Ini Alasan Pemkab Cabut Status KLB Keracunan Massal MBG di Bandung Barat
Pada peristiwa ini, lebih dari 1.300 siswa terccatat sebagai korban.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat, resmi mencabut status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait fenomena keracunan massal diduga karena sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Sabtu (27/9). Pada peristiwa ini, lebih dari 1.300 siswa terccatat sebagai korban.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, menjelaskan, pencabutan status KLB dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah hal. Khususnya, angka kesembuhan pasien yang terus meningkat dan tidak terjadinya kasus baru.
“Berdasarkan analisis epidemiologi, penghentian distribusi makanan dari dapur yang diduga bermasalah, langkah penanggulangan yang sudah dilakukan, angka kesembuhan pasien, serta tidak ditemukannya kasus baru, maka status KLB atau kejadian luar biasa resmi kami hentikan,” kata Jeje, Sabtu (27/9).
Gelombang Keracunan Massal di Bandung Barat
Seperti diketahui, peristiwa keracunan massal di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terjadi dengan 2 gelombang, yakni pada Senin (22/9) dan Rabu (24/9).
Pada gelombang pertama, fenomena keracunan massal awalnya dialami oleh sejumlah siswa SMK Pembangunan di Cipongkor, Bandung Barat pada Senin (22/9) siang. Mereka mengalami sejumlah gejala mulai pusing, demam, mual, muntah-muntah, sakit perut, sesak napas, hingga kejang-kejang diduga usai menyantap sajian MBG yang didistribusikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berlokasi Kampung Cipari, Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor, KBB.
Siswa-siswa dari sekolah lainnya kemudian menyusul bertumbangan di Cipongkor mulai jenjang PAUD sampai SMA sederajat diduga usai menyantap MBG dari dapur yang sama. Hingga esok harinya, yakni Selasa (23/9), korban masih terus bertambah hingga sedikitnya tercatat sebanyak 393 siswa. Mereka dievakuasi untuk segara mendapat penanganan medis, di antara di Posko Kecamatan Cipongkor dan RSUD Cililin.
Adapun pada gelombang kedua fenomena keracunan diawali dengan gejala yang dirasakan oleh sejumlah siswa di SMK Karya Perjuangan pada Rabu (24/9) pagi. Mereka mengalami mual, pusing, dan gejala lainnya diduga usai menyantap MBG dari dapur SPPG Neglasari di Kecamatan Cipongkor. Kejadian itu disusul oleh berjatuhannya siswa sekolah lain di Cipongkor, diduga usai menyantap MBG dari dapur yang sama.
Pada hari tersebut, di Kecamatan Cihampelas, KBB, juga terjadi kasus serupa. Siswa-siswa di beberapa sekolah mengalami sejumlah gejala keracunan diduga usai mengkonsumsi MBG yang dipasok dapur SPPG di Desa Mekarmukti, Cihampelas, KBB.
Hingga esok harinya atau Kamis (25/9), jumlah korban terus bertambah. Korban yang tercatat di Cipongkor sedikitnya mencapai 730 siswa, sedangkan di Cihampelas 192 siswa.
Dengan begitu, apabila diakumulasikan, jumlah total korban keracunan massal MBG sejak Senin (22/9) hingga Kamis (25/9) mencapai 1315 orang. Dari jumlah tersebut, Bupati Jeje bilang tinggal 74 siswa yang hingga saat ini masih dirawat, sedangkan sisanya dinyatakan telah dapat kembali ke rumah.
“Jumlah kasus 1.315 orang, pasien sudah pulang atau sembuh 1.241 orang yang masih dirawat 74 orang. Alhamdulillah kondisi pasien yang masih dirawat menunjukkan progres kesembuhan yang baik,” kata dia.
“Fokus kami saat ini yaitu memastikan seluruh pasien pulih, sehat dan segera bisa kembali ke rumah masing-masing,” imbuhnya.
Evaluasi Dapur MBG
Ia menegaskan, Pemkab Bandung Barat terus berkoordinasi dengan jajaran tenaga medis serta pihak lain yang terkait guna memastikan penanganan berjalan optimal, serta kebutuhan pasien dapat terpenuhi dengan baik.
“Saya juga ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh tenaga medis, relawan, TNI, Polri, serta semua pihak yang sejak hari Senin hingga hari ini terus bekerja dan bertugas di lapangan,” ujar dia.
Adapun terkait tiga dapur SPPG yang diduga bermasalah, yaitu Cipari Cipongkor, SPPG Neglasari Cipongkor, serta Mekarmukti Cihampelas, Jeje mengatakan hingga saat ini masih ditutup. Penutupan sementara dilakukan sehubung proses investigasi yang masih berlangsung.
“Saat ini ketiga dapur tersebut masih ditutup sementara untuk kepentingan investigasi. Pemerintah daerah juga mendorong dan berkoordinasi dengan BGN agar ketiga SPPG ini dilakukan evaluasi menyeluruh,” kata dia.
Status KLB
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat (KBB), menetapkan status Keadaan Luar Biasa (KLB) pada Selasa (22/9). Ini menyusul terjadinya fenomena keracunan massal yang dialami ratusan siswa diduga usai mengkonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor, KBB, pada Senin (22/9).
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, menyebut penetapan status KLB dilakukan seiring proses penanganan korban dan investigasi berlangsung. Dengan begitu, diharapkan proses tersebut dapat berjalan cepat dan menyeluruh.
“Fokus utama dari kita adalah penanganan untuk para korban. Jadi sekarang juga kita sudah menetapkannya sebagai statusnya KLB, kejadian luar biasa, supaya penanganannya lebih cepat dan juga lebih menyeluruh seperti itu,” kata Jeje, di Kantor Kecamatan Cipongkor, Selasa (23/9).