Industri Asuransi Indonesia Diprediksi Tumbuh Berkelanjutan, Siap Hadapi Dinamika Global
Ekonom UI dan Ketua Umum DAI memprediksi Industri Asuransi Indonesia akan terus tumbuh berkelanjutan, didorong pemulihan ekonomi dan inovasi produk, siap hadapi dinamika.
Industri asuransi di Indonesia diprediksi akan menunjukkan pertumbuhan yang berkelanjutan dan ketahanan yang kuat. Prediksi ini datang dari para pakar ekonomi dan pelaku industri. Mereka melihat potensi besar di tengah dinamika ekonomi global.
Profesor Telisa Aulia Falianty dari Universitas Indonesia menyoroti penetrasi asuransi yang masih rendah. Hal ini menunjukkan ruang ekspansi yang sangat luas bagi sektor ini. Pemulihan ekonomi tahun 2026 menjadi momentum krusial.
Para pemangku kepentingan menekankan pentingnya sinergi untuk memperkuat fondasi industri. Inovasi produk dan perluasan akses akan menjadi kunci utama. Ini bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan dan kontribusi terhadap ekonomi nasional.
Proyeksi Pertumbuhan dan Faktor Pendorong Industri Asuransi
Ekonom dari Universitas Indonesia, Prof. Dr. Telisa Aulia Falianty, S.E., M.E., menegaskan bahwa industri asuransi di Indonesia akan terus tumbuh secara berkelanjutan. Sektor ini dinilai mampu bertahan di tengah berbagai dinamika. "Dengan penetrasi asuransi yang masih di bawah 3 persen dalam satu dekade terakhir, ruang ekspansi industri masih sangat besar," kata Telisa.
Telisa memproyeksikan industri asuransi akan memasuki fase pertumbuhan baru pada tahun 2026. Hal ini seiring dengan membaiknya indikator ekonomi nasional. Peningkatan konsumsi rumah tangga, daya beli kelas menengah, serta ekspektasi penurunan suku bunga global menjadi pendorong utama.
Ketika ketidakpastian ekonomi mereda, permintaan terhadap produk proteksi cenderung meningkat. Masyarakat mulai memikirkan kembali mitigasi risiko jangka panjang. Ini menciptakan peluang besar bagi pertumbuhan industri asuransi.
Sinergi, Inovasi, dan Transformasi Digital Kunci Keberlanjutan
Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Yulius Bhayangkara, menekankan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kolaborasi ini diperlukan untuk memperkuat fondasi industri asuransi. "Kolaborasi antara regulator, pelaku industri, dan asosiasi menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap sektor ini," ujar Yulius.
Yulius menyoroti bahwa inovasi produk, peningkatan literasi keuangan, dan transformasi digital akan menjadi motor utama. Ini bertujuan untuk memperluas penetrasi asuransi di Indonesia. Upaya ini juga akan memperkuat kontribusi sektor ini terhadap pembangunan berkelanjutan dan ketahanan ekonomi nasional.
Sebagai contoh tren positif ini, Country Manager Zurich Indonesia, Edhi Tjahja Negara, menyoroti peningkatan minat pada asuransi perjalanan. PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk (ZAI) mencatat kenaikan jumlah polis hingga lebih dari 40 persen melalui platform digitalnya. Ini menunjukkan respons positif masyarakat terhadap produk asuransi.
Peningkatan Minat Asuransi Perjalanan dan Syariah
Edhi Tjahja Negara menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah polis asuransi perjalanan melalui platform digital proteksi zurich.co.id mencapai lebih dari 40 persen hingga Oktober 2025. Peningkatan ini seiring dengan meningkatnya volume perjalanan domestik dan internasional. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perlindungan saat bepergian.
Selain itu, asuransi perjalanan syariah melalui Zurich Syariah juga mencatatkan pertumbuhan signifikan. Pendapatan Premi Bruto (GWP) mencapai 21 persen hingga Oktober 2025. Dominasi perjalanan ibadah umroh menjadi faktor pendorong utama.
Jumlah polis untuk perjalanan ibadah umroh mengalami peningkatan lebih dari 100 persen. Ini menunjukkan segmen pasar yang kuat dan potensi besar bagi produk asuransi syariah. Tren ini mendukung optimisme terhadap pertumbuhan berkelanjutan industri asuransi di Indonesia.
Sumber: AntaraNews