhan industri, sekolah, politeknik, dan universitas vokasi. Saat ini, tersedia 38 master trainer dan sekitar 700 workplace trainer, namun jumlah ini dinilai masih perlu ditingkatkan untuk memperkuat kualitas pemagangan.
Penguatan Vokasi Jatim sebagai Pilar Ekonomi dan Penjawab Bonus Demografi
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur, Iwan, yang mewakili Ketua TKDV Jatim, menjelaskan bahwa penguatan vokasi merupakan strategi vital pembangunan sumber daya manusia (SDM) berbasis kebutuhan industri. Kebijakan ini selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 yang menekankan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan vokasi agar sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Secara ekonomi, langkah ini sangat krusial mengingat Berita Resmi Statistik 2025 mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur mencapai Rp3.403,17 triliun dengan pertumbuhan 5,85 persen pada April 2025. Kontribusi Jawa Timur terhadap perekonomian nasional mencapai 14,22 persen. Struktur ekonomi didominasi oleh industri pengolahan sebesar 31,32 persen, disusul perdagangan 18,55 persen, dan pertanian 10,74 persen.
Struktur ekonomi yang demikian membutuhkan tenaga kerja kompeten sangat tinggi, menjadikan vokasi sebagai instrumen strategis untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan menekan angka kemiskinan. Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, mengingatkan bahwa Jawa Timur dengan jumlah penduduk 42,09 juta jiwa sedang memasuki momentum bonus demografi. Data Sakernas Agustus 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 3,61 persen, namun pengangguran lulusan SMK masih tertinggi, yakni 6,78 persen.
Jika tidak diiringi peningkatan kualitas SDM, bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban demografi akibat meningkatnya angka pengangguran dan rendahnya produktivitas. Oleh sebab itu, penguatan kompetensi melalui pelatihan berbasis industri dan sertifikasi profesi menjadi kunci agar tenaga kerja Jawa Timur mampu terserap secara optimal di pasar kerja.
Sumber: AntaraNews