Ini Alasan Kita Benci Koruptor
Publik sepakat bahwa korupsi menjadi musuh bersama. Korupsi merusak tatanan bangsa.
Publik sepakat bahwa korupsi menjadi musuh bersama. Korupsi merusak tatanan bangsa. Apapun alasannya, praktik korupsi tidak boleh dibiarkan. Kerugian negara akibat ulah para koruptor ini juga tidak main-main. Angkanya besar.
Anggaran yang seharusnya diperuntukkan untuk kesejahteraan masyarakat, untuk kemajuan bangsa, namun malah dicuri.
Sebagai contoh, skandal mega korupsi minyak mentah yang terjadi di Pertamina Patra Niaga. Kasus ini berhasil dibongkar Kejaksaan Agung. Taksiran nilai kerugian negara dari kasus ini nyaris Rp1.000 triliun. Ini baru satu kasus, belum yang lain.
"Rp190 Triliun itu satu tahun, ini pelaksanaannya 5 tahun, dari tahun 2018-2023. Jadi silakan saja hitung berapa (kerugian negara)?" kata Jaksa Agung di Magelang.
Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan untuk perang melawan para koruptor. Tidak ada kompromi.
Pegiat antikorupsi, Iskandar Sitorus mengaku membenci perbuatan para koruptor yang disebutnya telah merampok uang rakyat.
"Kalau disebut benci korupsi ya, karena yang dirampok uang kita," kata Iskandar kepada merdeka.com, Jumat (13/6).
Sekretaris Indonesian Audit Watch (IAW) itu menuturkan, akan menjadi aneh jika ada masyarakat yang tidak membeci para koruptor. Apalagi, yang mereka ambil merupakan hak atau uang rakyat.
"Jadi agak aneh jika ada rakyat yang tidak membenci perampok itu sebab yang dirampok uang kita bersama, kita takut jika ada yang tidak benci," ujarnya.
"Dan atau malah membantu atau bersorak-sorai untuk kegiatan para perampok itu mungkin ada gangguan kejiwaan dalam bernegara," sambungnya.
Secara terpisah, salah seorang warga bernama Haecal mengatakan, masyarakat wajib untuk membenci koruptor. Hal ini agar bisa ikut membantu menurunkan angka korupsi.
"Wajib kita benci, karena sebagai contoh yang ingin jadi koruptor itu agar terulang atau menurunkan angka korupsi di sini," ujar Haecal.
Dia menilai, kejahatan yang dilakukan para koruptor tersebut nantinya akan bisa berdampak kepada masyarakat.
"Mirisnya ini berdampak ke rakyat kecil dimana nantinya pemungutan pajak lagi yang ada untuk nutupin hutang atau dibilang efisiensi," pungkasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengatakan Indonesia merupakan negara yang kaya, namun masih ada kekurangan dan tantangan. Prabowo mengungkapkan kekurangan Indonesia yakni, masih banyaknya korupsi dan penyelewengan di pemerintahan.
"Kekurangan kita terutama menurut pendapat saya adalah sikap mental para elite bangsa, terutama mereka-mereka yang pegang jabatan-jabatan penting sebagai wakil rakyat, sebagai utusan rakyat dan sebagai mandateris rakyat," jelas Prabowo saat upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, Senin (2/6).
"Saya sebagai Presiden RI melihat masih terlalu banyak penyelewengan, masih terlalu banyak korupsi, masih terlalu banyak manipulasi," sambungnya.
Ajak Perbaiki Diri dan Sistem
Dia pun mengajak seluruh pihak yang mendapat mandat dari masyarakat untuk memperbaiki diri dan sistem. Prabowo menegaskan komitmennya untuk menegakkan aturan undang-undang dasar (UUD) 1945.
"Saya pada kesempatan ini ingin menyampaikan justru di hari besar ini saya sebagai mandataris rakyat saya telah disumpah di hadapan rakyat untuk menegakkan UUD dan insya Allah saya akan melaksanakan sumpah tersebut dengan tidak ragu-ragu," ujarnya.
Prabowo juga memperingatkan semua pihak untuk tidak mempermainkan, membohongi, dan menipu Indonesia. Dia menegaskan akan menyingkirkan pihak-pihak yang tak setia terhadap negara dan melanggar UUD.
"Mereka-mereka yang tidak setia kepada negara akan kita singkirkan dengan tidak ragu ragu, tanpa memandang bulu, tanpa melihat keluarga siapa, partai mana, suku mana. Yang tidak setia kepada negara, yang melanggar undang-undang, yang melanggar undang undang dasar, akan kita tindak," tutur Prabowo.